Sofyan – Idrus Bantah Dugaan Aliran Fee Proyek – Timor Express

Timor Express

RAGAM

Sofyan – Idrus Bantah Dugaan Aliran Fee Proyek

Nama Setnov Kembali Disebut Dalam Sidang

JAKARTA, TIMEX – Sidang lanjutan perkara dugaan korupsi dalam proyek pembangunan PLTU Mulut Tambang Riau 1 berlanjut di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat kemarin (12/2). Terdakwa Idrus Marham yang diduga meneria duit panas sebesar Rp 2.250.000.000 dari proyek tersebut menjalani sidang pemeriksaan saksi. Kali ini, giliran petinggi PT PLN (Persero) Sofyan Basir dan Supangkat Iwan Santoso yang diperiksa dalam sidang tersebut.

Dalam sidang yang berlangsung mulai pukul 13.08 WIB dan berakhir sekitar pukul 17.50 WIB itu, jaksa penuntut umum (JPU) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menanyakan benyak hal terkait dengan proyek tersebut. Mulai teknis proyek hingga sejumlah pertemuan yang berlangsung antara Sofyan dan Iwan bersama Eni Maulani Saragih, Johanes Budi Sutrisno Kotjo, dan Idrus Marham. Selain itu, ada juga pertemuan dengan Setya Novanto.

Menurut JPU KPK, mereka sengaja menghadirkan Sofyan dan Iwan dalam persidangan agar keduanya bisa saling mendengarkan keterangan masing-masing. Kepada Iwan, mereka bertanya soal pertemuan yang berlangsung di kediaman Setnov akhir 2016 lalu. Direktur Pengadaan Strategis 2 PLN itu mengaku hadir dalam pertemuan itu untuk memdampingi Sofyan. “Saya menemani dirut saya,” ungkap dia.

Awalnya, hanya dibahas soal program 35 ribu megawatt. Sebagai direksi PLN, Sofyan dan Iwan menjelaskan panjang lebar program tersebut kepada Setnov yang kala itu masih bertugas sebagai ketua DPR. Namun, topik yang mereka bicarakan melebar karena Setnov juga menanyakan hal lain. Tidak terkecuali sejumlah proyek yang tengah dikerjakan oleh PLN. Ketika jaksa menanyakan hal itu, Sofyan pun tidak membantah.

Orang nomor satu di PLN tersebut lantas menjelaskan bahwa kedatangan dirinya ke rumah Setnov merupakan undangan Eni. “Bahwa Pak Ketua DPR mau bertemu dengan kami,” jelas Sofyan. Senada dengan Iwan, dia juga menyampaikan bahwa pembahasan awal dalam pertemuan itu memang terkait dengan program 35 ribu megawatt. Namun, Setnov juga sempat menanyakan soal proyek lain yang belum dikerjakan oleh PLN.

Meski tidak paham betul maksud Setnov, Sofyan mengaku terpidana kasus korupsi proyek e-KTP tersebut sempat mengungkapkan bahwa ada yang berminat dengan proyek PLN. “Tidak disebut sama sekali (nama yang berminat). Hanya disampaikan kalau ada kawan,” imbuhnya. Setelah pertemuan itu, Eni lantas mengenalkan Sofyan kepada Kotjo. Dari sana kemudian berlangsung sejumlah pertemuan lain.

Tidak hanya di rumah Setnov, pertemuan juga terjadi di kantor DPR, kantor PLN, Hotel Fairmount, Restoran Arcadia, sampai rumah Sofyan. Meski begitu, Sofyan tegas menyampaikan bahwa dirinya sama sekali tidak tahu menahu pembagian fee atau uang yang diduga terjadi dibalik proyek PLTU Mulut Tambang Riau 1. Dia pun membantah ada pembicaraan dengan Eni terkait dengan janji akan diberi bagian fee. “Tidak ada,” imbuhnya.

Keterangan serupa disampaikan Sofyan saat diwawancarai usai menjalani sidang. “Kami sudah menjawab apa adanya. Karena kami sudah di bawa sumpah,” ungkap dia. “Tidak ada (pembicaraan fee), sampai tadi sesuai sidang, kami sudah jawab dengan baik,” tambahnya. Sofyan mengakui sempat ada pembahasan alot terkait proyek PLTU Mulut Tambang Riau 1. Namun, itu tidak terkait dengan fee proyek. 

Menanggapi keterangan para saksi dalam sidang kemarin, Idrus menuturkan bahwa pernyataan Sofyan memang benar. Pertemuan yang berlangsung di kediaman Sofyan, terang dia, tidak terkait dengan proyek yang berujung masalah tersebut. Dia pun menyebut, tidak ada kesamaan tujuan saat dirinya bersama Eni dan Kotjo datang ke rumah Sofyan. “Datang dengan tujuan yang beda,” ujarnya.

Eni bersama Kotjo membicarakan proyek PLTU Mulut Tambang Riau 1 serta proyek PLTU Mulut Tambang Riau 2, sedangkan dirinya membahas masalah lain. “Bahkan saya yang menghentikan (pembicaraan Kotjo dengan Sofyan), saya suruh keluar karena Pak Sofyan Basir sudah menolak secara terang-terangan (pembicaraan terkait PLTU Mulut Tambang Riau 2),” kata mantan sekretaris jenderal Partai Golkar tersebut.

Setalah itu, sambung Idrus, barulah dia berbincang dengan Sofyan. Pembicaraan itu terkait dengan masalah politik, umat, serta masalah listrik desa di 41 kabutan dan kota yang daerahnya masih tertinggal. “Dan sekaligus juga CSR untuk bantuan mobil pemuda masjid,” terangnya. Tidak hanya itu, dia pun membantah ada keterkaitan antara dirinya dengan uang panas dari Kotjo yang mengalir ke munaslub Partai Golkar. (syn/jpg/sam)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!