Timor Express

RELIGI

Ogoh-ogoh Lambang Pemurnian

PARADE. Umat Hindu se-Kota Kupang bersama umat lintas agama larut dalam pawai ogoh-ogoh menyambut perayaan Nyepi, Rabu (6/3) di Bundaran Tirosa, Kota Kupang.

IMRAN LIARIAN/TIMEX

KUPANG, TIMEX – Pawai Ogoh-ogoh merupakan lambang pemurnian dari sifat-sifat negatif atau kejahatan manusia seperti iri, dengki, dan angkuh. Selain itu Ogoh-ogoh juga sebagai wujud menyeimbangkan energi negatif sehingga menjadi positif.
Sebanyak enam ogoh-ogoh yang didesain dengan wajah beringas tersebut diyakini oleh umat Hindu bisa melepaskan segala kedengkian, kecemburuan, dosa dan sifat jahat lainnya dalam diri manusia.

“Masuk tahun baru, kita bersihkan hati nurani kita untuk menyambut tahun yang baru,” kata Ketua PHDI Kota Kupang, I Wayan Wira Susana, ketika ditemui koran ini di titik start pawai Ogoh-ogoh di Bundaran Tirosa, Rabu (6/3) petang.

Dijelaskan, pawai Ogoh-ogoh ini melibatkan lintas etnis yakni menghadirkan Komunitas Jawa menampilkan reog dan etnis Cina menampilkan barongsai. Juga melibatkan Gerakan Pemuda Ansor-Banser, Pemuda GMIT dan Orang Muda Katolik. Hal ini merupakan wujud keberagaman serta mempererat tali persaudaraan antarsesama. Kegiatan pawai Ogoh-ogoh dibuka secara resmi oleh Wali Kota Kupang Jefri Riwu Kore. Dalam sambutannya ia mengaku sangat mendukung kegiatan-kegiatan positif seperti ini. Dia juga meminta semua elemen untuk bekerja sama membangun kota ini serta menyukseskan program pemerintah.

Sementara Ketua Panitia Nyepi I Gusti Agung Ngurah Suarnawa menjelaskan perayaan Nyepi adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap tahun baru Saka. Tahun ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga yang dipercayai umat Hindu sebagai hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa intisari Amerta air hidup. “Perayaan Nyepi diyakini sebagai perayaan untuk memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia) dan Bhuana Agung (alam semesta),” ungkapnya.

Dijelaskan, upacara persembahan diyakini oleh umat Hindu sebagai upaya untuk menjaga keseimbangan antara manusia dengan alam. Sehingga pada saat umat Hindu melakukan Catur Brata penyepian dapat berjalan dengan baik.

Dijelaskan, rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan yakni bakti sosial, donor darah, dan pembagian sembako, pengobatan gratis, dan melasti. Selanjutnya Nyepi yang telah dilalui Kamis (7/3) kemarin dan akan ditutup dengan Dharmasanti.

Humas dan Dokumentasi Panitia Nyepi 2019, Rary Triguntara menjelaskan pawai Ogoh-Ogoh melambangkan unsur para “Bhuta Kala” yang sering mengganggu dan menggoda manusia untuk melakukan hal buruk. Sehingga dilambangkan dengan raksasa, bertaring, seram, dan lain sebagainya. “Unsur Bhuta Kala tersebut harus dimurnikan dan dibersihkan dengan cara “Upacara Tawur” mecaru, jadi disetiap yang dilewati Ogoh-ogoh biasanya perempatan jalan (bertemunya seluruh energi), jembatan dan lainnya yang dianggap perlu dimurnikan,” sebutnya.

Dikatakan energi-energi tersebut saat dilewati Ogoh-ogoh akan masuk ke dalam Ogoh-ogoh. Pada saat tiba di finish akan dilakukan upacara kemudian dibakar agar energi tersebut bisa diseimbangkan menjadi cahaya (Div) dan alam semesta jadi harmonis sehingga tidak lagi mengganggu manusia. “Karena umat Hindu percaya berbagai tempat ada energy negatif dan positif, dan agama Hindu memang berkewajiban menyeimbangkannya. Istilahnya penyucian jagat Bhuwana Agung (alam semesta) dan Bhuwana Alit (mahluk hidup),” jelasnya.

Contoh, setiap perempatan yang sering terjadi kecelakaan, maka di sana akan banyak energinya. Begitu pun jembatan dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, semua harus dimurnikan dan diseimbangkan. “Itulah kontribusi umat Hindu menjaga keseimbangan alam semesta. Begitupun halnya bila ada bencana alam, gempa bumi, tsunami, maka umat Hindu akan melakukan upacara pembersihan jagat/penyucian bumi pertiwi,” ungkapnya.

Sementara, Wadansat Banser Kota Kupang, Kasim Abdurahman Koli yang juga turut berpartisipasi dalam pawai Ogoh-ogoh menjelaskan partisipasi dalam momentum ini bagian dari sebuah manifestasi nilai rahmatan lil al-amin. “Banser ambil bagian dari pawai ogoh-ogoh ni, bukan saja sebagai seremoni namun partisipasi ini adalah wujud dari rasa toleransi dan rasa memiliki yakni rasa cinta tanah air dan keindonesiaan,” pungkasnya. (mg22/sam)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!