Timor Express

KUPANG METRO

Dinas Kebersihan Dapat Rp 40 M

KUPANG, TIMEX – Pemerintah Kota Kupang menganggarkan Rp 40 miliar untuk Dinas Kebersihan Kota Kupang. Anggaran ini dipakai 40 persen untuk belanja pegawai dan 60 persen untuk belanja publik.

Salah satu fokus kerja Dinas Kebersihan adalah mengurangi masalah sampah di Kota Kupang.

Hal ini diungkapkan Wakil Wali Kota kupang Hermanus Man, saat diwawancarai koran ini di ruang kerjanya, Senin (3/12).

Wawali yang didampingi Kepala Dinas Kebersihan Obed Kadji,  menjelaskan, armada truk sampah yang ada di dinas sebanyak 36 truk, 5 unit motor sampah, 194 pegawai dan 253 staf Pegawai Tidak Tetap (PTT).

Dengan jumlah armada dan staf kata Hermanus, seharusnya bisa mengatasi masalah sampah di Kota Kupang. Namun sampai saat ini masalah sampah belum juga terselesaikan.

Hal ini sebagai akibat perilaku masyarakat yang membuang sampah sembarangan, tidak mematuhi semua aturan yang berlaku, dan tidak merasa memiliki Kota Kupang.

“Jika masyarakat sadar dan merasa memiliki kota ini, maka saya yakin sampah bukan lagi menjadi masalah. Perlu ada kerja bersama, antara dinas, perangkat kelurahan, RT dan RW untuk menangani sampah, kedepan juga akan dibuatkan Peraturan Daerah tentang sampah, memang Perda nya sudah ada tinggal kita kaji lagi,” kata Hermanus.

Perda yang akan dibuat, agar semua perusahaan swasta yang ada di Kota Kupang, baik itu PT, Rumah Sakit maupun restoran dan mall,  harus mengangkut sampahnya sendiri. Tidak boleh dibuang ke TPA,  karena jika ingin dibuang di TPA, maka harus membayar retribusi kepada pemerintah.

“Ini juga sebagai upaya untuk meningkatkan PAD di Kota Kupang. Jadi dinas bisa lakukan MoU dengan perusahaan swasta yang ada di Kota Kupang untuk mengangkut sampah mereka,” tuturnya.

Yang perlu dirubah kata Hermanus, adalah mental masyarakat dalam membuang sampah. Tertib waktu buang sampah yaitu sebelum pukul 06.00 pagi, agar petugas bisa mengangkutnya ke TPA.

TPA Alak sekarang, lanjut Hermanus, memproduksi 200 ton sampah per hari. Bagaimana agar sampah ini bisa mendatangkan keuntungan, yaitu dengan diolah.

Misalnya sampah plastik diubah menjadi energi listrik, sampah non plastik diubah menjadi pupuk. Tentu ini harus bekerja sama dengan pihak ketiga.

Rencana Pemkot Kupang lanjut Hermanus, adalah mencanangkan pemberhentian produksi sampah plastik pada April mendatang bersamaan dengan peringatan HUT Kota Kupang.

Selain itu, sangat diperlukan kerja sama semua lurah, RT dan RW agar mampu menggerakan warganya tertib membuang sampah. Hal ini juga sebagai salah satu bentuk penilaian kinerja lurah.

“Kami akan sediakan sarana prasarana penunjang seperti bak sampah dan lainnya, dan jika masih ada keluhan tentang sampah,  maka masyarakat yang kedapatan masih melanggar akan diberikan sanksi,” ujarnya.

Khusus di TPA menurut Wawali, para pemulung selalu menunggu untuk memilih sampah dan mengolahnya, dipilah antara sampah plastik dan non plastik.

Jadi di TPA, sampah merupakan salah satu sumber pendapatan ekonomi. Begitupun dengan di Dinas Kebersihan yang sekarang sudah mulai mengembangkan pupuk dari sampah bukan plastik, dan paving block dengan bahan dasar sampah plastik.

“Jadi kita harus berpikir sampah yang diproduksi bisa diolah dan mendatangkan keuntungan. Bagi sebagian orang, sampah merupakan sumber pendapatan,” tutupnya. (mg25/joo)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!