Liberalisasi Kampus – Timor Express

Timor Express

OPINI

Liberalisasi Kampus

 

(Suatu Kejahatan Terstruktur yang Berujung pada Matinya Gerakan Mahasiswa)

Oleh : Ibnu Tokan

Aktivis HMI Cabang Kupang

 

 

Kampus hari ini telah menjadi momok yang menakutkan bagi kalangan elit-elit akademisi seperti mahasiswa, mengapa demikian? Sebab kampus hari ini telah kehilangan jati dirinya sebagai wadah untuk senantiasa dijadikan tempat paling nyaman untuk berdiskusi.

Pengekangan terhadap dunia kampus pertama kali dirasakan pada tahun 1970-an dengan suatu skema peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang kita kenal dengan NKK (Normalisasi Kembali Kampus).

Hal ikhwal yang memicu munculnya NKK ini disebabkan oleh sebagian orang yang memiliki rasa takut bahwa kampus akan menjadi ladang perlawanan paling strategis untuk melawan pemerintahan yang tidak berpihak pada rakyat.

Ketakutan itu memang nyata adanya, disebabkan karena pada masa 1960 sampai 1970-an , salah satu  universitas ternama yakni Universitas Indonesia yang pada masa itu telah menjadikan kampus sebagai tempat paling nyaman untuk berdiskusi  dan kemudian melahirkan solusi perlawanan bagi pemerintah yang tidak pro terhadap rakyat.

Soe Hok Gie dalam buku catatan seorang demonstran, adalah seorang intelektual muda yang senantiasa berdiri pada garis idealisme, di kisahkan bahwa beliau adalah seoarang mahasiswa sastra jurusan  sejarah di Universitas Indonesia yang dalam kesehariannya bersama dengan beberapa mahasiswa lainnya telah melakukan diskusi-diskusi persoalan bangsa yang berujung pada parlemen jalanan disebabkan karena meilhat ada yang tidak beres di tubuh pemerintahan waktu itu.

Perlawanan yang dilakukan soe hok goe berakhibat fatal sebab garis idealisme yang ia bangun selama ini tidak bisa lagi membendung arus balik perlawanan yang dimainkan oleh elit-elit politik waktu itu.

Hal ini berujung pada kematian beliau di lembah mandalawangi yang sampai hari ini kematian beliau masih belum jelas akhibatnya. Ada yang mengatakan akhibat keracunan dan ada juga yang mengatakan akhibat penyakit yang ia derita.

Kisah ini mengajarkan kepada kita, seperti apa yang disampaikan oleh bapak revolusi yang terlupakan yakni Tan Malaka bahwa “idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh seorang pemuda”.

Pemuda dalam bahasanya Ali Syariat sebagai “kaum yang tercerahkan” harusnya lahir sebagai pelopor dan petarung-petarung sejati yang senantiasa jengkel akan kekuasaan dan selalu lahir sebagai partner terbaik pemerintah untuk memberikan teguran kepada mereka jika kebijakan yang diambil tidak pro terhadap rakyat

Namun fakta hari ini berbading terbalik dengan realitas yang kita alami, di sebabkan banyak sekali pemuda yang dengan sangat mudah terperosok kedalam godaan-godaan kekuasan. Banyak yang lahir sebagai pengecut ulung yang senantiasa bersembunyi di balik ketiak kekuasaan dan akhirnya menjelma sebagai pengkhianat atas apa yang di katakan oleh Tan Malaka.

Mari kita belajar pada lembar sejarah ketika tahun 1998, pemuda dan mahaiswa hadir bagaikan rasul-rasul yang membawa perubahan atas peradaban yang telah lama berada dibawah sebuah rezim yang sangat otoriter. Mereka hadir dengan satu slogan yakni “Reformasi”. Slogan ini kemudain mendarah daging pada diri setiap pemuda dan mahsiswa pada masa itu sehingga setiap perjuangan yang mereka lakukan demi kemaslahatan rakyat telah menjadi sebuah jalan mati syahid yang sangat di dambakan.

Mahsiswa yang tergabung dalam gerakan 1998 kala itu adalah mahasiswa yang tergabung dari berbagai Universitas di seluruh penjuru negeri ini. Mereka hadir dan berdiri di atas garis idelaisme untuk menuntut perubahan akhibat telah merajalelanya KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) di bangsa ini.

Banyak tragedi yang terjadi pada waktu itu, mulai dari peristiwa cimanggis, peristiwa gejayan dan berujung pada sebuah tragedi besar yakni tragedi Trisakti.

Tragedi-tragedi ini merupakan utang kemanusia yang harus dibayar harganya, sebab orang-orang yang punya kepentingan waktu itu seakan-akan berlaku seperti tuhan yang dengan sesukanya merenggut nyawa dari para mahsiswa.

Medan laga merupakan sebuah pertempuran untuk mempertahankan harga diri, medan laga adalah merupakan sebuah pertempuran untuk menentukan akankah kita mati sebagai pahlawan atau mundur sebagai pengkhianat. Silahkan memilih sendiri, kita posisi yang mana!!!

Ada Apa dengan Mahasiswa Hari Ini?

Sejarah telah mencatat bahwa orang-orang yang lahir sebagai pahlawan adalah orang-orang yang senantiasa berdiri pada garis perjuangan yang telah merelakan darah, air mata, tangisan, bahkan nyawa sekalipun untuk menegakan yang namanya kebenaran kebenaran.

Tetapi hari ini sejarah banyak di kamuflase demi kepentingan sesaat, sejarah bukan lagi menjadi hal yang indah untuk dikenang dan siap di legendakan dari generasi ke generasi, namun sejarah telah berubah bentuk menjadi senjata paling menakutkan untuk menakut-nakuti anak bangsa dari generasi ke generasi.

Mengapa demikian?

Sebab sejarah perjuangan mahasiwa hari ini tidak lagi menjadi sejarah pembakar semangat untuk meneruskan estafet perjuangan namun telah berubah wujud menjadi dongeng dikala tidur dan menjadi cerita yang membosankan.

Sekali lagi, Ini merupakan kesalahan terbesar sepanjang sejarah yang harus dibayar harganya, sebab kurikulum hari ini telah menggali kubur sedalam 20 meter untuk mengubur sejarah perjuangan mahasiswa dan diganti dengan sejarah perjuangan para pahlawan yang hanya berada pada pusaran kulit luar namun tidak menembus sampai kepada esensi dari sebuah perjuangan.

Dunia pendidikan tidak lagi melahirkan pemikir-pemikir ulung namun berubah wujud menjadi semi perusahaaan yang siap melahirkan orang-orang hebat untuk ditempatkan pada dunia kerja sesuai dengan basic keilmuannya masing-masing.

Bukan hanya itu saja, namun dunia pendidikan dalam hal ini kampus telah melakukan pengekangan kebebesan individu lewat kebijakan-kebijakan lucu lainnya. Salah satu contoh yakni pengurangan jumlah semester yang dulunya empat belas (14) semester menjadi sepuluh (10) semester yang dengan tujuan agar mahasiswa hanya sibuk dalam dunia perkuliahan dan melupakan masalah-masalah sosial yang menjadi tujuan utama sebagai agent of change’s dan alat kontrol sosial.

Mahasiswa dikekang oleh sistem, yakni dituntut untuk cepat wisudah, hadir dalam setiap perkuliahan dan mengisi daftar hadir yang menjadi tolak ukur soft skill, dan membayar biaya perkuliahan yang semakin hari semakin mahal di akhibatkan oleh salah satu kebijakan yang tidak rasional yakni UKT (Uang Kuliah Tunggal).

Ini adalah fakta sejarah yang tidak bisa kita nafikan.

Sejarah perjuangan mahasiswa dari 1960 an-199O an hari ini telah kehilangan taringnya.

Ada apa dengan mahasiswa? Apakah kita hanya bersembunyi dibalik jubah kebesaran sejarah perjuangan kita?  Kita bagaikan sekelompok domba yang siap di gembala kapanpun dan kemanapun oleh elit-elit pemerintahan hari ini kawan.  Kita terlalu lama tertidur sehingga kita lupa bagaimana caranya untuk bangun kembali dan meneruskan perjuangan.  Perjuangan tidak akan sampai disini kawan-kawan.  Sebab utang kemanusia belum terbayar lunas sampai detik ini. Tragedi kemanusiaan masih terlalu banyak yang harus di selesaikan.  Mari sama-sama kita kembalikan tujuan suci kita sebagai agent of change’s dan alat kontrol sosial. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!