Satu TPS Diawasi 62 Pasang Mata – Timor Express

Timor Express

SUKSESI

Satu TPS Diawasi 62 Pasang Mata

AWASI PEMILU.Bawaslu dan peserta sosialisasi pemilu pose bersama tanda sepakat dalam rangka sama-sama mengawasi pemilu 2019 yang lebih bermartabat dalam kegiatan di Swiss Belinn Kristal Kupang, Sabtu (16/2).

IMANUEL LOJA FOR TIMEX

Bawaslu: Jangan Rayu Penyelenggara

KUPANG, TIMEX-Pemilu serentak nasional yang digelar 17 April 2019 nanti membutuhkan pengawasan ekstra. Dengan lima surat suara, pemilu kali ini menjadi pemilu yang sangat rumit, sekaligus rawan kecurangan.

Sebagai antisipasi, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi NTT terus melakukan sosialisasi untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam rangka ikut mengawasi. Salah satunya melalui kegiatan sosialisasi yang digelar di Swiss Belinn Kristal Hotel Kupang, Sabtu (16/2).

“Nanti di satu TPS itu peserta pemilu punya 54 saksi ditambah tujuh petugas dari KPU dan satu pengawas dari Bawaslu. Artinya banyak yang menjadi saksi. Tapi bagi kami masih kurang,” kata Anggota Bawaslu NTT, Jemris Fointuna dalam forum yang menghadirkan perwakilan partai politik dan organisasi kemasyarakatan serta organisasi pemuda dan mahasiswa itu.

Kegiatan tersebut dipandu Koordinator Divisi Hukum, Data dan Informasi Bawaslu NTT, Melpi Marpaung serta pembicara, Dosen Fisipol Undana Kupang, Laurensius Sayrani.

Jemris katakan, saat ini Bawaslu dan peserta pemilu sedang rebut-rebutan untuk merekrut saksi. Hal ini menurut dia harus tetap melihat kapasitas saksi agar tidak menjadi masalah saat pemilu berlangsung. Para saksi dari peserta pemilu akan mendapat bimbingan dan pelatihan oleh Bawaslu. Namun menurut Jemris, semangat dan komitmen mereka harus ditanamkan oleh peserta pemilu. Sehingga, jangan sampai dengan pengawasan lebih dari 62 pasang mata di setiap TPS menjadi sia-sia.

Dengan kekuatan saksi yang jumlahnya lebih dari satu juta orang, Bawaslu tetap mengharapkan keterlibatan masyarakat dalam ikut melakukan pengawasan. Pasalnya, pelanggaran pemilu selalu dilakukan dengan pola yang berbeda dan sulit dideteksi. Apalagi dengan total TPS mencapai 14.872 buah yang tersebar di seluruh NTT.

“Karena saksi semakin banyak, jangan rayu petugas kami. jangan rayu penyelenggara dengan iming-iming. Cukup rayu masyarakat untuk ikut pilih,” kata Jemris.

Sementara Laurensius Sayrani pada kesempatan itu menyoroti minimnya sosialisasi dari para penyelenggara kepada masyarakat. Hal ini menurut dia terlihat dari minimnya lembaga yang ingin menjadi pemantau pemilu. Justru banyak yang datang dari luar negeri. Namun menurut Laurensius, jika sistem kepemiluan di Indonesia sudah bagus, mestinya tidak butuh banyak pemantau atau saksi.

“Minimnya pemantau bisa juga karena penyelenggara belum bisa meyakinkan orang, bahwa menjadi pemantau itu tidak rugi. Ikut memilih itu tidak rugi. Tapi yang terjadi sekarang, orang masih berhitung untung rugi,” sebutnya.(cel)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!