Timor Express

NASIONAL

Keluarga Besar KPK Hampir Putus Asa

MANGKRAK. Penyidik KPK Novel Baswedan (tengah) Aktivis HAM Suciwatin (kanan) dan Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia Usman Hamid (kiri) saat berorasi di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (1/11/2018).

Imam Husein/Jawa Pos

600 Hari Kasus Penyerangan Novel Belum Terungkap

JAKARTA, TIMEX – Keluarga besar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hampir putus asa. Hingga kemarin (2/12), kasus penyerangan penyidik senior KPK Novel Baswedan belum juga terungkap pelakunya. Masih gelap. Kemarin merupakan 600 hari usia insiden penyiraman air keras oleh orang tak dikenal tersebut.

Ketua Wadah Pegawai (WP) KPK Yudi Purnomo Harahap mengaku tak tahu lagi harus ke mana mencari keadilan untuk Novel Baswedan. Menurut dia, Presiden Joko Widodo yang menjadi harapan pamungkas pengungkapan kasus tersebut sampai detik ini belum menunjukan sikap tegas. “Presiden seakan-akan tidak memiliki kuasa apapun sebagai pemimpin negara,” ujarnya kepada Jawa Pos.

Yudi mengatakan, pihaknya sudah melakukan segala cara agar Presiden Jokowi mengambil sikap tegas. Di antaranya, mengirim surat langsung kepada presiden. Namun, upaya itu sama sekali tak mendapat respons dari presiden. “Sama sekali tidak direspons sampai hari ini, sehingga seakan-akan aspirasi rakyat tidak didengar,” sindirnya.

Menurut Yudi, keluarga besar KPK juga menyesalkan sikap orang-orang terdekat Presiden Jokowi yang justru melempar tanggung jawab ketika ditanya kasus Novel. Sikap itu menunjukkan bahwa Presiden dan jajarannya terkesan menghindar. “Padahal presiden pada awal-awal penyerangan Novel berjanji kasus ini (teror air keras, Red.) akan dituntaskan,” tuturnya.

Yudi kembali mengingatkan presiden sebagai panglima tertinggi penegakan hukum di negara ini segera memberi kepastian pembentukan tim gabungan pencari fakta (TGPF). Hal itu mengingat masa kerja efektif Jokowi sebagai presiden tinggal tersisa empat bulan. “Kami menuntut Presiden Jokowi untuk hadir dan melakukan tindakan sebagaimana selayaknya seorang Presiden,” tegasnya.

Sementara itu, Novel Baswedan yang menjadi korban penyerangan 11 April 2017 itu menambahkan dukungan negara dalam kasus ini menjadi penting untuk memperkuat perjuangan pemberantasan korupsi. Dia mencontohkan penanganan teror di sejumlah negara yang cenderung lebih cepat terungkap ketimbang di Indonesia.

Misal, penyiraman air keras yang menimpa pegiat antikorupsi Ukraina Kateryna Handzyuk. Otoritas kepolisian Ukraina telah menetapkan tersangka atas teror yang menyebabkan Kateryna meninggal dunia lima bulan setelah kejadian itu. “Di Ukraina pelaku penyerangan bisa tertangkap, itu bukti nyata pemberantasan korupsi yang didukung (negara, Red),” sindir Novel. (tyo/agm/jpg/sam)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!