Pengawasan Pemilu Tugas Semua Warga Negara – Timor Express

Timor Express

SUKSESI

Pengawasan Pemilu Tugas Semua Warga Negara

PARTISIPASI.Peserta diskusi dalam kegiatan sosialisasi pengawasan pemilu oleh Bawaslu NTT di Sasanto Int’l Hotel Kupang, Kamis (29/11).

CARLENS BISING/TIMEX

Bawaslu Sosialisasi Pengawasan Pemilu

KUPANG, TIMEX-Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi NTT berharap, peserta pemilu dan masyarakat berpartisipasi aktif dalam mengawasi setiap tahapan pemilu serentak nasional menuju hari pencoblosan 17 April 2019 mendatang.

“Karena pengawasan itu bukan hanya penyelenggara. Peserta pemilu dan juga masyarakat punya hak untuk mengawasi,” kata Anggota Bawaslu NTT, Jemris Fointuna dalam acara sosialisasi yang berlangsung di Sasando Internasional Hotel Kupang, Kamis (29/11).

Peserta pemilu, kata dia hanya tiga, yakni pasangan capres-cawapres, partai politik dan calon anggota DPD RI. Di NTT, lanjut dia, terdapat 16 parpol dan 36 calon DPD RI.

Dia uraikan, untuk calon DPR RI terdapat 147 orang yang terbagi di dua daerah pemilihan (dapil) untuk merebut 13 kursi. Calon DPD RI sebanyak 36 orang merebut empat kursi. Selanjutnya, 952 calon anggota DPRD provinsi di delapan dapil merebut 65 kursi.

Untuk kabupaten/kota terdapat 91 dapil dan 655 kursi yang diperebutkan oleh 8.899 calon. “Jadi caleg itu bukan peserta pemilu. Yang peserta itu parpolnya,” jelasnya.

Di sisi lain, Bawaslu sebagai lembaga yang diberi tugas pencegahan dan penindakan pelanggaran pemilu, memiliki personil sangat terbatas. Di provinsi hanya terdapat lima komisioner ditabah 70 komisioner di kabupaten/kota. Sementara di tingkat kecamatan terdapat 927 panwascam di 309 kecamatan. Dan, mereka akan bekerja mengawasi 14.871 tempat pemungutan suara. “Jadi nanti kami harus rekrut pengawas untuk di setiap TPS. Dan, kami berharap yang dipilih adalah anak-anak muda yang punya sumber daya bagus. Terutama sehat bugar,” kata Jemris.

Menurut dia, pemilu 2019 adalah pesta demokrasi terbesar dan tersulit. Hal ini harus disikapi secara baik dengan persiapan yang benar-benar matang. Terutama di kalangan penyelenggara. Harus benar-benar mereka yang siap dengan sumber daya manusia mumpuni. “Bayangkan nanti petugas kami mengawas dan saksi puluhan orang. Kalau mereka ribut semua, bagaimana dia bisa awasi. Inilah kondisinya, sehingga kami minta dukungan. Karena pengawasan pemilu ini tugas semua warga negara,” sambung dia.

Sementara Akademisi Undana Kupang, David Pandie pada kesempatan itu mengatakan, pemilu adalah proses untuk membangun demokrasi menuju yang lebih baik. Sehingga pengawasan dalam setiap tahapan, tidak boleh sekadar formalitas.

Indonesia, kata David adalah negara yang sedang berjuang untuk membangun demokrasi penuh. Namun faktanya, data indeks demokrasi Indonesia yang turun di tahun 2017 menjadi pekerjaan rumah yang berat. Pasalnya, indeks demokrasi Indonesia masih fluktuatif.

“Inilah alasan, kenapa kita harus benar-benar menjaga kualitas demokrasi kita supaya hasilnya bisa membangun pemerintahan yang kuat,” kata David. Kegiatan tersebut menghadirkan berbagai unsur masyarakat. Baik tokoh agama, akademisi, tokoh pemuda, organisasi mahasiswa dan juga pihak terkait lainnya. Tujuan dari kegiatan tersebut untuk membangun komitmen bersama dalam melakukan pengawasan terhadap setiap tahapan pemilu.(cel)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!