Timor Express

RAKYAT TIMOR

18 Titik Jalan Sabuk Merah Rusak Berat

RUSAK. Jalan Sabuk Merah pertabasan di Desa Alas rusak akibat hujan beberapa pekan terakhir. Foto diambil, Kamis (10/1).

KRISTOFORUS BERE/TIMEX

Akibat Curah Hujan Tinggi

BETUN, TIMEX – Ruas jalan Sabuk Merah perbatasan RI-RDTL rusak berat pada 18 titik. Kerusakan tersebut akibat curah hujan yang tinggi.

Pantauan Timor Express di sejumlah ruas jalan, Kamis (10/1) jalan Sabuk Merah ada sekira 18 titik yang nyaris putus akibat terjadi patahan dan longsor. Selain itu, sebagian tembok penahan roboh serta aspal retak di beberapa ruas jalan.

Rofinus Ngilo

Rofinus Ngilo

Kondisi jalan Sabuk Merah perbatasan nyaris putus di Dusun Fatuhadua Desa Alas dan Desa Alas Kotabiru Kecamatan Kobalima Timur. Kerusakan terjadi akibat hujan deras mengguyur Malaka selama akhir tahun 2018 hingga awal bulan Januari 2019. Hujan deras juga merusak drainase dan tembok penahan.

Jalan Sabuk Merah menghubungkan perbatasan Motamasin Kabupaten Malaka dengan perbatasan Mota’ain Kabupaten Belu.

Salah satu arga Ala, Andreas Bere ketika ditemui Timor Express dilokasi mengatakan, terjadinya longsor akibat hujan deras selama ini.

Ia mengatakan, ini akibat kondisi tanah dan lokasi yang berdekatan dengan tebing, sehingga rawan longsor yang mengakibatkan jalan Sabuk Merah nyaris putus.

Ia mengaku, beberapa hari lalu ada yang datang mengukur jalan yang terkena longsor. Namun apakah akan ditangani atau tidak, dia tidak mengetahuinya.

Sementara itu, Kepala Cabang PT Naviri Kontraktor Grup, Hasanuddin saat dikonfirmasi mengatakan, jalan tersebut bukan wilayahnya. Karena itu, ia tidak bisa memberikan keterangan.

Terpisah, PPK 4.5 Pembangunan Jalan Perbatasan NTT Balai Pelaksanaan Jalan Nasional X Kupang, Rofinus Ngilo yang dikonfirmasi, Sabtu (12/1) menjelaskan, kerusakan jalan Sabuk Merah yang menghubungkan perbatasan Motamasin Kabupaten Malaka dengan perbatasan Mota’ain Kabupaten Belu akibat hujan deras beberapa pekan terakhir.

Dijelaskan, jenis tanah di lokasi tersebut adalah Bobonaro Clay menyebabkan terjadinya retakan dan patahan pada ruas jalan. Kondisi ini katanya, sudah dilaporkan ke pimpinan. Sesuai petunjuk pimpinan, jalan yang masih bisa dilewati tetap difungikan. Sementara, untuk penanganannya masih menunggu hasil penelitian yang sementara dilakukan. Dari hasil penelitian itu baru bisa ditentukan cara penanganannya.

Dikatakan, jalan tersebut dikerjakan tahun 2015. “Untuk penanganannya kita masih tunggu hasil penelitian. Dari hasil penelitian itu baru bisa ditentukan penanganannya menggunakan konstruksi apa yang pas dengan jenis tanah Bobonaro Clay,” ungkapnya. (mg30/ays)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!