Timor Express

KUPANG METRO

Diduga Tipu Nasabah, Marketing PT. Taspen Asa Dipolisikan

KUPANG, TIMEX – Kasus dugaan tindak pidana penipuan kembali terjadi. Kali ini diduga melibatkan karyawan PT. Taspen Asa Kupang (TAK), Christin Uskono bersama rekannya Gae Lomi dan Primus Lake.

Ketiganya diketahui bekerja sebagai marketing. Sebagai seorang marketing yang seharusnya melaksanakan tugas dan tanggungjawab secara profesional, jujur dan bertanggungjawab, namun justru kesempatan itu digunakan untuk mengelabui dan menggelapkan uang nasabah.

Aksi dugaan penipuan marketing Taspen Asa Kupang ini dilakukan terhadap seorang kakek berusia 74 tahun bernama, Benediktus Sani, Warga Jl. Hasanudin, RT 25/RW 01, Kelurahan Maubeli, Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara.

Korban kehilangan uang di rekeningnya. Merasa tak puas, Benediktus ke kantor BNI Cabang Kefamenanu melakukan print out dan ditemukanlah sejumlah transaksi gelap dan pengalihan sejumlah dana yang tidak diketahui entah kemana.

“Petugas BNI Cabang Kefa memberi penjelasan bahwa benar terjadi sejumlah penggelapan dana yang ditransfer ke rekening pribadi Marketing Taspen Asa, Christin Uskono sebesar Rp 3.500.000 dan Rp 10.000.000. Belum lagi sisa uang Rp 20.000.000 yang masih raib,” tutur Benediktus kepada awak media di depan SPKT Polda NTT, Sabtu (12/1).

Merasa ditipu, pensiunan PNS dari Kantor Camat Kota Kefa ini didampingi kuasa hukum dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surya NTT, Herry F.F Battileo, SH.,MH., membuat laporan polisi di Polda NTT, dengan nomor laporan LP/B/14/I/2019/SPKT Tanggal 12 Januari 2019.

Benediktus menuturkan, kejadian itu berawal dari kedatangan Christin Uskono selaku marketing Taspen Asa sebagai vendor dari BNI Cabang Kupang bersama koordinator Taspen Asa Wilayah Kupang, Gae Lomi dan Primus Lake ke rumahnya pada Juli 2018 lalu dan menawarkan kredit Taspen Asa melalui BNI Cabang Kupang.

Untuk meraih simpati, tim marketing PT. Taspen Asa Kupang menceritakan kelebihan kredit dana pensiun di Taspen Asa lewat BNI Cabang Kupang.

Christin bersama rekannya, malah mengaku sangat menarik kredit di Taspen Asa karena mendapat sejumlah kemudahan seperti setiap bulan gaji bisa naik dan bunga di BNI sangat kecil.

“Merasa tertarik, akhirnya saya mau untuk kredit di PT. Taspen Asa lewat BNI Cabang Kupang, meski saat itu saya masih berutang di Koperasi Nasari yang belum lunas,”  katanya.

Setelah mengurus semua persyaratan pengajuan kredit di Taspen Asa Kupang lewat BNI Cabang Kupang, sekitar 27 Juli 2018, Benediktus bersama isterinya Monica Buat Talan dijemput pihak marketing Taspen Asa menuju Kupang untuk mengurus pencairan kredit.

Namun, dana kredit belum bisa dicairkan karena BNI beralasan masih diposes di kantor pusat.

“Karena gagal kami memutuskan kembali ke Kefa dan batalkan kredit,” ungkapnya.

Sekitar Agustus 2018, Christin bersama timnya kembali menemui Benediktus dan membujuknya untuk mengajukan kredit di BNI Cabang Kefa.

Namun, pihak BNI Cabang Kefa menolaknya karena Benediktus masih berhutang di Koperasi Nasari.

Tak sampai di situ saja, Christin bersama timnya membawa kakek pensiunan 74 tahun itu menuju BNI Cabang Atambua. Alhasil, pihak bank menyetujui pengajuan kredit.

“BNI cairkan Rp 110.000.000 padahal saya ajukan Rp 124.000.000 dan herannya utang saya tetap tertulis Rp 124.000.000,” katanya.

Setelah pencairan di BNI Cabang Atambua, Christin bersama timnya menuju kantor Koperasi Nasari untuk menutup pinjaman Benediktus sebesar Rp 70.000.000.

Sayangnya, uang sisa dari kredit di BNI Cabang Atambua tidak diserahkan ke Benediktus. Bahkan, buku rekening dan ATM milikya dibawa oleh marketing Taspen Asa, Christin bersama timnya.

“Saya sempat tanya tetapi kata ibu Cristin bahwa uang sisa saya aman. Saya tidak curiga sama sekali karena saya yakin uang sisa sekitar Rp 20.000.000 akan diberikan ke saya, ternyata tidak,” ungkapnya.

Benediktus pun pasrah. Ia bahkan tak mencaritahu keberadaan Christin dan rekannya. Tiga bulan berlalu, sekitar 1 Agustus 2018, salah satu anak buah Chrisitin Primus Lake menemui Benediktus mengembalikan kwitansi penyetoran pembekuan sedangkan buku rekening dan kartu ATM masih ditahan Christin dan timnya.

Selang tiga minggu kemudian, buku rekening dan kartu ATM milik Benediktus dikembalikan oleh orang suruhan Christin. Rupanya aksi Christin tak sampai distu saja.

Pada tanggal 12 November 2018, Christin kembali bersama timnya ke rumah Benediktus dan memaksa mengambil kembali kartu ATM dan buku rekening.

Meski menolak, Benediktus akhirnya menuruti permintaan Christin. Namun, setiba di ATM, ia tak diajak masuk.

Usai melakukan transaksi, Benediktus diantar ke rumahnya dan Christin pun langsung pergi. Bahkan sebelum pergi, Christin masih meminta uang Rp 500.000 untuk transportasi.

“Dia ambil kartu ATM dan paksa saya ke ATM. Waktu itu isteri saya tidak mau karena sudah curiga, tetapi Christin tetap paksa,” tandas Benediktus.

Seminggu kemudian, Benediktus bersama anaknya hendak mengambil uang untuk keperluan rumah tangganya. Namun seluruh uang tabungan sejumlah puluhan juta telah raib.

“Anak saya cek saldo ternyata hanya sisa Rp 428.000. Kami cek ke kantor BNI Cabang Kefa untuk print out tetapi hasilnya sama. Disitulah saya sadar ternyata saya sudah ditipu tim marketing Taspen Asa Kupang,” pungkas Benediktus.

Kuasa hukum Benediktus, Herry F.F Battileo, SH.MH., mengatakan, Benediktus telah ditipu pihak Taspen Asa Kupang.

Pihak Taspen Asa Kupang diduga melanggar Pasal 378 dan atau Pasal 372 KUHP melakukan penipuan dan penggelapan. Dia meminta polisi bekerja profesional untuk mengungkap kasus ini.

“Polisi harus profesional, karena kasus ini akan jadi pintu masuk mengungkap kasus penipuan lain yang terjadi di PT. Taspen Asa Kupang,” tegas Herry. (mg29/joo)

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!