Kemandirian Pada Era Industri 4.0, Dituntut Berkreatif – Timor Express

Timor Express

PENDIDIKAN

Kemandirian Pada Era Industri 4.0, Dituntut Berkreatif

WISUDA.Dekan SST Undana Kupang, Drs. Herry Leo Sianturi, memindahkan tali toga pada acara wisuda di Aula Undana Kupang, Selasa (11/12)

INTHO HERISON TIHU/TIMEX

KUPANG, TIMEX-Kemandirian pada era industri 4.0 merupakan judul pidato Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Prof. Ir. Fredrik Benu pada acara Wisuda ke-114 periode keempat tahun 2018 di Aula Lama Undana Penfui Kupang, Selasa (11/12).

Berkaitan dengan perkembangan zaman dan tingkah laku kehidupan manusia yang terus berubah, Undana sebagai lembaga perguruan tinggi yang mempersiapkan mahasiswa untuk menghadapi era industri 4.0 terus memberikan inovasi baru.

“Ada dua hal penting yang ingin saya sampikan pada kesempatan berbahagia ini. Pertama, Undana saat ini lebih mandiri dalam pola tata kelola sejak ditetapkan sebagai PTN-BLU pada 2017. Kedua, bagaimana wisudawan, setelah kurang lebih empat tahun digembleng di sini, bisa menjadi mandiri,” Ujar Fredrik Benu mengawali pidatonya pada acara tersebut.

Dikatajab Fred, sejak berdiri hingga saat ini, Undana telah mewisuda sebanyak 65.134 orang diploma, sarjana, profesi, magister dan doktor. Dan, 597 orang wisudawan telah siap hadir kembali ke tengah-tengah
masyarakat. Hadir untuk menjadi motor penggerak dalam setiap pembangunan dan secara dinamis mampu menyesuaikan diri dengan perubahan.

Undana telah berkiprah di berbagai bidang. Menjadi bagian penting dari motor penggerak pembangunan NTT. Bahkan pembangunan nasional. Sepanjang kiprah panjang tersebut, berbagai perubahan telah mampu menempatkan Undana menjadi universitas yang memiliki peran penting dalam pembangunan. “Namun demikian, kita terus berupaya untuk meningkatkan kiprah dalam segala aspek kehidupan,” ungkapnya.

Penguatan tata kelola yang lebih baik untuk peningkatan layanan,
terus dilakukan. Yang paling baru adalah upaya meningkatkan status Undana dari pola SATKER menjadi pola BLU.

Melalui Keputusan Menteri Keuangan RI No 66/KMK.05/2017 tertanggal 3 Maret 2017, Undana telah ditetapkan berstatus Universias dengan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PPK BLU). Perubahan status ini memungkinkan Undana mengelola keuangannya secara lebih mandiri untuk semakin meningkatkan layanan kepada mahasiswa.

Perubahan status ini sekaligus merupakan proses “naik kelas”
Undana di jajaran univesitas negeri di Indonesia, khusus Indonesia Timur. Status baru ini juga memberikan “gengsi” tersendiri kepada para alumninya. Terlebih di era Industri 4.0. Namun perubahan status ini sekaligus menjadi tantangan bagi semua. Bagi dosen dan tenaga kependidikan. bagi mahasiswa dan tentu bagi wisudawan.

Dia jelaskan, hidup adalah soal perubahan. Undana merupakan bagian penting dalam kiprah kehidupan. Oleh karena itu, mau atau tidak, suka
atau tidak, harus bisa menjadi bagian dari perubahan itu. Ibarat anak sekolah, perubahan status dari Satker menjadi BLU ini menandai proses bahwa Undana telah naik kelas.

Ini tanda bahwa Undana tidak ketinggalan dibanding universitas negeri lain yang telah lebih dahulu naik kelas. Undana juga harus mulai menyiapkan diri untuk naik kelas berikutnya. Menjadi universitas yang benar-benar sudah dewasa, menjadi universitas dengan pola pengelolaan keuangan Perguruan Tinggi Negeri Bebadan Hukum (PT-BH).

Status BLU memberikan ruang pengelolaan berbasis pelayanan. Segala sumber daya dioptimalkan untuk meningkatkan pelayanan, khususnya pelayanan kepada mahasiswa.

Pelayanan tersebut mencakup pelayanan dalam mengakses informasi, ruang kelas yang lebih baik, dan fasilitas penunjang lainnya. Selama ini pihaknya sudah berusaha meningkatkan pelayanan. Namun belum bisa optimal, antara lain karena masih berstatus Satker, sehingga setiap perubahan yang dilakukan memerlukan persetujuan pusat. Dengan status BLU sekarang, Undana memiliki kesempatan lebih besar untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan mempercepat penyediaan berbagai fasilitas untuk pelayanan.

Kepada wisudawan Fredrik mengatakan, momen tersebut merupakan peristiwa bersejarah bagi para wisudawan. Pasalnya, wisudawan dilepas ke tengah masyarakat, namun bukanlah puncak dari pencapaian dalam hidup. Kesempatan tersebut merupakan jembatan emas bagi wisudawan untuk melaju pada etape kehidupan berikutnya.

“Di luar sana, tantangan yang harus dihadapi jauh lebih berat. Di luar sana wisudawan harus mampu bersaing di era industri 4.0 yang mengharuskan kita tidak boleh berhenti belajar. Era industri 4.0 ditandai bukan oleh kompetensi bidang ilmu yang diraih selama kuliah, melainkan kompetensi belajar secara mandiri,” paparnya.

Masih menurut dia, era industri 4.0 ditandai oleh banyak perubahan yang mencengangkan. Industri tidak lagi hanya memerlukan bahan baku berupa material, tetapi bahan baku berupa mahadata (big data). Untuk mengolanya, tidak lagi memerlukan sekadar pabrik, melainkan
komputer dan otomatisasi. “Banyak pekerjaan zaman sekarang akan hilang. Sementara banyak jenis pekerjaan baru akan tumbuh dan berkembang. Menghadapi perubahan seperti ini, kita dituntut untuk kreatif,” imbuhnya.(mg29/cel)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!