Timor Express

PENDIDIKAN

Mahasiswa Bidikmisi Dilatih Kewirausahan

POSE. Komisaris Utama Bank Christa Jaya, Christofel Liyanto (Pemateri), Ambrosius Tino (Pudir III), Melsiani Saduk, Gloria Manulangga (Ketua Panitia), Feny Eki, Petrisia Sudarmadji foto bersama di Auditorium Politeknik Negeri Kupang, Kamis (20/12)

INTHO HERISON TIHU/TIMEX.

KUPANG, TIMEX-Menghadapi era milineal atau revolusi 4.0, para mahasiswa dan juga masyarakat pada umumnya dituntut untuk mampu meningkatkan kemampuan dalam menghadapi era digital ini. Hal tersebut menuntut pihak perguruan tinggi untuk segera mengambil sikap agar mempersiapkan mahasiswa dalam berbagai aspek.

Seperti yang dilakukan Politeknik Negeri Kupang (PNK) yang mempersiapkan mahasiswa, khususnya kepada mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi agar mampu merubah mindset pekerja menjadi wirausaha.

Pelatihan kewirausahaan dengan mengusung tema “Mengubah Mindset Pekerja menjadi Wirausaha Menyongsong Revolusi Industri 4.0 bagi Mahasiswa Bidikmisi Angkatan 2018 Politeknik Negeri Kupang” ini berlangsung di Auditorium PNK, Kamis (20/12).

Ambrosius Tino, Pembantu Direktur (Pudir) III PNK dalam kesempatan tersebut mengatakan, PNK merupakan lembaga pendidikan vokasional yang mempunyai kurikulum 60 persen praktek dan 40 persen teori. Dimana kemampuan keterampilannya yang lebih ditonjolkan dengan banyaknya praktekum yang diikuti mahasiswa selama perkuliahan.

Ditambahkan, selama perkuliahan dan pada saat mengerjakan tugas akhir, mahasiswa PNK sudah menghasilkan karya-karya yang mempunyai nilai ekonomis yang dapat dipasarkan.

Akan tetapi, karya yang dihasilkan oleh mahasiswa ini perlu mendapatkan sebuah sentuhan akhir (inovasi). Sehingga hasil karya tersebut menjadi layak untuk dipasarkan secara global.

“Pelatihan Kewirausahaan ini bertujuan agar ketika mahasiswa PNK mendapat gelar diploma tiga, tidak menjadi pengangguran, tetapi dapat memanfaatkan keahlian yang didapatkan semasa kuliah dan dapat menciptakan lapangan kerja baru, dengan melihat peluang yang ada di pasar,” katanya.

Mahasiswa PNK sebagai generasi milenial punya tantangan menyambut Revolusi Industri 4.0 dan bonus demografi tahun 2030. Era Revolusi Industri sebenarnya sedang mereka tapaki yang ditandai dengan digitalisasi. “Contohnya, dari sistem belanja daring sampai pembayaran uang elektronik (e-money). Tak hanya itu, perubahan di dunia digital begitu marak terjadi di seluruh dunia, tidak terkecuali di NTT,” ungkapnya.

Ketua Panitia, Gloria Manulangga mengatakan, dari indikator Revolusi Industri 4.0, dapat diperhatikan dengan seksama jika pada era itu sistem kehidupan akan didominasi sistem digital berupa IoT (Internet of Things) dan Artificial Intelligence serta jaringan network yang masif. Otomatisasi yang lebih keren akan bertebaran dalam perangkat yang digunakan dalam keseharian. Gadget pun akan berkembang lebih canggih lewat rilisan produk terbaru yang dilempar ke pasaran.

Gloria mengungkapkan apa jadinya jika generasi muda PNK memegang barang-barang seperti itu. Seharusnya, mereka mampu menggunakannya untuk hal-hal positif. Kenapa, karena agar mereka lebih siap menghadapi tantangan. “Namun, sebaiknya kita berpikir akan risiko terburuknya terlebih dahulu,” sambung dia.

Tanpa edukasi dan arahan, teknologi secanggih itu berpotensi digunakan dalam hal-hal negatif. Untuk itulah, pendidikan melalui seminar seperti ini diharapkan mampu menyentuh hati generasi muda PNK yang sudah terkontaminasi dengan gadget.

Adanya Revolusi industri 4.0 rentan memunculkan pekerjaan yang baru, sehingga risikonya adalah terdapat beberapa jenis pekerjaan yang terdisrupsi. Pendidikan di perguruan tinggi khususnya seharusnya bisa menjadi jembatan penghubung antara mahasiswa dengan dunia kerja yang relevan, agar SDM unggul tercapai sesuai cita-cita pendidikan tinggi vokasional.

Pendidikan di perguruan tinggi bukanlah sekadar ijasah. Namun mindset harus diarahkan bahwa pendidikan sejatinya persiapan untuk hidup. Karena memang begitulah seharusnya memandang esensi pendidikan.

“Pendidikan bukan lagi sekadar nilai tinggi. Akademik bersinar dan memenangkan kompetisi. Tapi lebih dari itu. Pendidikan dalam era revolusi industry 4.0 harus dipandang sebagai upaya persiapan untuk bertahan dari berbagai ujian dan cobaan dalam hidup,” ujarnya.

Sementara, Christofel Liyanto, Komisaris Utama Bank Crista Jaya sebagai pembicara dalam materinya mengatakan, mahasiswa harus memiliki kemauan. Modal urutan sekian.

“Karena ketika kita punya kemauan untuk berusaha, maka di situ ada jalan. Sehingga anak muda milenial zaman sekarang harus maju pantang mundur, gagal itu hal biasa. Mengutip kata Jack Ma, “Kalo jatuh, bangun lagi. Jatuh, bangun lagi. Begitu seterusnya”. Jangan Menyerah untuk mencapai keinginan kita, tutupnya. (mg29/cel)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!