Timor Express

EKONOMI BISNIS

PT Flobamor Tak Lagi ‘Merengek’ ke Pemprov

KOMPAK. Plt. Direktur Utama PT. Flobamor, Agustinus Zadriano Bokotei (kanan) dan Direktur Operasional, Budhy S. Karsidin (kiri) pose bersama usai memberikan keterangan pers seputar kinerja PT Flobamor, Rabu (19/12).

TOMMY AQUINODA/TIMEX

Target PAD 2019 Rp 3 M

KUPANG, TIMEX – PT Flobamor bertekad untuk tidak lagi terus-menerus meminta tambahan modal usaha dari Pemerintah Provinsi NTT. Sebab core bisnis yang dijalani saat ini, yakni pengoperasian tiga unit kapal motor penyeberangan (KMP) di wilayah NTT, bisa memberikan hasil yang memuaskan bila dikelola dengan baik. Komitmen ini disampaikan Plt. Direktur Utama PT. Flobamor, Agustinus Zadriano Bokotei dan Direktur Operasional, Budhy S. Karsidin kepada awak media, Rabu (19/12).

Agustinus menyebutkan, PT Flobamor dengan kepengurusan dan semangat baru telah melakukan berbagai perbaikan internal dalam kurun waktu tiga bulan sejak dilantik. Perbaikan pertama yakni efisiensi biaya. Meliputi, penyederhanaan susunan pengurus, dari enam orang (Dewan Komisaris dan Direksi) menjadi empat orang serta restrukturisasi karyawan.

Restrukurisasi berdampak pada beban biaya gaji dan perusahaan bisa saving kurang lebih Rp 35 juta per bulan. Restrukturisasi juga berdampak pada beban biaya perjalanan dinas direksi dan dewan komisaris, dimana terdapat penurunan dari Rp 65 juta per bulan menjadi Rp 25 juta per bulan.

Selain restrukturisasi, renegosiasi rate premi asuransi kapal turun, namun memberikan coverage dan manfaat lebih luas. Renegosiasi rencana docking kapal untuk mendapatkan perbaikan yang tepat sesuai skala prioritas, harga lebih kompetitif dan mengedepankan aspek keselamatan. Serta penyelesaian kewajiban tunggakan pajak yang belum diselesaikan.

“Saat kami masuk di sini, tunggakan pajak mencapai Rp 1 miliar. Kantor pajak sudah keluarkan teguran dan surat tagihan, mau tidak mau kami harus berusaha untuk bayar. Sekarang nilainya sudah berkurang,” sebut Ian, sapaan karib Agustinus Zadriano Bokotei.

Ian menambahkan, pihaknya sementara menghentikan empat anak perusahaan dan satu koperasi karyawan yang menyimpang dari core bisnis, dan tidak memberikan kontribusi terhadap perusahaan induk. Soal pembayaran gaji karyawan, saat ini pelaksanaannya sudah menggunakan system payroll melalu bank sehingga pembayaran tidak terlambat lagi seperti sebelumnya. Pihaknya juga melakukan penagihan atas piutang pihak ketiga dengan intensif sehingga berhasil mendapatkan kembali sebagian piutang yang tidak tertagih.

“Kami juga sudah menindaklanjuti hasil temuan audit financial due diligent dan berkoordinasi dengan BPKP untuk dilakukan audit,” ujar Ian.

Soal pendapatan, Ian menerangkan, pendapatan tahun 2017 sebesar Rp 16,9 miliar. Tahun 2018 ditargetkan mencapai Rp 2 miliar atau meningkat 30 persen dari tahun sebelumnya. Dengan peningkatan tersebut, PT Flobamor bisa mencapai saldo laba positif. Sedangkan sebelumnya, BUMD milik Pemprov NTT ini hanya memberikan saldo laba negatif.

“Selama tiga bulan bekerja, kami sudah punya cadangan anggaran untuk kontribusi PAD tahun anggaran 2018 sebesar Rp 500 juta. Itu pun yang dapat subsidi hanya dua kapal. Kalau semuanya dapat subsidi, pasti pemasukannya lebih besar,” terang Ian.
Selanjutnya mengenai rencana kinerja tahun 2019, Ian menjelaskan, selain mengupayakan agar sistem akunting yang lebih transparan dan melakukan audit atas laporan keuangan tahun 2018, pihaknya juga akan mengimplementasikan beberapa rencana kerja.

Antara lain, menargetkan perolehan subsidi untuk tiga kapal dan penambahan lintasan penyeberangan. Penyehatan kembali tiga kapal (KMP Pulau Sabu, KMP Sirung dan KMP Ile Bolong) sebagai alat produksi. Implementasi sistem reservasi dan ticketing online. Perbaikan sistem keselamatan dan pelayanan untuk kenyamanan penumpang. Restrukturisasi organisasi perusahaan dengan menempatkan orang profesional dan kompeten di bidangnya. Ekspansi/pengembangan usaha yang berhubungan dengan komoditi daerah di NTT untuk menunjang perekonomian rakyat.

“Dari semua rencana kerja yang akan diimplementasikan, kami menargetkan kontribusi PAD tahun 2019 minimal sebesar Rp 3 miliar,” sebut Ian penuh optimis.

Sementara Direktur Operasional, Budhy S. Karsidin, mengatakan, pasca dipercayakan sebagai manajemen yang baru, mereka langsung bekerja profesional untuk meluruskan pengelolaan perusahaan ke jalan yang seharusnya.

“Saat dipercayakan oleh pak gubernur, kami punya tantangan untuk mengelola perusahaan ini sejalan dengan visi misi gubernur dan wagub. Upaya yang kami lakukan di awal adalah menyehatkan perusahaan. Kerja tidak perlu mutar-mutar,” jelas Budhy.

Berbeda dengan manajemen sebelumnya, Budhy mengaku, saat ini PT Flobamor tidak lagi meminta tambahan modal usaha dari pemda. Sebab prospek bisnis perusahaan masih cukup bagus. Dan kalaupun perusahaan membutuhkan tambahan modal, manajemen akan memanfaatkan fasilitas kredit dari bank.

“PT Flobamor harus malu dengan perusahaan lain kalau merengek terus. Kami harus bersaing dengan BUMD lain yang bisa berkontribusi untuk daerah. Kalau dianggap gagal oleh gubernur, kami siap diberhentikan,” tegas Budhy. (tom)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!