Timor Express

EKONOMI

Neraca Dagang Masih Defisit

Istimewa - BONGKAR MUAT. Aktivitas bongkar muat peti kemas di pelabuhan.

Mendag Sebut Impor Barang Modal Turun

JAKARTA, TIMEX – Neraca perdagangan bulan Oktober mengalami defisit sebesar USD 1,82 milliar atau Rp 26 triliun (kurs Rp 13.000 per USD). Terdiri dari defisit neraca perdagangan nonmigas sebesar USD 393,2 juta atau Rp 5,6 triliun dan defisit neraca perdagangan migas sebesar USD 1,43 milliar atau Rp 20,4 triliun.

“Neraca perdagangan nonmigas bulan Oktober 2018 yang mengalami defisit merupakan tekanan bagi neraca perdagangan secara keseluruhan, dimana pada bulan sebelumnya mengalami surplus cukup tinggi sebesar USD 1,3 milliar,” ujar Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Selasa (4/12).

Lebih lanjut, Mendag mengungkapkan neraca perdagangan migas bulan Oktober 2018 mengalami defisit yang semakin besar dari bulan sebelumnya, yaitu dari USD 1,0 milliar menjadi USD 1,4 milliar. Secara kumulatif neraca perdagangan selama Januari—Oktober 2018 mengalami defisit sebesar USD 5,5 milliar, terdiri dari surplus neraca perdagangan nonmigas sebesar USD 5,2 milliar dan defisit neraca perdagangan migas sebesar USD 10,7 milliar.

“Tingginya defisit neraca perdagangan migas dipicu oleh tingginya permintaan impor hasil minyak akibat kenaikan harga minyak dunia. Sementara itu, surplus perdagangan nonmigas mengalami penurunan dari tahun sebelumnya akibat kenaikan impor bahan baku dan barang modal,” terang Mendag.

Menurut Mendag, pemerintah mengupayakan pencapaian target ekspor nonmigas 2018 dengan menjaga dan terus mendukung peningkatan ekspor produk yang telah tumbuh di atas target. Produk tesebut antara lain batubara (HS 27); besi dan baja (HS 72); bijih, kerak & abu logam (HS 26); berbagai produk kimia (HS 38); kertas/karton (HS 48); barang dari kayu HS 44); bubur kertas (HS 47); bahan kimia organik (HS 28); benda-benda dari besi dan baja (HS 73); dan alumunium (HS 76).

Selain itu, Pemerintah juga berupaya mendorong peningkatan ekspor produk yang tumbuh di bawah target, namun berpotensi mendukung pencapaian target. Produk tersebut antara lain kendaraan dan suku cadangnya (HS 87); barang-barang rajutan (HS 61); pakaian jadi bukan rajutan (HS 62); mesin/peralatan listrik (HS 85); alas kaki (HS 64); plastik dan produk plastik (HS 39); perhiasan (HS 71); serat stapel buatan (HS 55); ikan dan udang (HS 03); serta kakao/coklat (HS 18).

Sedangkan upaya pengendalian impor nonmigas juga dilakukan yaitu dalam jangka pendek perlu mengembalikan pengawasan impor ke kawasan pabean terutama untuk produk yang berperan mendorong kenaikan impor tinggi, seperti impor besi dan baja (HS 72). Sementara dalam jangka menengah panjang perlu mendorong substitusi impor melalui peningkatan kapasitas produksi industri substitusi impor. (uji/JPC/tom)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!