Resolusi 2019 Pariwisata NTT: Wisata Musik NTT – Timor Express

Timor Express

OPINI

Resolusi 2019 Pariwisata NTT: Wisata Musik NTT

 

 

Oleh: Marianus Seong Ndewi, S. Pd., MM

Guru Seni Budaya-Pegiat Literasi di Komunitas Secangkir Kopi Kupang

 

      Gong gebrakan pembangunan di bidang pariwisata mulai ditabuh oleh pemipin baru NTT, gubernur I dan gubernur II. Di satu sisi, gubernur I mengumandangan gerakan perubahan, restorasi pariwisata NTT, di sisi lain, gubernur II menopang dengan menargetkan pembangunan infrastruktur yang layak ke lokasi wisata, yang saban hari ini semakin memburuk (bahkan membusuk).

Keterlibatan berbagai aspek, menjadikan tempat wisata (seharusnya) menyenangkan. Fenomena budaya, sosial, politik, ekonomi, geografis, peran pemerintah (regulasi), sampai pada revolusi karakter masyarakat sekitar dan pengguna lokasi wisata, turut menyumbang keberhasilan pengolahan pariwisata sebuah daerah. Keterlibatan semua pihak dibutuhkan karena pariwisata bukanlah sektor yang mampu berdiri sendiri. Pertimbangan keterkaitan antar sektor dan penanganan pariwisata semakin rumit dalam pengembangan suatu destinasi yang terpadu (Brawnel dalam Theobald 2005:40)

Musik Sebagai Tujuan Wisata?

Musik, baik musik vokal maupun musik istrumental adalah salah satu produk wisata budaya. Selain rumah adat, istana kerajaan, candi, dan juga tempat ibadah, musik juga mestinya dapat dijadikan sebuah ‘objek’ wisata baru yang mampu mendorong pertumbuhan kehidupan social, ekonomi, pun politik masyarakat. Kehadiran musik sebagai sebuah ‘menu’ wisata sebenarnya bukanlah hal baru. Hadir dalam bentuk sebuah festival music, ‘sajian’ ini mulai diadakan sekitar tahun 1606, diselenggarakan festival music berjudul Antrim’s Oul Lammas Fair di Ballycastle, Irlandia Utara. Lalu pada 1724, ada festival music di Inggris, bernama Three Choirs.

            Dalam buku Music Tourism, karya Chris Gibson dan John Connel, menuturkan bahwa festival musik punya potensi ekonomi yang melibatkan banyak sekali rantai ekonomi, bersifat panjang dan melampaui aspek geografis. Salah satu contohnya yang terjadi di California, Amerika Serikat, festival music Coachella, yang diadakan sejak 1999 silam, mampu hadirkan ratusan ribu pengunjung (penonton). Pada 2016, tiket festival ini terjual sekitar 195 ribu lembar dan menghasilkan pemasukan sebanyak 94, 2 juta dolar. Quo vadis wisata musik NTT. Adakah disana? Wie geht?

Wisata Musik NTT

Bagi para tourist (wisatawan) atau excursionis (pelancong) yang datang berkunjung ke NTT, aspek pertama yang menjadi tujuan wisatanya adalah wisata alam, lukisan 3 Dimensi yang disuguhkan alam NTT. Ada nuansa warna pantai yang eksotic, bentuk gunung berapi yang unik, kawah bekas letusan yang menyediakan hot-water, dan gugusan bentuk bukit batu berwarna.

Apakah mereka datang merindukan bunyi music-musik khas NTT? Jawabanya bisa ‘iya’, karena faktanya musik selalu ‘ada dan disisipkan’ di tempat tujuan wisata itu. Sebagai sebuah ‘sisipan’, kehadiranya lebih banyak tidak dibutuhkan. Intinya ada. Yang penting babunyi sa (pentas saja-tanpa perhatikan mutu kualitas).

Lalu saya mencoba menyusun pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini; Apakah bisa musik foy doa dipentaskan  di kawah gunung, tempat hot water di So’a Kabupaten Ngada?. Bagaimana konser band musisi lokal Timor bisa pentas di pinggir air terjun Tesbatan-Amarasi?. Apa bisa musik tradisional Manggarai main di tengah sawah lodok yang eksotis itu, atau ansambel sejenis tembang sunding (seruling bambu) menyambut mentari pagi di Wae Rebo?. Apa mungkin petikan lentik Sasando nan unik itu dipentaskan akbar di pinggir jalan El Tari Kupang setiap malam Minggu, menemani kuliner khas Jagung Bose dan Pisang Gepeng?. Apa mungkin konser paduan suara lagu-lagu daerah NTT dipentaskan diatas bukit warna-warni Kellaba Maja di Sabu Raijua?.

Jawaban terbaiknya adalah ‘ya, bisa; karena anak-anak NTT mampu. Mereka adalah musisi ulung dan hebat. Kehadiran pertanyaan dan jawaban (sebenarnya pernyataan) diatas mengasumsikan bahwa kehadiran (pementasan) music, baik musik vokal ataupun musik instrumental NTT akan mampu berkembang dan mampu menampilkan sisi eksotisnya. Musik yang eksotis. Indah. Kaya. Hidup dan menghidupi. Sejahtera.

Dalam kehidupan keseharian anak-anak NTT, mereka pandai bermusik, melalui kemampuan alamiah (otodidak) ataupun juga ilmiah, yang didapatkan di jenjang pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan tinggi. Cerita unik seorang bocah yang memainkan sunding sambil duduk di atas punggung kerbau, menemani ibunya ‘menjaga burung’ di sawah, atau juga nyanyian-nyanyian yang selalu dipentaskan muda-mudi Flores Timur, sebagai pengganti pantun, untuk ‘merayakan’ masa muda-mudi mereka. Ditemani remang bulan purnama, mereka bisa mendapatkan jodoh di arena dolo-dolo itu. Kehadiran sanggar musik tradisional di Maumere yang sangat terkenal itu. Ada pula Orkestra Seruling Bambu di Kabupaten Ngada. Lentikan bunyi Gambus, Sasando, Ukulele, dan Biola kampung yang sangat indah.

Sungguh, ini sumbangsih seni musik NTT yang sejatinya bisa dijadikan sebuah ‘objek’ wisata baru. Jikalau dikelola baik melalui intervensi kebijakan tepat sasar pemerintah, tidak menutup kemungkinan ini dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Ada berapa model festival music di NTT? Mungkin jumlah jari pada satu sisi tangan manusia saja masih terlalu banyak untuk menghitung festival music di NTT. Yang ada adalah festival Kuda, festival Komodo, festival Gunung, festival panorama Alam, semakin menjelaskan bahwa kehadiran musik jauh rendah dibanding binatang, gunung, sepeda, ataupun batu-batuan.

Intervensi Pemerintah

Dalam pembangunan memajukan wisata musik NTT, tidak bisa berjalan cepat, apabila pemeritah tidak melakukan intervensi kebjakan yang menciptakan resolusi di bidang pariwisata. Perjuangan para musisi dalam menghasilkan ‘karya wisata’ berupa pembentukan grup musik, baik tradisional ataupun modern (kontemporer), komposisi karya sajian music vocal maupun instrumental, mesti diikuti dengan kebijakan-kebijakan riil pemerintah.

Saat ini, gubernur I gencar mensosialisasikan kebijakan-kebijakan baru, semisal revolusi hijau, English day, moratorium tambang, TKI, dan lain-lain. Mesti juga ada kebijakan di bidang pelestarian musik. Semisal festival Gambus Adonara, festival musik Thobo di Ngada sambil mengiringi music Foy doa, festifal Sunding Tongkeng di Manggarai, ataupun festival musik Leko Boko, dan masih banyak lainnya.

Disiapkan sepekan khusus untuk pementasan karya-karya anak NTT. Datangkan wisatawan ke lokasi pementasan. Lokasinya bebas, di jalanan, di pinggir pantai, di sisi air terjun, di lembah bukit berwarna, di kawah hot water, dan juga simpulkan menjadi sebuah festival musik NTT dengan melibatkan wisatawan lokal ataupun mancanegara. Musisi lokal, musisi nasional ataupun mancanegara boleh ambil bagian dalam hajatan karya wisata ini. Nuansa tradisional, jaszz, reggae, blues, pop, hiphop, dan kontemporer lainnya menjadi menu utama sajiannya, tentunya dengan menu utama alat music ataupun nyanyian tradisional NTT.

Tidak perlu studi banding jauh-jauh, cukup belajar ke Yogyakarta ataupun Bali. Disana, musik (festival musik) diberikan ruang untuk dijadikan ‘objek’ wisata baru, mampu ‘memancing’ dan mendatangkan wisatawan lokal ataupun mancanegara. NTT belum terlambat. ‘Nusa musik’, mengimbangi otak kiri dan kanan. Jangan hanya berpikir berat sebelah ke unsur politik saja. Bosan. Mari bermusik; NTT bangkit, NTT sejahtera. Resolusi 2019. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!