Timor Express

EKONOMI

Lonjakan Harga Daging Ayam Perlu Diantisipasi

IST - PANTAU HARGA. Wagub NTT Josef Nae Soi bersama Staf Ahli Mendag Bidang Hubungan Internasional, Dody Edward serta TPID Provinsi NTT memantau harga bahan pokok di Pasar Kasih Naikoten, Jumat (30/11) lalu.

KUPANG, TIMEX – Harga sejumlah komoditas atau bahan pokok di pasar tradisional di Kota Kupang jelang perayaan natal dan tahun baru 2019, mulai merangkak naik. Salah satunya diantaranya adalah daging ayam ras.

Berdasarkan hasil pemantauan Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi bersama Staf Ahli Mendag Bidang Hubungan Internasional, Dody Edward serta TPID Provinsi NTT, Jumat (30/11) lalu di Pasar Kasih Naikoten, harga daging ayam ras berada di kisaran Rp 60.000-65.000 per/kg. Sehingga tidaklah heran komoditi daging ayam mengalami deflasi sebesar 0,10 persen pada November 2018.

Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTT, Maritje Pattiwaellapea, berdasarkan hasil pantauan timnya di lapangan, harga daging ayam ras sudah menembus Rp70.000/kg. Sebelumnya, harga daging ayam masih normal yakni sekitar Rp 30.000-an per/kg.

“Kenaikan harga daging ayam ras baru terjadi pada minggu keempat bulan November. Sebelumnya harga masih normal,” kata Maritje kepada wartawan, Senin (3/12).

Maritje berharap, pemerintah daerah khususnya TPID perlu mengantisipasi gejolak kenaikan harga daging ayam ras di pasar, memasuki akhir tahun 2018. Jika tidak diantisipasi, maka harga daging ayam ras akan semakin tinggi karena permintaan konsumen akan meningkat jelang perayaan natal dan tahun baru. Dan pada akhirnya akan berdampak besar terhadap inflasi.

“Jadi perlu ada langkah ansitisipasi terhadap kenaikan harga komoditi daging ayam ras. Pasokan daging ayam ke pedagang harus dipastikan lancar agar harga bisa stabil. Kalau tidak, akan terjadi gejolak harga karena permintaan jelang natal dan tahun baru tentu semakin tinggi,” jelasnya.

Sehubungan dengan persoalan ini, Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT, Dani Suhadi mengatakan, daging ayam ras sering mengalami inflasi di akhir tahun karena para peternak senantiasa tergantung pada permintaan pasar yang selalu fluktuatif. Meski memasuki perayaan natal dan tahun baru, peternak tidak berani memasok bibit ayam ras dalam jumlah yang lebih besar karena masih memperhitungkan risiko.

“Risikonya adalah ketika persiapan mereka tinggi, tapi permintaan pasar rendah, jelas menimbulkan kerugian karena itu terkait langsung dengan persiapan pakan. Ini yang membuat mereka tidak berani,” katanya.

“Sebelum memasok bibit ayam, mereka biasanya melihat permintaan pasar satu bulan ke depan. Jadi kami bangun komunikasi dengan mereka dan sampaikan perkiraan kebutuhan daging ayam,” kata mantan Kadis Pertambangan dan Energi Provinsi NTT itu.

Lantaran peternak tidak berani beternak ayam dalam jumlah banyak, Dani mengaku, pasokan daging ayam ras ke tingkat pedagang di pasar sering kali berkurang. Akibatnya, konsumen kewalahan ditambah lagi dengan harga di tingkat pedagang juga semakin melambung.

“Jalan keluarnya, kami minta mitra pemasok bibit ayam ras dalam hal ini PT Charoen Pokphand untuk membantu menambah stok pada DOC-nya yang ada di sini. Karena yang dihasilkan oleh Charoen Pokphand sekitar 500 ribu ekor per bulan, terkadang masih kurang juga,” jelas Dani.

Selain itu, lanjut Dani, pola peternakan ayam ras yang dilakukan oleh para peternak selama ini yakni all ini out. Artinya bahwa ayam ras yang dimasukkan dalam kandang secara bersamaan, harus keluar (terjual) pada saat yang bersamaan pula.

“Kalau mereka persiapkan 100 ekor, berarti harus keluar 100 ekor juga. Tidak bisa sisakan sebagian karena ini juga berkaitan dengan margin keuntungannya,” terang dia.

Masih terkait dengan pasokan ayam ras, khususnya dalam hal distribusi dari Surabaya, menurut Dani sering kali ada kendalanya pada sisi angkutan. Terlebih pada saat-saat jelang akhir tahun.
“Ini bagian dari koordinasi kita sehubungan dengan perhubungan. Kita minta, khusus untuk angkutan bahan pokok, harus juga mendapat semacam perlakuan khusus,” ungkapnya. (tom)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!