Ukuran Daerah Maju bukan WTP – Timor Express

Timor Express

KUPANG METRO

Ukuran Daerah Maju bukan WTP

BUSANA ADAT. Mendagri Tjahjo Kumolo, Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, para anggota DPRD NTT dan para pejabat lainnya mengenakan busana adat daerah NTT saat menghadiri Rapat Paripurna Istimewa dalam rangka HUT ke-60 Provinsi NTT di gedung DPRD NTT, Kamis (20/12).

SAM BABYS FOR TIMEX

HUT ke-60 Provinsi NTT
Mendagri: Saatnya NTT Bangkit dan Sejahtera

KUPANG, TIMEX – Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo optimistis, di usia yang sudah 60 tahun, NTT segera bangkit dan sejahtera.

Dalam sambutannya pada Rapat Paripurna Istimewa dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-60 Provinsi NTT di Ruang Rapat Utama DPRD NTT, Kamis (20/12), Tjahjo katakan, perlu kesabaran untuk maju. Dan, saatnya harus progresif revolusioner mengejar ketertinggalan dari provinsi lain.

Politikus PDIP itu mengakui, pertumbuhan ekonomi NTT selalu di atas rata-rata nasional, yakni di atas 5 persen. Tingkat inflasi 2,89 persen, pada semester pertama 2018. Persentase penduduk miskin turun 21,35 persen dibandngkan 2017 yang sebesar 21,85 persen.

Ia mengatakan persyaratan sebuah daerah maju ukuranya bukan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Tapi ukurannya tingkat pertumbuhan ekonominya harus mampu bersaing dengan pertumbuhan nasional. “Mampu menekan angka kemisikinan, dan mampu menekan angka pengangguran,” kata Tjahjo dalam rapat paripurna yang dipimpin Ketua DPRD NTT, Anwar Pua Geno itu.

Hadir Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat dan wakil gubernur Josef Nae Soi. Hadir pula Presiden Otonomi Khusus Oekusi Negara Timor Leste, Marie Alkati. Tampak pula sejumlah anggota DPR RI dan DPD RI asal NTT, mantan Menteri Perindustrian, Saleh Husin. Mantan wakil gubernur NTT, Esthon Foenay dan Benny Litelnoni serta sejumlah pejabat lainnya.

Tjahjo tambahkan, untuk mencapai mimpi besar, bangkit menuju sejahtera, syarat utama yang harus dilalui adalah pemerintah daerah harus satu. Bukan hanya gubernur sampai desa/kelurahan. Namun ada DPRD. Mereka sebagai mitra harus bersama-sama merumuskan anggaran, program dan membuat program dan berbagai kebijakan. “Dua lembaga ini kurang. Harus melibatkan kepolisian, TNI, jaksa. Masih kurang, tambah tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat,” terang Tjahjo.

Untuk percepatan pembangunan demi kesejahteraan juga harus membangun komunikasi yang erat dengan tetangga, sahabat Republik Timor Leste.
Pada kesempatan itu, Tjahjo katakan, NTT tidak bisa terlepas dari sejarah nasional. Pasalnya, Bung Karno menemukan Pancasila di NTT, yakni di Kota Ende.

Dan, untuk kebangkitan dan kesejahteraan NTT, yang lebih cepat, dia mengingat dua kalimat yang pernah disampikan Bung Karno, yakni setiap manusia punya impian dan punya imajinasi. Dengan pemimpin yang punya impian dan imajinasi yang mampu punya konsep, perlu membangun bangsa dan negara.

Sebagai gubernur terpilih NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat menurut Tjahjo punya impian dan imajinasi. “Menarik, daun kelor, teh kelor. Impian ini penting sekali untuk kebangkitan dan untuk kesejahteraan, kebangkitan NTT,” tambahnya.

Ia mengatakan NTT harus bisa bangkit dan harus bisa sejahtaera. Kalau mau maju, kurangi tidur. Yang biasa lima jam cukup 2 jam. Supaya mampu mengerjakan dan mengorganisir masyarakat di NTT. “Kami yakin ke depan NTT akan semakin maju dan semakin sukses semakin sejahtera atas kerja keras kita semua,” sambung dia.

Sementara Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat pada kesempatan itu mengungkapkan, perayaan HUT ke-60 NTT merupakan momen bersejarah yang berharga untuk direnungkan. Terutama makna kelahiran NTT dalam konteks kekinian dengan segala dinamikanya.

Pembangunan NTT selama 60 tahun, menurut dia, belum sanggup menjawab tantangan sejarah untuk menghadirkan kesejahteraan yang adil bagi seluruh masyarakat NTT. Meskipun telah banyak kemajuan yang dicapai, namun secara umum, kehidupan masyarakat NTT masih diliputi berbagai tekanan kemiskinan, pengangguran dan keterbelakangan, kelaparan, sakit-penyakit dan ketidakberadayaan.

Masyarakat NTT bahkan mengalami stigmatisasi sebagai provinsi termiskin dan stigma ini telah melahirkan sindrom kemiskinan yang membebani dan melemahkan daya juang. Karena itu, sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NTT periode 2018-2023, keduanya menyerukan satu visi bersama, NTT Bangkit, NTT Sejahtera. Tidak ada pilihan lain bagi untuk meraih kemajuan, selain bangkit secara kolektif memberontak dan melawan masa lalu yang kelam dengan berjuang secara gigih merebut masa depan. “Yaitu suatu kehormatan, harga diri dan martabat,” tegas Viktor.

Merasa aman dengan masa lalu, kata dia adalah suatu sikap konformitas yang menurut John F. Kennedy menjadi penjara bagi kebebasan dan musuh dari pertumbuhan. Tidak ada kemajuan tanpa kerja keras dan pengorbanan. “Kita harus melawan diri sendiri, melawan segala kelemahan, melawan cara berpikir lama dan berani meninggalkan masa lalu dengan memilih jalan baru yang inovatif dalam semangat kerja sama, kerja keras dan kerja jujur,” paparnya lagi. (cel/sam)

Ngada “Dihapus”, Agus Lobo Interupsi

PARIPURNA istimewa dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-60 Provinsi NTT di Ruang Rapat Utama DPRD NTT, Kamis (20/12) dibuat heboh.

Dalam rapat paripurna istimewa itu, Anggota DPRD NTT, Agus Lobo menginterupsi pembicaraan Ketua DPRD NTT yang hendak menutup paripurna yang dihadiri Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo dan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat itu.

Suasana ruang rapat seketika riuh. Semua mata tertuju kepada Anggota DPRD asal Kabupaten Ngada itu. “Saya hanya mau meluruskan apa yang sudah dibacakan terkait sejarah pembentukan Provinsi NTT,” kata Agus Lobo yang semakin membuat penasaran seluruh hadirin.

Sebelum menjelaskan lebih jauh, Ketua DPRD NTT, Anwar Pua Geno yang memimpin rapat, langsung menyela. Anwar mengaku sudah paham apa yang hendak disampaikan Agus Lobo.

Menurut Anwar, ada kekeliruan tim penyusun sejarah lahirnya Provinsi NTT dari Sekretariat DPRD NTT. Sehingga, 12 kabupaten pertama di NTT sesuai sejarah, namun dalam kesempatan tersebut, satu di antaranya, yakni Kabupaten Ngada tidak disebutkan. “Memang benarnya ada 12 kabupaten, termasuk Ngada. Tetapi ada kekeliruan, sehingga tidak dibacakan. Ini akan diluruskan,” kata Anwar.

Mendengar penjelasan tersebut, suasana di ruangan tersebut kembali tenang. Agus Lobo pun melanjutkan pembicaraannya. “Itu yang saya mau luruskan. Jangan sampai kalau memang mau keluarkan Ngada dari NTT, ya silakan,” kata Agus sedikit kelakar yang langsung disambut tawa forum rapat.

Sebelumnya, dalam rapat paripurna tersebut, petugas membacakan rangkuman sejarah berdirinya Provinsi NTT. Mulai dari masa persiapan, persetujuan pada 20 Desember 1958 hingga 2018 ini.

Dijelaskan, NTT yang kini sudah dipimpin 8 gubernur dan 9 wakil gubernur itu lahir dengan 12 kabupaten. Ke-12 kabupaten itu, yakni Kabupaten Kupang, TTS, TTU, Belu, Alor, Flores Timur, Sikka, Ende, Manggarai, Sumba Barat, Sumba Timur dan Ngada. (cel/sam)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!