Atasi Keresahan Penumpang, Tarif Jasa Porter Mulai Digodok – Timor Express

Timor Express

EKONOMI BISNIS

Atasi Keresahan Penumpang, Tarif Jasa Porter Mulai Digodok

ANGKUT BARANG. Salah seorang porter (paling kanan) tampak sedang mengangkut barang milik penumpang ke dalam kapal (KM Siguntang) yang hendak berlayar dari Pelabuhan Tenau menuju Lembata.

NET

Darius: Jangan Piara Preman di Pelabuhan

KUPANG, TIMEX – Perilaku porter di pelabuhan yang seenaknya meminta bayaran jasa merupakan salah satu persoalan yang paling banyak dikeluhkan oleh pengguna jasa angkutan laut. Hal ini dikarenakan tidak adanya ketentuan yang mengatur secara khusus soal tarif jasa porter.

Darius Beda Daton

Darius Beda Daton

Untuk mengatasi persoalan ini, pihak Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tenau Kupang, Rabu (9/1) mengundang seluruh stakeholder terkait untuk membahas mengenai tarif jasa porter. Dalam rapat yang dipimpin Mahmud Sengaji selaku Kepala Seksi Sub Bagian Tata Usaha KSOP Tenau, hadir Kepala Perwakilan Ombudsman NTT, Darius Beda Daton, General Pelindo III Cabang Kupang, Baharuddin, Ketua Komisi III DPRD Kota Kupang, Mery Salouw, perwakilan Dinas Nakertrans Provinsi NTT dan Kota Kupang, serta KP3 Laut Tenau. Hadir pula Ketua Koperasi TKBM (Tenaga Kerja Bongkar Muat) dan perwakilan porter.

Kepala Perwakilan Ombudsman NTT, Darius Beda Daton saat dikonfirmasi Timor Express, Kamis (10/1) mengaku, pihaknya sering mendapat keluhan dari penumpang mengenai perilaku porter di pelabuhan. Karena memang pada poster pengaduan yang terpasang di terminal penumang Pelabuhan Tenau memuat nomor kontak Ombudsman (termasuk nomor kontaknya).

“Ada yang telpon, sms dan komunikasi via whatsapp. Mereka mengeluh karena porter menentukan harga gila-gilaan. Porter bilang harganya sekian, ya harus bayar. Bahkan jasa porter lebih mahal dari sewa pik up dari rumah penumpang ke pelabuhan,” terang Darius seraya menyebutkan bahwa semua keluhan dari penumpang selalu dia komunikasikan dengan GM Pelindo, Syahbandar dan pihak-pihak terkait di Pelabuhan.

Menurut Darius, selama ini tarif jasa porter tidak pernah diatur dengan jelas di Pelabuhan Tenau. Yang diatur hanyalah tarif jasa TKBM. Akibatnya, porter dengan bebas menentukan sendiri tarif kepada para penumpang.

“Porter beda dengan TKBM. TKBM melaksanakan pekerjaan bongkar muat barang-barang industri dari atas kapal ke pelabuhan dan dari pelabuhan ke kapal. Sedangkan porter itu yang mengangkut barang penumpang dari pelabuhan sampai ke kendaraan atau dari pelabuhan sampai ke kapal,” jelasnya.

Ditanya mengenai agenda rapat di KSOP Tenau, Darius menjelaskan, rapat tersebut sebenarnya bertujuan untuk mencari titik temu tarif porter yang tepat dan tidak memberatkan penumpang. Dan apabila semua pihak sepakat, maka tarif jasa porter akan ditetapkan untuk selanjutnya diinformasikan kepada penumpang atau ditempel di Pelabuhan.

Dalam pertemuan tersebut, lanjut Darius, pihak TKBM dan porter sudah membuat draft tarif berdasarkan perhitungan teknis sesuai dengan versi mereka. Namun, draft tersebut belum dibahas lebih lanjut karena perwakilan penumpang dalam hal ini YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) belum diundang. Apalagi, menurut pihak Nakertrans, draft tarif yang dibuat oleh TKBM/Porter itu terlampau mahal dan sangat memberatkan penumpang, sehingga perlu dihitung kembali.

“Nanti ada hitungan teknis dari Nakertrans. Lalu kami diundang satu kali lagi untuk membahasnya. Kira-kira porter setuju atau tidak dengan hitungan itu. Kalau sudah oke, tarif jasa porter langsung ditetapkan,” katanya seraya berharap adanya jalan keluar dari dinamika yang timbul dalam rapat tersebut.

Darius menambahkan, jika tarif jasa porter di Kupang sudah ditetapkan, maka tarif tersebut akan dipakai sebagai barometer untuk pelabuhan lain di seluruh NTT. Dan di akhir wawancara dengannya, Darius menegaskan, pelabuhan adalah pintu masuk ekonomi dan perdagangan suatu daerah. Dengan demikian, seluruh aktivitas di pelabuhan tidak boleh menimbulkan ketakutan bagi pengguna jasa. Pelabuhan haruslah nyaman bagi semua orang dan tidak boleh ada perilaku preman.

“Jangan piara preman di pelabuhan. Kalau pelabuhan itu menakutkan, terutama bagi dunia usaha, konsekuensinya adalah harga barang jadi mahal karena pengusaha akan mengkalkulasi biaya yang mereka keluarkan di pelabuhan. Imbasnya nanti juga dirasakan masyarakat,” ungkapnya. (tom)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!