Sebulan NTT Kirim 4 Ton Kelor – Timor Express

Timor Express

RAGAM

Sebulan NTT Kirim 4 Ton Kelor

KEMBANGKAN KELOR. Perwakilan Sertifikat Organik Ceres Jerman, Denis Jaenicke (kiri) saat berada di kebun kelor milik Antonius Laiskodat di Desa Otan Pulau Semau, Senin (4/2).

  • PT. MOI Kerja Sama Perdana Pembelian Kelor
  • Hadirkan Verifikator Asal Jerman

KUPANG, TIMEX – Program revolusi hijau dengan tanaman kelor atau marungga di Provinsi NTT mulai dilirik.
Tokoh kelor Indonesia yang sudah dikenal seantero dunia, Ai Dudi Krisnandi telah menandatangani kerja sama produksi dan pengolahan hingga penjualan kelor di NTT.

Sebagai langkah awal, Ai Dudi Krisnandi yang juga Direktur sekaligus owner PT. Moringa Organik Indonesia (MOI) menggaet delapan petani kelor (keloris) dari Kabupaten Kupang. Kerja sama itu ditandai dengan penandatanganan kerja sama di Graha Kelor, Jalan Piet Tallo, Kelurahan Oesapa Selatan, Kota Kupang, Selasa (5/2).

Kedelapan keloris tersebut tersebar di Oeteta, Tilong hingga Kecamatan Kupang Barat dan Kecamatan Semau, Kabupaten Kupang. Mereka merupakan petani kelor binaan lembaga Wahana Visi Indonesia (WVI).

Untuk mendapatkan kelor dengan kualitas terbaik, PT. MOI tidak main-main. Mereka menghadirkan verifikator asal Jerman untuk memastikan kelor yang dibeli benar-benar memenuhi standar pasar. Salah satunya adalah bebas dari pestisida.

Ai Dudi Krisnandi jelaskan, untuk menghasilkan kelor yang berkualitas, harus memenuhi SOP yang mereka patok. Yakni mulai dari lahan yang digunakan, yakni belum terkontaminasi dengan obat atau pupuk atau pestisida. Selanjutnya, kelor yang akan diolah, mulai dari daun dan biji juga harus memenuhi standar higien.

“Selama ini banyak yang bilang, PT.MOI yang akan beli. Tapi tidak semua. Harus yang sesuai dengan SOP,” kata Ai Dudi Krisnandi. Ai didampingi Kabinda NTT Brigjen Adrianus S. A. Nugroho yang juga pernah mengembangkan kelor di NTT, khususnya klaster biji pada tahun 2012 lalu. Hadir pula Team Leader WVI Zona NTT, Hestin Klaas, Perwakilan Sertifikat Organik Ceres Jerman, Denis Jaenicke dan salah satu pengusaha asal Indonesia yang menetap di Amerika, Irwan Rusli.

Dudi katakan, masyarakat NTT patut berbangga karena Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat memberikan perhatian serius terhadap pengembangan kelor di NTT. Karena menurut dia, kelor di NTT adalah yang terbaik kedua di dunia, jika dikembangkan dan dikelola sesuai dengan SOP yang mereka syaratkan. Pasarnya, pasar kelor di dunia mencapai ribuan triliun rupiah.

Namun dengan produksi di NTT yang belum maksimal, dia ingin mengelolanya untuk memenuhi kebutuhan di NTT. Mulai dari teh, coklat, sabun, sampo, mie kelor dan beberapa produk lainnya. Bahkan PT. MOI siap memberikan pelatihan secara cuma-cuma kepada masyarakat NTT yang ingin belajar. “Ini yang perdana dengan delapan orang. Jadi kerja sama ini, kami akan beli setiap bulan 500 kilogram dari masing-masing keloris. Sehingga total 4 ton setiap bulan. Karena baru, kita kasi kompensasi. Jadi tidak memenuhi 500 pun tidak apa-apa,” terang dia.

Denis Jaenicke yang diwawancara Timor Express mengaku telah melakukan verifikasi lapangan terhadap lahan-lahan dan tanaman kelor di lokasi yang menjadi target kerja sama PT.MOI tersebut. Salah satunya adalah lahan milik Antonius Laiskodat di Pulau Semau. Menurut dia, meski dimulai tanpa pendampingan memadai, namun lahan kelor yang sudah siap panen tersebut sudah memenuhi standar awal.

Menurut Denis, lebih disarankan lahan baru agar bebas dari pestisida. Pasalnya, standar untuk mendapat sertifikat sesuai SOP tersebut wajib. Hal ini untuk menjaga kualitas kelor NTT sebelum masuk dalam komoditi ekspor. “Nanti kita akan bawa sampelnya untuk diperiksa di laboratorium. Kalau ada pestisida, pasti terdeteksi semua,” kata Denis.

Sementara Kabinda NTT, Brigjen Adrianus S. A. Nugroho yang juga mantan Kepala Staf Korem 161 Wirasakti Kupang menambahkan, saat bertugas di Korem 161, pihaknya sudah mengembangkan kelor, namun tidak ada perhatian dari pemerintah.
Dengan komitmen gubernur NTT saat ini, Adrianus mengaku sangat bersyukur karena akan membantu peningkatan ekonomi masyarakat NTT ke depan. Dia mengimbau masyarakat untuk ikut mendukung program tersebut, karena kebutuhan kelor dunia sangat tinggi. Bahkan pihaknya sudah menerima tawaran dari sejumlah negara dengan jumlah kebutuhan yang sangat jauh lebih besar dari produksi yang ada di NTT.

Untuk menjaga kualitas kelor di NTT, dia berharap masyarakat mengikuti saran dari pihak yang sudah berkompeten seperti PT. MOI. “Sudah ada beberapa pengusaha yang masuk, tapi tidak menggunakan SOP kita. Jadi jangan sampai merusak nama kelor NTT,” tandasnya.

Irwan Rusli menambahkan, dirinya siap menyalurkan ekspor kelor ke Amerika. Namun harus sesuai dengan standar. Selain harus organik, proses pengolahannya pun benar-benar diperhatikan. Karena tidak menggunakan pestisida, Irwan ingatkan untuk teliti terhadap hama yang kemungkinan terselip pada daun kelor.

Untuk packaging atau pembungkus kelor yang sudah diolah pun menurut Irwan harus tetap berstandar. “Harus pakai masker. Supaya jangan sampai ada rambut sehelai masuk ke dalam kelor. Itu bisa menjadi masalah, karena akan komplain. Kita harus jaga ini, karena pasarnya masih sangat besar,” harap dia. (cel/sam)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!