Rektor UKAW Kupang, Frankie Jan Salean dan Ketua KBPM – Timor Express

Timor Express

PENDIDIKAN

Rektor UKAW Kupang, Frankie Jan Salean dan Ketua KBPM

Hengky Ndolu menyerahkan secara simbolis bibit kelor kepada perwakilan mahasiswa Usai ibadah bersama di Gedung Gereja GMIT Jemaat Paulus Oepura Jln Jenderal Soeharto, Naikoten, Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang, Sabtu (9/2).

INTHO HERISON TIHU/TIMEX

UKAW Sukseskan Revolusi Hijau Melalui KBPM

KUPANG, TIMEX-Program Revolusi Hijau oleh Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat terus mendapat dukungan. Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang melalui Kegiatan Belajar dan Pendampingan Masyarakat (KBPM) mendukung program dengan tanaman kelor atau marungga itu.

Dalam KBPM untuk semester ganjil 2018/2019 kali ini, para mahasiswa di setiap lokasi KBPM masing-masing membantu pemerintah provinsi NTT mensosialisasikan dan melakukan gerakan penanaman anakan kelor kepada masyarakat.

Tidak hanya program Revolusi Hijau, beberapa program unggulan yang dicanangkan gubernur dan wakilnya, akan dikembangkan sesuai kondisi desa tujuan.

Upaya menyukseskan Revolusi Hijau ini akan ditandai dengan penanaman bibit kelor di pekarangan rumah warga maupun lahan kosong yang disiapkan masyarakat.

Sebagai bentuk dukungan, pihak kampus menyediakan bibit kelor sebanyak 120 kilogram dan dibagikan kepada seluruh kelompok mahasiswa. Masing-masing kelompok mendapat 1,5 kilogram dan akan ditanam di lokasi KBPM.

Penyerahan bibit ini dilakukan secara simbol oleh Rektor UKAW Kupang, Frankie Salean dan Ketua KBPM, Hengky Ndolu kepada sembilan perwakilan dari masing-masing Kabupaten. Acara tersebut berlangsung Gereja GMIT Paulus Oepura Kota Kupang, yang diawali dengan ibadah bersama, Sabtu (9/2).

“Kami telah merencanakannya kegiatan ini selama kurang lebih 4 tahun lalu dan program KBPM sudah berlangsung beberapa semester. Pada semester ganjil ini, kita berikan pendampingan yang berbeda, yakni dengan perencanaan dan pengawalan untuk melakukan penanaman kelor untuk masyarakat desa,” ungkapnya.

Frankie tambahkan, mahasiswa diberikan pertanyaan refleksi. Pasalnya, saat mereka diterjunkan ke desa, masyarakat menganggap mahasiswa telah mempelajari semua hal. Sehingga mereka harus memposisikan diri agar memberikan pendampingan kepada masyarakat secara baik.

“Meski kita sebagai mahasiswa dengan pengalaman kita yang terbatas, namun masyarakat menganggap kita mampu dalam segala hal. Untuk itu, kita memberikan pendampingan sambil belajar dari kehidupan masyarakat,” kata Frangkie.

Ketua KBPM, Hengky Ndolu menjelaskan, total mahasiswa yang ikut KBPM semester ganjil ini 1.055 dan sudah didistribusikan ke 9 Kabupaten, 21 Kecamatan dan 77 desa di NTT.

“Sembilan kabupaten tersebut, yakni Kabupaten Kupang, TTS, TTU, Belu, Malaka, Sumba Barat Daya, Sumba Barat, Sabu Raijua dan Rote Ndao. Sedangkan kepada mahasiswa yang memiliki kepentingan khusus (sakit) melakukan KBPM di Kampus,” katanya.

KBPM semester ganjil 2018/2019 ini berlangsung selama 2 bulan, terhitung tanggal 11 Februari sampai 31 Maret.

Mahasiswa yang diterjunkan harus menyusun program kerja tersendiri. Namun program yang sudah disampaikan pihak kampus, yakni dilakukan pelengkapan buku dan administrasi desa serta dilakukan penanaman kelor di pekarangan rumah warga. Harapannya, masyarakat dapat mendukung program pemerintah dengan program unggulannya Revolusi Hijau.

“Selain program yang diutamakan tersebut, mahasiswa juga dapat membuat programnya sendiri didampingi dosen pendamping yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat desa,” jelasnya.(mg29/cel)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!