Timor Express

RELIGI

SIKAP SEORANG MUSLIM DALAM BERNEGARA

ILUSTRASI: NET

 

 

Oleh:  Dr. H. Farid Wajdi Ibrahim, MA

(Guru Besar Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh)

 

Sebagaimana kita yakini, bahwa Nabi Muhammad saw, adalah Nabi dan Rasul terakhir yang diutus Allah swt kepada segenap umat manusia di alam jagat raya ini. Nabi yang mu’jizatnya Al Qur’an, imamnya Al Qur’an, akhlaqnya Al Qur’an, dan penghias dadanya, cahaya hatinya juga penghilang kesedihannya adalah Al Qur’an Beliau diutus dengan tugas menyampaikan risalah Islam sekaligus sebagai rahmatan lil’alamin (sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta) yang penuh dengan contoh teladan utama.

Risalah Muhammad SAW, tidaklah berakhir pada rumus-rumus kaidah filsafat yang universil dan abstrak, yang dilepaskan mengapung di awang-awang untuk di lihat dan dikagum-kagumi atau dalil-dalil theologi untuk dikunyah-kunyah sambil duduk manis.

Tujuan risalah adalah untuk “menghidupkan kesempurnaan “ manusia sehingga benar-benar hidup!. Risalah Muhammad SAW membina pribadi sebagai “social being‘ mencetak ummat yang mempunyai corak dan tujuan hidup yang tentu. Hidupnya berisikan amal yang shalih, pancaran iman; keduan kakinya terpancang di bumi , jiwanya menjangkau langit.

Saat ini kita sedang dihadapkan dengan sebuah pernyataan dan kenyataan, bahwa bangsa ini sedang menghadapi krisis Multi Dimensional, apalagi di tahun 2019 yang identik dengan tahun politik, begitu parah krisis yang dihadapi baik bersifat lisan maupun perbuatan, sehingga susah mengambil benang merahnya sisi mana yang lebih dominan dan mana yang harus didahulukan, penyebaran berita tidak benar (HOAX) menjadi tradisi di kalangan masyarakat, bahkan belum ditemukan solusi yang jitu dalam penyelesaiannya, akhirnya bangsa ini berada dalam posisi bias. Padahal Allah swt dalam firmatnya:

Artinya:  Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisa: 59)

Dalam Ayat ini, Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk taat kepada-Nya, dan juga taat Kepada Rasul-Nya dan ulil amri. Namun taat kepada ulil amri tidak semutlak taat kepada Allah dan Rasul-Nya, karena terkadang ada ulil amri yang tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu Allah memerintahkan untuk ingkar kepada ulil amri tersebut, sebagaimana Allah memerintahkan untuk mengingkari Thaghut, karena ia selalu memusuhi Nabi dan kaum muslimin, termasuk Thaghutjuga ialah orang yang menetapkan hukum secara hawa nafsu dan juga menyembah berhala. Karena itu juga ulil amri diharuskan menetapkan perkara harus dengan jalan ijtihad dan musyawarah, tidak boleh secara hawa nafsu.

Pada ayat lain Allah SWT berfirman:

Artinya:  Dan Barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya,   Maka Sesungguhnya pengikut (agama) Allah Itulah yang pasti menang. (QS. Al-Maidah: 56)

Padahal kalau kita berkaca kepada krisis yang dihadapi oleh Nabi Muhammad SAW pada masanya, justru dengan mudah beliau menyelesaikannya, nyaris penyelesaiannya tanpa kekerasan dan pemaksaan, justru hanya dengan penerapan akhlakul karimah sebagai andalannya. Strategi yang dilakukan oleh Rasulullah, sesuai dengan sabdanya ‘Ibda’ Binafsik yang artinya “Mulailah dari diri anda“.

Islam dan Negara

Islam merupakan agama yang komprehensif dan universal. Ajarannya mengatur berbagai aspek kehidupan masyarakat. Nilai-nilai Islam dapat dipakai untuk mencapai kemajuan dan kedamaian, bukan hanya oleh muslim tetapi juga oleh non-muslim. Islam bukan agama yang menjadi ancaman bagi golongan tertentu, tetapi Islam adalah sumber keadilan yang melindungi masyarakat dari tindakan kezaliman, serta membangun keharmonisan antar umat beragama dalam bernegara. Etika bernegara dalam Islam jelas menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan mengutamakan prinsip musyawarah, sebagaimana firman Allah Swt: “Bermusyawarahlah untuk berbagai urusan.” (QS. Ali Imran: 159).

Al-Quran sebagai way of life umat Islam telah menggambarkan sebab-sebab kehancuran sebuah negara, sebagaimana firman Allah Swt: “Dan kami tidak membinasakan suatu negeri, kecuali penduduknya melakukan kedhaliman.” (QS. al-Qashash: 59). Tindakan zalim yang dilakukan oleh penduduk merupakan faktor hancurnya negara, dan kehancuran bangsa ditandai dengan rusaknya moral masyarakat. Sedangkan inti moral masyarakat adalah terletak pada kemampuan bersikap adil dan tidak menzalimi, karena akhlak yang paling tinggi adalah ketika dapat menjaga diri dari perbuatan menyakiti orang lain, baik secara lisan maupun perbuatannya.

Dalam sebuah hadis Nabi saw bersabda: “Muslim yang sejati adalah yang dapat menjaga keselamatan manusia dan mukmin yang sejati adalah yang dapat memberi aman kepada manusia.” (HR. an-NasaaI). Di samping itu, Al-Quran juga mengingatkan para pembesar dalam sebuah negara agar menjauhkan dari tipu daya jahat, karena tipu daya mereka, menjadi sebab hancurnya negara, sebagaimana firman-Nya: “Dan demikian pada setiap negeri kami jadikan pembesar-pembesar yang jahat agar melakukan tipu daya di negeri tersebut. Padahal mereka hanya menipu diri sendiri tanpa menyadarinya.” (QS. al-An’am: 123).

Setiap orang yang telah diberi amanat oleh negara untuk menduduki sebuah jabatan, sekurang-kurangnya memiliki dua tanggung jawab: Pertama, tanggung jawab sebagai warga negara dan kedua, tanggung jawab sebagai pelaksana amanat negara. Kelalaian dan ketidakpedulian terhadap tanggung jawab, menjadi sebuah kesalahan besar bagi seorang pejabat negara, karena nadi kehidupan rakyat berada dalam genggamannya.

Pada sisi lain kita juga mengetahui hak dan kewajiban seorang warga negara, di antara hak warga negara adalah mendapat perlindungan keamanan, keadilan dalam hukum, mendapatkan pendidikan dan jaminan kesehatan, memperoleh jaminan kesejahteraan dan kehidupan yang layak, kebebesan dalam memeluk agama dan beribadah sesuai dengan keyakinan masing-masing, mendapatkan jaminan kebebasan dalam berpendapat dan berbicara, mendapatkan hak pilih pada PILPRES, PILEG ataupun PILKADA, dan lain sebagainya. Begitu juga  dengan kewajiban warga negara yang juga selurus, sebanding dengan hak yang diperoleh yaitu berkewajiban membela negara (NKRI), kewajiban membayar pajak, mematuhi undang-undang atau aturan yang berlaku dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, sikap kedewasaan dan kesadaran dalam bernegara mutlak diperlukan oleh setiap warga negara terutama umat muslim, supaya negara dapat berdiri tegak dan aman. Rasa nasionalisme dan hubbul wathan juga mesti ditumbuhkan. Konflik yang terjadi dalam sebuah negara, menandakan sendi-sendi nasionalisme telah rapuh. Konflik, sesungguhnya merupakan senjata pemusnah paling ampuh, baik konflik vertikal maupun konflik horizontal, dan konflik horizontal lebih berbahaya, karena bukan hanya menghancurkan umat, tetapi juga menghancurkan negara dan bangsanya secara total.

Sikap dalam Bernegara

Dari terjemahan surat An-nisa ayat 59 di atas, kita dapat mengambil beberapa intisari pelajaran yang sangat berharga mengenai sikap seorang muslim dalam berbangsa dan bernegara, pertama, kita diwajibkan untuk menjalankan perintah Allah yang telah diwahyukan melalui Al-Qur`an, kita diperintahkan-Nya untuk tetap terus berpegang teguh kepada Al-Qur`an dan menjadikannya sebagai landasan dari perilaku kita khususnya dalam konteks ini yaitu berbangsa dan bernegara karena Al-Qur`an merupakan primary source dari segala permasalahan. Dalam berbangsa dan bernegara, kita harus yakin bahwa dengan mengikuti serta mengaplikasikan nilai-nilai Al-Qur`an, konsep berbangsa dan bernegara kita sesuai dengan perintah Allah.

Kedua, kita diperintahkan untuk menaati Rasulullah yang telah membimbing kita melalui ajaran-ajarannya,  salah satunya adalah “sunnah” yang merupakan perkataan, perbuatan, dan diamnya nabi atas suatu perkara. “Sunnah” dalam kaitannya dengan Al-Qur`an merupakan sumber hukum kedua setelahnya yang mempunyai banyak fungsi salah satunya adalah menerangkan ayat Al-Qur`an yang bersifat umum dan memperkuat serta memperkokoh pernyataan dari ayat Al-Qur`an. Terakhir, kita diperintahkan untuk taat kepada kalangan yang memegang otoritas baik dalam pemerintahan, masyarakat atau keluarga, tetapi prinsip ketaatan ini harus memenuhi prasyarat atau dengan kata lain bersifat tanpa reserve,artinya pemimpin itu harus ditaati selama dia menjalankan perintah Allah dan Rasulnya.

Berbangsa dan bernegara menurut Al-Qur`an hanya sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, oleh karena itu berbangsa dan bernegara harus diyakini merupakan salah satu ibadah yang tidak kalah pentingnya dengan ibadah-ibadah yang lainnya, karena ini kaitannya dengan bangsa, negara serta entitas pendukungnya yaitu warga negara.

Berbangsa dan bernegara mempunyai berbagai variable-variable yang saling mendukung satu dengan yang lainnya, dari sekian banyak variable itu ada beberapa variable yang harus kita perhatikan yaitu persatuan dan kesatuan yang merupakan aspek penting dalam kesatuan konsep berbangsa dan bernegara. Tidak dapat disangkal bahwa Al-Qur`an memerintahkan persatuan dan kesatuan secara jelas, sejelas Allah menyatakan dalam Al-Qur`an surat Al-Anbiya ayat 92 “Sesungguhnya umat ini adalah umat yang satu”. Dari persatuan dan kesatuan itu, sikap memiliki atau nasionalisme akan rasa kebangsaan dan kenegaraan kita akan terasah dan semakin tajam.

Jadi, jelas bahwa setiap negara lahir dan berdiri sesungguhnya karena didasari oleh suatu cita-cita dan tujuan yang ingin diraihnya dalam penyelenggaran bernegara bagi kehidupan masyarakat. Cita-cita yang ingin diraih itu diwujudkan dalam bingkai kebangsaan dan kenegaraan sebagai pijakan awal arah perjuangan.tanpa memiliki cita-cita dan tujuan, maka kita akan kehilangan arah dalam merealisasikannya. Terlepas dari itu semua, ada hal yang lebih penting, yakni landasan, pola pikir dan pijakan yang merupakan langkah awal sebelum melangkah lebih jauh ke arah tujuan dan cita-cita harus benar-benar terbingkai dalam frame yang jelas, dalam kaitan ini jelaslah bahwa bingkai keislaman melalui nilai-nilai Al-Qur`an harus menjadi langkah awal dalam berbangsa dan bernegara, karena sudah jelas bahwa Al-Qur`an dengan segala mukjizatnya merupakan solusi yang aplikatif yang dapat menjawab permasalahan Bangsa Indonesia selama ini, sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-A`raaf ayat 52 yang artinya: “Dan sesungguhnya kami telah mendatangkan sebuah kitab (Al-Qur`an) kepada mereka yang kami telah menjelaskannya atas dasar Pengetahuan kami, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

Diakhir khutbah ini marilah kita pertanyakan kembali: bagaimana sikap habluminannas kita antar sesama, terutama dalam bernegara. Di zaman globalisasi ini, banyak orang yang mengaku islam tapi akhaknya tidak seperti yang diajakan Rasulullah saw. Banyak orang yang akhlaknya sudah rusak karena pengaruh sekularisme, dan pengaruh-pengaruh lain dari barat. Sangat memprihatinkan keadaan tersebut. Jika generasi penerus bangsa memiliki sikap atau perilaku tidak bagus, lalu mau jadi apa negara kita ini? Jika disuatu saat nanti, indonesia dipenuhi budaya yang seperti ini, warga tidak memiliki sikap (akhlak) seperti memilih presiden yang tidak berakhlak. Bisa anda bayangkan keadaan negeri kita jika keadaannya seperti itu? Dari kasus tersebut, salah satu sikap yang penting yang harus kita ketahui adalah sikap dalam bernegara.

Bagaimana seharusnya sikap kita sebagai manusia yang taat kepada Allah menjalankan kewajiban sebagai seorang warga negara dalam suatu negara? Bernegara di dalam islam sudah terjadi sejak zaman Rasulullah saw. banyak hal yang harus kita lakukan untuk memenuhi kewajiban kita sebagai hamba Allah dan juga sebagai Warga negara. Patuh terhadap aturan negara juga merupakan salah satu yang Allah perintahkan. Pertanyaannya sekarang adalah, sudahkah kita menjadi orang yang dapat digolongkan sebagai pengikut Rasulullah Saw atau belum, atau bahkan bertentangan dengan sifat dan sikapnya?

Inilah yang mungkin patut untuk kita renungkan masing-masing. Siapapun kita dan apapun profesi atau pekerjaan kita, masih terbuka bagi kita untuk merubah pola pikir dan pola tindak kita untuk mencoba mengikuti jejak para pengikut Rasulullah Saw. yang telah mendahului kita. Demikian uraian khutbah ini dengan harapan agar kita senantiasa tergugah dengan sentuhan ayat-ayat Allah Swt. dan berusaha merubah pola hidup kita, menjadi sosok yang mau mengikuti sifat dan sikap Rasulullah Saw.

Khatib Guru Besar Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!