Puncak Pemilu Bakal Berlangsung Damai – Timor Express

Timor Express

SUKSESI

Puncak Pemilu Bakal Berlangsung Damai

Sesuai Tradisi Elektoral sejak 1955

JAKARTA, TIMEX–Kegaduhan selama tahapan Pemilu 2019 diyakini bersifat sementara. Sebagian pihak percaya bahwa pada puncak pemilu, yakni pemungutan suara, akan berlangsung damai dan lancar. Berkaca dari pengalaman pemilu-pemilu sebelumnya, bukan mustahil perdamaian itu bisa terwujud.

Dalam diskusi tantangan mewujudkan pemilu damai di KPU Rabu (6/3), narasi perdamaian itu dimunculkan. Salah satunya oleh budayawan Franz Magnis Suseno. Menurut dia, masyarakat Indonesia punya tradisi pemilu bebas yang selalu berjalan damai. Baik pada 1955 maupun 1999 dan seterusnya. “Tidak pernah, kalau tidak salah, ada orang yang mati (akibat konflik pemilu),” terangnya.
Pun dalam praktik di lapangan pada beberapa edisi pemilu terakhir pascareformasi. Secara psikologis, masyarakat mampu memahami dan bisa menerima bahwa jagoannya kalah di pemilu. Contohnya ada saat selesai dibacakan hasil penghitungan suara di TPS. “Ada yang applause karena menang, ada yang kalah tapi tidak ada yang marah,” lanjutnya.

Hal itu menunjukkan bahwa modal untuk melanjutkan tradisi demokrasi sudah dimiliki dengan kuat oleh masyarakat. Karena itu, menurut dia, penting dijaga agar kondisi semacam itu tidak sampai terancam atau bahkan rusak. Khususnya oleh kepentingan-kepentingan politik menjelang pemilu.

Yang penting, harus ada kesan kuat bahwa pemilu berjalan dengan jujur dan semua bisa menerima apa pun hasilnya. Khususnya bagi para kontestan yang berlaga.

Menurut Franz, tidak ada alasan untuk ragu bahwa pemilu bakal berjalan dengan baik. Masyarakat akar rumput sudah mampu bersikap dewasa. Tinggal bagaimana para politikus mampu bersikap yang sama.

Dari sisi peserta, para kontestan maupun timses dan relawannya diharapkan tidak memberikan ruang untuk berkembangnya provokasi dan isu negatif. “Dengan demikian, (jangan sampai) hal-hal yang terkait visi, misi, dan program itu jadi tenggelam,” ujar peneliti senior Network for Democracy and Electoral Integrity (NETGRIT) Ferry Kurnia Rizkiyansyah.

Selain itu, penyelenggara harus benar-benar profesional dan transparan. Dari situ, dukungan publik akan mengalir kepada penyelenggara. Para peserta tinggal menyesuaikan dengan memberikan informasi yang benar dan taat kepada aturan. “Sengan demikaian, masyarakat menjadi antusias, riang gembira menyambut 17 April,” tambahnya.

Sementara itu, Komisioner Bawaslu Rahmat Bagja menuturkan, dalam hal perdamaian, pihaknya tinggal mengkhawatirkan satu hal. Yakni, politisasi isu SARA (suku agama ras, dan antargolongan). Kasus tiga orang perempuan yang menebar kampanye hitam sudah bisa menjadi contoh bahwa apa yang berkembang di media sosial bisa berpengaruh kepada sebagian orang.

Menurut dia, mengadakan berbagai kegiatan dalam masa kampanye pada dasarnya tidak dilarang. Asalkan tahu tempat. “Misalnya, ada gerakan ibadah di masjid bersama-sama. Tapi, jangan ada kampanye setelah salat untuk memengaruhi massa,” terangnya. Area masjid tidak boleh digunakan untuk berkampanye.

Hal senada disampaikan mantan anggota DKPP Valina Singka Subekti. Dia menuturkan, poin utama dalam pemilu adalah integritas. Selama prosesnya berintegitas, hasilnya akan aman. Dalam arti, pemilu akan benar-benar terlegitimasi. “Yang kalah akan legawa dengan kekalahannya karena tahu prosesnya berintegritas,” ucapnya.(byu/c4/agm/jpg/cel)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!