Timor Express

KUPANG METRO

Sudah 347 Kasus DBD

FOGGING.Petugas Dinas Kesehatan Kota Kupang Terus Lakukan Fogging Di Berbagai Kelurahan Di Kota Kupang, Jumat (8/2).

FENTI ANIN/TIMEX

Dinkes Gencar Lakukan Fogging

KUPANG, TIMEX – Data Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Kupang per Senin (11/2) sudah 347 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang dr. Ari wijana, mengatakan, angka kumulatif kasus DBD di Kota Kupang akan terus naik, karena hampir setiap bulan akan ada kasus.

“Tetapi secara kurva harian kasusnya terus menurun. Karena setelah penetapan KLB, kenaikan kasus perharinya bisa mencapai 20 kasus. Angka ini juga terus menurun seiring dengan berbagai upaya yang dilakukan termasuk peran serta masyarakat,” ujarnya.

Ari menjelaskan, status Kejadian Luar Biasa (KLB) bisa dicabut jika secara kurva harian angka kasus DBD dibawah enam kasus.

“Misalnya dari 20 kasus per hari, turun menjadi 18 kasus, selanjutnya turun ke enam kasus, dan seterusnya enam kasus hingga lima kasus. Maka otomatis secara harian trennya menurun di normal, maka status KLB dapat dicabut,” ujarnya.

Untuk itu kata Ari Wijana, kasus DBD di Kota Kupang dari Januari sampai Desember 2019, akan ada seribu kasus. Karena setiap bulan kasus DBD itu selalu ada.

Selain itu, Ari mengaku, alat fogging kesehatan pelabuhan yang akan dipinjam Pemkot Kupang, ternyata rusak dan setelah dilihat dan dicoba untuk diperbaiki ternyata tidak bisa.

“Karena alat itu hanya bisa diperbaiki di Cina dan tidak ada di Indonesia. Maka alat itu tidak bisa dipakai. Kami akhirnya meminjam dua alat fogging dari kesehatan pelabuhan, semua alat fogging yang ada di Dinkes dan yang dibantu oleh pihak yang membantu, akan kami gunakan untuk melakukan fogging selektif,” ujarnya.

Ari melanjutkan, jika ada pihak-pihak yang membantu untuk melakukan fogging atau berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan untuk membantu, maka tentunya dinas sangat senang. Tetapi harus dikoordinasikan agar tidak terjadi pendobelan.

Ari menambahkan, langkah yang diambil Dinas Kesehatan adalah dengan terus melakukan fogging selektif dan fogging fokus, pemberantasan sarang nyamuk, dan gerakan pembersihan lingkungan.

“Posko DBD yang ada di semua Puskesmas dan di Dinas Kesehatan juga selalu standby 24 jam. Prinsipnya semua upaya pencegahan terus kami lakukan,” sebut Ari Wijana.

Sementara itu, menangani kejadian luar biasa (KLB) DBD di Kota Kupang, Pemkot Kupang mengalokasikan anggaran senilai Rp 1,5 miliar.

Total anggaran tanggap darurat tersebut bersumber dari Badan Keuangan Daerah senilai Rp 1 miliar dan Dinas Kesehatan senilai Rp 500 juta.

Anggaran tanggap darurat ini diputuskan dalam rapat bersama Dinas Kesehatan Kota Kupang dengan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Kota Kupang.

Anggaran ini akan digunakan untuk melakukan fogging massal, pembelian abate dan membiayai pasien DBD yang dirawat di rumah sakit, setelah ditetapkannya status KLB. Jaminan ini hanya berlaku bagi warga Kota Kupang. 

Ari Wijana mengaku, dengan telah disetujuinya anggaran tersebut, maka segera digunakan untuk fogging massal, menambah abate dan membiayai pasien DBD. 

“Untuk pengadaan alat fogging, rencananya akan ditunda sampai perubahan anggaran, karena memang waktu untuk memesan alat fogging bisa sampai tiga bulan,” ungkap Ari. 

Sementara itu, Dinas Kesehatan masih terus melakukan berbagai upaya pencegahan dan penanganan DBD, sampai ke rumah-rumah warga. 

Mantan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang itu mengaku, sesuai perhitungan mereka, penetapan status KLB DBD sebenarnya terjadi tahun depan sesuai siklus sepuluh tahunan, yakni tahun 2015 Kota Kupang tidak KLB DBD, dan baru akan KLB di tahun 2020, karena Kota Kupang pernah KLB DBD di tahun 2010 lalu. Tetapi KLB DBD terjadi kemajuan di tahun 2019.

“Memang tetapkan status KLB DBD ini secara global dan nasional terjadi kemajuan. Sehingga penetapan Kota Kupang status KLB DBD sesuai kajian dinas yang mana ada faktor teknis dan non teknis. Maka sesuai laporan tersebut, Wali Kota menyatakan jika secara kurva DBD meningkat harus segera ditetapkan status KLB sebelum orang meninggal, sebab tidak ada guna orang meninggal dengan dana Rp 1 miliar, atau nyawa tidak bisa dibayar atau digantikan dengan uang,” jelasnya.

Menurutnya, kasus DBD ini biasanya terjadi pada anak-anak, namun sekarang lebih banyak menyerang orang dewasa, dan juga untuk nyamuk demam berdarah yang dulunya senang di air bersih, tapi sekarang nyamuk ini lebih suka pada tempat yang bersemak.

Dan untuk kondisi daerah ini masih banyak semak, sehingga dengan ada gerakan Jumat Bersih, diharapkan dapat membantu memutuskan jaringan jentik nyamuk DBD.

“Selain Jumat Bersih, upaya lain dalam pencegahan DBD terus dilakukan dinas, yakni melalui gerakan abatesasi, foging fokus dan selektif, serta pembukaan Posko DBD selama 24 jam di tiap Puskesmas yang ada di Kota Kupang dan di Dinas Kesehatan,” jelas Ari Wijana.

Sebelumnya, Ketua TAPD Kota Kupang Yos Rera Beka yang merupakan Penjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Kupang, mengatakan, prinsipnya adalah semua upaya untuk mencegah DBD dan menurunkan status KLB DBD di Kota Kupang akan dilakukan.

“Semua anggaran yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah ini tentunya kami akan berikan. Ini masalah kehidupan masyarakat Kota Kupang,” kata Yos.

Sementara, Wali Kota Kupang Jefri Riwu Kore, mengaku semua anggaran yang dibutuhkan untuk membantu masyarakat Kota Kupang harus diberikan, berapapun jumlahnya.

“Uang tidak bisa membeli nyawa manusia. Apakah kita mau orang meninggal baru diberikan anggarannya. Saya tidak mau ada yang korban,” ujarnya.

Wali Kota mengaku, alat fogging harus ada di setiap kelurahan, agar ketika musim hujan, maka semuanya bisa memantau dan mencegah DBD di wilayah masing-masing.

“Jangan tunggu sampai ada kasus baru diberantas. Saya mau agar semua siaga, sebelum musim hujan sudah harus diantisipasi dengan berbagai upaya, mulai dari fogging, abatesasi, kerja bakti bersihkan lingkungan dan kegiatan lainnya,” terangnya. (mg25/joo)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!