Timor Express

KUPANG METRO

NTT Sudah Kirim 64.171 Ekor Sapi

ILUSTRASI: MARTEN LADO/TIMEX

Ke Jawa, Kalimantan dan Sulawesi

KUPANG, TIMEX – Di tahun 2018, Pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas Peternakan (Disnak) menargetkan pengiriman 69.950 ekor sapi. Daerah tujuannya adalah sejumlah daerah di Pulau Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.

Dani Suhadi

Dani Suhadi

Hingga akhir November 2018, ternak sapi dari NTT yang sudah diantarpulaukan sebanyak 64.171 ekor. Kepala Dinas Peternakan NTT, Dani Suhadi mengatakan ada tiga jenis ternak besar yang dikirim dari NTT, yakni sapi, kuda dan kerbau. Yang paling banyak dikirim adalah ternak sapi. Mekanisme pengirimannya diatur dalam SK Gubernur tentang penetapan jumlah pengiriman agar populasi ternak di NTT tetap terjaga.

Ia menyebutkan populasi ternak sapi di NTT sudah mencapai 1.003.000 ekor. “Untuk pasokan ke Jakarta, Kalimantan bahkan ke Sulawesi, sampai saat ini kontribusi NTT sudah 64.171 ekor,” ujar Dani kepada Timor Express di sela-sela kegiatan rapat koordinasi daerah mengenai ketersediaan pasokan dan stabilisasi harga barang kebutuhan pokok menjelang natal dan tahun baru, Jumat (30/11) di Hotel Aston Kupang.

Menurut Dani, selama ini ada enam kapal termasuk kapal tol laut yang mengantarpulaukan sapi dari NTT. Pengiriman sapi dilakukan secara kontinyu dan disesuaikan dengan lamanya pelayaran tiap-tiap kapal ke daerah tujuan. Dia juga optimis target pengiriman sapi di tahun 2018 sebanyak 69.950 ekor dapat tercapai. Alasannya permintaan pasokan akan semakin meningkat jelang perayaan natal dan tahun baru. “Kalau ada permintaan untuk pengiriman sapi, kapal tinggal muat. Kami optimis bisa capai target jumlah pengiriman, karena sekarang sudah 94 persen,” kata mantan Kadis Pertambangan dan Energi Provinsi NTT itu.

Sapi yang dikirim, lanjut Dani, adalah sapi jantan siap potong. Pihaknya tidak mengizinkan pengiriman sapi betina. Sebab sangat berisiko jika diizinkan dan pengiriman sapi betina produktif menjadi sulit dikendalikan. “Kalau diizinkan, semua orang mau kirim yang betina dengan alasan sudah afkir. Ternyata masih produktif,” terang dia.

Untuk konsumsi lokal, sebut Dani, sampai dengan saat ini yang tercatat dari sampel reguler sebanyak 41.340 ekor sapi. Dan sehubungan dengan antisipasi dalam menjaga ketersediaan pasokan sampai dengan akhir tahun, Disnak NTT sudah melakukan koordinasi sampai ke kabupaten-kabupaten.

Disebutkan, pasokan ternak sapi di daerah cukup tersedia. Sekitar 12 ribu sudah stand by di beberapa kabupaten. Pihaknya terus berkomunikasi dengan daerah untuk mempertahankan pasokan. “Apalagi masih ada lima ribu ekor lebih yang harus diantarpulaukan untuk capai target pengiriman di tahun 2018,” jelas Dani.

Ditanya soal pengawasan pengiriman ternak sapi ke luar daerah, Dani mengatakan, pihaknya selalu melakukan pengawasan secara rutin karena memang ada Satgas yang khusus menangani persoalan itu. Dan dia mengaku, masih ditemukan oknum-oknum nakal yang melakukan pengiriman ternak sapi tanpa melalui mekanisme yang benar. Seperti yang terjadi di Kabupaten Nagekeo. Ada petugas karantina yang bertindak di luar kewenangannya. “Mereka kirim ternak sapi lewat Pelabuhan Marapokot, meskipun jumlahnya tidak banyak,” katanya.

Di akhir wawancara, Dani menegaskan, rekomendasi terkait pengiriman sapi hanya dikeluarkan oleh Pemda dalam hal ini Dinas Peternakan. Sedangkan pihak Karantina Hewan hanya berwenang mengurus soal kesehatan hewan, bukan untuk pengiriman. “Dan kemarin kami sudah beritahu ke pusat, kalau masih ada oknum yang melakukan hal yang di luar kewenangannya, maka petugas kami angkut dia,” ungkap Dani.

Untuk pengiriman ternak menggunakan kapal tol laut. Sejak tahun 2015 kapal yang disiapkan yakni KM Camara Nusantara 1. Sebelumnya Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan kapal ternak merupakan inisiatif pemerintah untuk membangun perekonomian Indonesia bagian Timur.

Dengan adanya kapal ternak tersebut, diharapkan dapat memberi stimulus bagi peternak untuk meningkatkan produksinya. Dengan penjualan yang dilakukan di luar NTT atau NTB, di Jawa misalnya, maka diharapkan akan memberikan keuntungan. Sebab di Pulau Jawa harga jauh lebih tinggi dari pada di kawasan tersebut.

Budi menjelaskan hingga sekarang ini sudah ada 14 pelayaran kapal ternak yang tersedia. Setiap pelayaran ada sekitar 500 ternak yang diangkut. Jumlah tersebut akan lebih besar, sebab hingga akhir tahun akan ada lima rute pelayaran lagi.

Menhub juga mendorong pihak swasta untuk turut serta dalam penyelenggaraan kapal ternak. Harapannya dengan bantuan swasta akan memaksimalkan program kapal ternak. “Harus memanfaatkan swasta untuk potensi yang luar biasa ini, apalagi kadang-kadang kapal swasta ada kapasitas kosong saat balik. Nanti mekanismenya akan didiskusikan,” ucap Menhub. (tom/jpg/sam)

 

DATA TERNAK SAPI DI NTT

Populasi sapi: 1.003.000 ekor (2017)
– Target pengiriman tahun 2018: 69.950 ekor
– Realisasi per November 2018: 64.171 ekor
– Masih tersisa: 5.779 ekor
– Kuota pengiriman tahun 2017: 63.429 ekor
– Daerah asal ternak: Timor, Sumba, Flores

Pengangkutan:
– Menggunakan Kapal Cemara Nusantara – – Rute: Banten-Jawa Barat-Kalabahi-Kupang
– Intensitas: 2 kali dalam satu bulan
– Kapasitas: 500 ekor

Pengiriman ternak:
– Daerah tujuan: Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Bengkulu, Jawa Tengah dan Sumatera Selatan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!