Refleksi 60 Tahun NTT: Meneropong Nasib Satwa Liar Flobamora Masa Depan – Timor Express

Timor Express

OPINI

Refleksi 60 Tahun NTT: Meneropong Nasib Satwa Liar Flobamora Masa Depan

 

Oleh: Oki Hidayat, S.Hut, M.Biol.Sc

Peneliti Biologi Konservasi, Balai Litbang LHK Kupang

 

Provinsi NTT telah memasuki usia yang ke-60. Sebuah perjalanan panjang bagi provinsi kepulauan di wilayah timur Indonesia. Provinsi ini terus berkembang dan berbenah ke arah kemajuan dan kesejahteraan. Pembangungan berkembang pesat di beberapa daerah, khususnya wilayah perkotaan. Namun kondisi tersebut tidak selamanya ideal dan menyenangkan. Salah satu aspek yang jarang dilirik oleh masyarakat NTT dan khususnya oleh jajaran pemerintah daerah adalah satwa liar. Merujuk pada UU No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, satwa liar diartikan sebagai semua binatang yang hidup di darat dan atau di air dan atau di udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar, baik yang hidup bebas maupun yang dipelihara oleh manusia. Karena satwa liar memiliki karakteristik yang berbeda dengan hewan ternak domestik atau hewan peliharaan, maka cara mengelola dan mengurusnya pun berbeda.

Jika dilihat dari ilmu persebaran hewan atau yang dikenal dengan istilah zoogeografi, wilayah NTT terletak di Kawasan Wallacea, dimana wilayah ini terletak diantara dua kawasan zoogeografi yaitu Kawasan Oriental (meliputi daratan Asia) dan Kawasan Australian (meliputi Australia dan Papua). Alhasil, wilayah NTT memiliki tingkat endemisitas yang cukup tinggi, artinya satwa liar yang ada di NTT unik dan beberapa hanya dapat ditemui di NTT, tidak ada di wilayah lain, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Masyarakat NTT boleh berbangga dengan takdir Tuhan yang menganugrahkan kekayaan biodiversitas ini, namun sudah seharusnya kita menjaganya agar tetap lestari. Berbicara tentang kelestarian satwa liar di NTT, kita harus berkaca pada Kura-kura Leher Ular Rote dan Kakatua-kecil Jambul-kuning. Kedua satwa tersebut nasibnya kini memprihatinkan dan di ujung tanduk.

Kura-kura Leher Ular Rote merupakan reptil endemik Pulau Rote, nasibnya kini sungguh mengenaskan, punah di alam, tak tersisa lagi di habitat alaminya, danau-danau air tawar di Pulau Rote. Harga jualnya di masa lalu yang sangat menggiurkan telah melenakan masyarakat lokal untuk memburunya secara besar-besaran dan tak terkendali. Hasilnya kini tak tersisa satu ekor pun. Hasil kajian beberapa lembaga seperti Balai Litbang LHK Kupang (BPPLHKK), Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT dan Wildlife Conservation Society-Indonesia Program (WCS-IP), menunjukkan bahwa kura-kura asli Pulau Rote ini tidak ada lagi di Pulau Rote. Nasi sudah menjadi bubur. Kini kita hanya bisa gigit jari dan meratapi apa yang telah terjadi. Penyesalan pasti datang belakangan. Usaha untuk melestarikan jenis ini hanya ada satu cara, yaitu penangkaran. Sejak 2010 kegiatan konservasi eks situ melalui penangkaran di luar habitat alaminya telah dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui UPT BPPLHKK. Kura-kura Leher Ular Rote telah berhasil dikembangbiakan, namun masih terkendala dengan terbatasnya jumlah indukan, sehingga perlu mendatangkan indukan lainnya. Kini usaha konservasi tersebut masih terus berjalan, bahkan LSM internasional WCS-IP bekerjasama dengan BBKSDA NTT akan mendatangkan indukan dari luar negeri untuk dikembangkan di Pulau Rote. Bisa dibayangkan besarnya biaya yang telah dan akan dikeluarkan untuk kegiatan pelestarian ini. Total uang yang dahulu didapat oleh masyarakat dengan menjual kura-kura sudah tentu jumlahnya jauh lebih kecil dengan dana konservasi yang dibutuhkan untuk mengembalikan populasi kura-kura ini ke alam.

Satwa liar NTT korban ekspoitasi dimasa lalu yang nasibnya masih lebih baik dari Kura-kura Leher Ular Rote adalah Kakatua-kecil Jambul-kuning. Meskipun jenis ini berstatus kritis (critically endangered), paling tidak masih tersisa beberapa populasi di beberapa wilayah NTT. Sama seperti kasus Kura-kura Leher Ular Rote, burung kakatua telah mengalami perburuan massif beberapa dekade yang lalu serta diperburuk kondisinya dengan degradasi habitat, penurunan kualitas maupun kuantitas hutan tempat tinggalnya. Kisah tentang kakatua yang banyak berkeliaran di kebun-kebun desa, memakan jagung yang belum dipanen, hanyalah sebuah cerita dari orang tua. Kini tak ada lagi kejadian seperti itu, yang ada adalah sebaliknya, untuk menemukan kakatua kita harus berjalan dan menjelajah hutan-hutan terpencil yang sulit untuk diakses, itupun tidak ada jaminan kita dapat menjumpainya secara langsung.

Dua contoh di atas sangatlah jelas, tentang akibat yang terjadi jika satwa liar tidak diperhatian secara serius. Kita perlu berkaca dengan kenyataan yang terjadi saat ini. Ekspoitasi terhadap berbagai satwa liar di NTT masih terus berlangsung. Salah satunya, yang tampak nyata di depan mata adalah eksploitasi burung-burung NTT. Berdasarkan hasil kajian yang penulis lakukan, tren penangkapan burung-burung di NTT kini meningkat. Hal tersebut dilihat dari bermunculannya kios-kios burung, komunitas pemelihara burung dan maraknya perlombaan burung berkicau. Perkembangan teknologi informasi yang telah membuat kegiatan jual beli satwa liar bertransformasi dari cara-cara konvensional menjadi penjualan melalui media sosial, juga menjadi faktor pemicu peningkatan aktifitas jual beli burung. Sebagian besar burung yang diperdagangkan adalah burung berkicau termasuk burung paruh bengkok yang dilindungi.

Pada dasarnya tidak ada yang salah dengan memperjualbelikan burung. Hobi ini telah membudaya dan menjadi penggerak perekonomian bagi sebagian masyarakat. Namun yang menjadi masalah adalah tidak adanya regulasi mengenai penangkapan jenis yang tidak dilindungi serta masih maraknya perdagangan burung dilindungi secara ilegal. Jika kegiatan penangkapan burung tidak dilindungi terus berjalan dan tidak ada regulasi yang mengaturnya, maka dampak negatif penurunan populasi akan menjadi ancaman yang sangat nyata di masa yang akan datang. Jenis-jenis burung tidak dilindungi yang berpotensi akan langka beberapa tahun ke depan karena maraknya perburuan pada saat ini adalah Anis Timor (Zoothera peronii), Decu Belang (Saxicola caprata), Anis Nusa Tenggara (Zoothera dohertyi), Branjangan Jawa (Mirafra javanica) sub spesies parva dan timorensis, Kacamata Limau (Zosterops citrenellus), Kacamata Wallacea (Heleia wallacei) Cikukua tanduk (Philemon buceroides), Cikukua Timor (Philemon inornatus) dan Gelatik Timor (Padda fuscata).

Upaya perlindungan terhadap satwa liar di Indonesia untuk saat ini mengacu pada Peraturan Menteri Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P. 92 Tahun 2018 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan nomor P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan Dan Satwa Yang Dilindungi. Pada sisi lain, banyak jenis-jenis burung yang tidak masuk dalam daftar tersebut. Pada kasus seperti ini langkah yang dapat dilakukan untuk melindungi jenis burung-burung di NTT adalah dengan menerbitkan peraturan daerah. Sebagai contoh di Kabupaten Sumba Timur, pemerintah setempat mengeluarkan surat Bupati Sumba Timur tanggal 24 Juli 2017 tentang Larangan Penangkapan dan Penembakan Burung Branjangan Jawa (Mirafra javanica) dan burung-burung lainnya. Dengan adanya peraturan dalam skala lokal ini, maka usaha penangkapan terhadap burung-burung dapat dicegah serta dilakukan tindakan hukum bagi pelanggarnya. Peraturan ini telah berhasil menjadi payung hukum dalam menggagalkan upaya penyelundupan 526 ekor burung Branjangan dan 24 ekor burung Decu Belang yang hendak diselundupkan ke Pulau Jawa, pada 6 September 2018 yang lalu.

Masih ada kesempatan dan belum terlambat untuk melindungi kekayaan alam satwa liar NTT. Dibutuhkan keseriusan dan perhatian dari berbagai pihak. Melihat banyaknya jenis-jenis satwa liar yang belum dilindungi oleh regulasi yang telah ada, sebaiknya pihak pemerintah daerah mengeluarkan peraturan lokal yang mengatur penangkapan dan penjualannya, khususnya untuk jenis-jenis yang marak diperjualbelikan. Ada baiknya kita belajar dari kasus Kura-kura leher Ular Rote dan Kakatua-kecil Jambul-kuning. Jangan sampai kita lengah saat ini dan kaget dikemudian hari dengan kenyataan satwa liar khas dan asli NTT sudah habis dan tak tersisa. (*)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!