Keluarga dan Sampah – Timor Express

Timor Express

OPINI

Keluarga dan Sampah

 

 

Oleh: Elkana Goro Leba, S. Sos., MPA

Anggota KAGAMA NTT

 

Masyarakat kota adalah masyarakat yang paling banyak menghasilkan sampah. Baik sampah rumah tangga, maupun sampah industri. Maka tidak heran, semakin maju kota dan padat penduduknya, semakin banyak pula sampah yang dihasilkan. Sebab selama manusia hidup, selama itu juga manusia menghasilkan sampah setiap hari. Hampir 80 persen dari aktivitas manusia setiap hari, pasti menimbulkan sampah. Contoh sederhana, jumlah penduduk Kota Kupang sekitar 390 ribu jiwa, kalau setengah saja dari jumlah itu menghasilkan paling sedikit tiga sampah plastik rumah tangga setiap harinya, maka paling sedikit, ada sekitar 585 ribu sampah plastik per hari. Bisa dibayangkan kalau di kali 30 hari. Tidak semua sampah itu dibuang pada tempatnya. Sekalipun dibuang pada tempatnya, kendala berikutnya terletak pada keterbatasan pengangkutan sampah yang tidak seimbang dengan sampah yang dihasilkan. Karena mobil sampah hanya angkut sekali dalam sehari, sedangkan masyarakat menghasilkan sampah setiap jam. Inilah yang menjadi salah satu masalah dalam penanganan sampah, bila persoalan sampah itu hanya dilemparkan kepada pemerintah.

Kebijakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) tentang plastik berbayar, adalah salah satu upaya untuk mengurangi penggunaan sampah plastik di toko-toko dan supermarket. Sebab dengan adanya kebijakan itu, dapat mendorong masyarakat, agar menyiapkan keranjang dari rumah ketika berbelanja, sehingga meminimalisir penggunaan sampah plastik. Namun, kebijakan ini dinilai belum berhasil karena harga plastik berbayar terlalu murah yaitu sekitaran Rp. 200-500 perak saja.

Menurut Gubernur NTT, Kota Kupang dan Kota Labuan Bajo adalah kota terkotor di NTT. Ini ada hubungannya dengan kondisi kedua kota ini sebagai pusat ekonomi dan pemerintahan. Oleh karena itu, ketika musim hujan datang, banjir dan genangan air serta sampah di jalanan Kota Kupang, selalu menjadi momok bagi para pengguna jalan. Sehingga hujan yang seharusnya menjadi berkat di akhir tahun, bisa menjadi bencana banjir, sebab  sampah menyumbat saluran air di selokan atau drainase, bahkan sampah-sampah itu tumpah ruah di badan jalan. Maka dari itu, ajakan gubernur NTT agar jangan membuang sampah sembarangan merupakan hal yang wajib kita aksikan bersama.

Penanganan Sampah, Tanggung Jawab Kita Semua

“Buanglah sampah pada tempatnya”. Kalimat sederhana, tetapi penuh makna. Namun banyak orang yang menganggap kata-kata itu kurang relevan, sebab disuruh “buang sampah pada tempatnya, tetapi tempat sampah tidak disediakan”. Akibatnya banyak orang yang berpikir bahwa, sampah dibuang saja di sembarang tempat, toh nanti ada yang bersihkan juga. Begitu kata mereka yang melemparkan tanggungjawab penanganan sampah hanya kepada pemerintah saja. Sehingga, tidak jarang kita melihat orang membuang sampah lewat jendela mobil atau dari atas motor. Yang paling miris lagi, pakai mobil mewah, tetapi membuang sampah lewat jendela. Itu artinya, mentalnya tidak seelit mobilnya. Dengan tanpa beban, mereka lemparkan botol/gelas bekas minuman, plastik cemilan dan sebagainya melalui jendela mobil, dari atas motor, termasuk dari dalam angkot (bemo/bus) ke pinggir jalan atau selokan/drainase. Padahal, selain merusak lingkungan, membuang sampah botol plastik di jalan, dapat menimbulkan kecelakaan bagi pengendara lain. Namun, banyak orang tidak menyadari akan hal itu. Kebiasaan buruk yang kecil, tetapi berdampak besar bagi lingkungan kita. Padahal, seyogiyanya, persoalan sampah adalah tanggung jawab kita bersama. Tanggungjawab itu dimulai dari hal-hal kecil seperti kulit permen, bungkus cemilan, botol/gelas bekas minuman dan sampah plastik lainnya dimasukkan ke dalam tas, atau disimpan dalam mobil dulu, sampai bertemu tempat sampah baru membuangnya.

Meskipun demikian, pemerintah perlu menyediakan tempat sampah yang cukup, kemudian diikuti dengan kesadaran masyarakat agar membuang sampah pada tempat yang disediakan. Sebab, sekalipun pemerintah menyediakan tempat sampah, tetapi masyarakat tidak punya kesadaran untuk tertib dalam membuang sampah, maka tetap saja masalah sampah tidak akan selesai.

Pendidikan Sampah Harus Dimulai Dari Dalam Keluarga

Saya tersentuh melihat seorang ibu dan anaknya di suatu tempat perbelanjaan. Ketika keluar dari toko, si anak membuang kulit permen. Setelah berjalan beberapa meter, “Dimana kulit permennya nak?”. Tanya sang ibu. “Sudah dibuang”. Jawab anaknya sambil berlari mendahului ibunya menuju tempat parkir. Mendengar jawaban anaknya, dengan tidak terduga, si ibu itu menyuruh anaknya kembali guna mencari dan memungut (sampah) kulit permen yang sudah dibuang tadi, tetapi sang anak tidak mau. Namun ibunya memaksanya kembali untuk mencari dan mengambil sampah tersebut. Akhirnya, dengan wajah kurang senang, sang anak kembali dan memungut kulit permen itu. “Ingat, tidak boleh lagi buang sampah sembarangan!”, kata ibu itu dengan nada agak tinggi.

Sepenggal kisah nyata di atas, setidaknya mengajari kita bahwa, “pendidikan sampah harus dimulai dari dalam keluarga”. Kita harus menanamkan kepada anak-anak bahwa sampah tidak boleh dibuang di sembarang tempat. Selain itu, kisah lainnya datang dari atlet dan ofisial Negara Jepang, yang mana dalam perhelatan Asian Games beberapa bulan lalu, mereka memungut puntung rokok yang dibuang dan berserakan begitu saja di bawah pohon dekat arena pertandingan. Orang Jepang dikenal dengan budaya tertib, termasuk tertib membaung sampah. Agar menghasilkan kebiasaan baik itu, perlu “ditumbuh-kembangkan” kepada anak-anak sejak kecil dan itu dimulai dari dalam keluarga. Dengan demikian, kebiasaan itu akan terbawa sampai mereka beranjak dewasa. Selanjutnya mereka akan wariskan kepada anak-cucu secara turun-temurun. Maka terciptalah masyarakat yang tertib dalam membuang sampah. Hal itu, menghasilkan lingkungan yang bersih, asri dan nyaman, bebas dari bencana banjir.

Memisahkan Sampah Organik dan Anorganik

Selain Pendidikan “Jangan Membuang Sampah Sembarangan” mulai dari dalam keluarga, hal lain yang paling penting juga adalah memisahkan sampah plastik/besi (non organik) dengan yang bukan sampah plastik (organik). Sampah organik adalah sampah yang berasal dari makluk hidup dan dapat lapuk atau terurai menjadi bahan yang lebih kecil (tanah) atau sering disebut dengan Kompos. Singkatnya, sampah organik adalah sampah yang bisa lapuk. Contohnya, daun dan ranting pohon, bangkai hewan, sisa pengolahan makanan dan sejenisnya. Sementara sampah anorganik adalah kebalikan dari sampah organik. Yaitu sampah yang bukan berasal dari makluk hidup. Singkatnya, sampah anorganik adalah sampah yang tidak bisa terurai atau lapuk. Bisa terurai tetapi membutuhkan waktu ratusan tahun. Seperti sampah plastik, besi dan sejenisnya yang membutuhkan waktu lebih dari 100 tahun baru bisa terurai. Oleh sebab itu, ketika membuang sampah rumah tangga, kedua jenis sampah di atas perlu dipisahkan. Jenis sampah anorganik seperti plastik sebaiknya didaur ulang atau langsung dibakar agar lebih cepat terurai. Pengetahuan sederhana seperti ini, perlu dari dalam keluarga, diajarkan kepada anak-anak sejak kecil. Agar ketika mereka sudah dewasa, hal itu menjadi kebiasaan yang positif. (*)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!