DBD di Ende Capai 115 Kasus – Timor Express

Timor Express

FLORES RAYA

DBD di Ende Capai 115 Kasus

 Warga Diminta Waspada

Sislaus Bendu

ENDE, TIMEX – Kasus demam berdarah dangue (DBD) di Kabupaten Ende sejak Januari hingga Maret 2019, mencapai 115 kasus. Angka ini terus meningkat, karena cuaca yang tidak menentu sejak akhir Februari hingga awal bulan Maret.

Untuk itu, warga diminta tetap waspada dan membersihkan lingkungan masing-masing.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ende, Muna Fatma melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit, Sislaus Bendu kepada Timor Express, Jumat (8/3) mengatakan, dari data yang direkap Dinkes Ende, kondisi terakhir penderita DBD mencapai 115 kasus. Dari jumlah kasus tersebut, dua orang meninggal dunia.

Dikatakan, kasus ini menyebar di beberapa kecamatan baik dalam kota maupun luar kota seperti Ende Selatan, Kecamatan Nangapenda dan beberapa kecamatan lainnya.

Dia menambahkan, kasus ini meningkat karena kondisi cuaca yang tidak menentu dalam beberapa hari terkahir. Karena itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Ende meminta agar warga tetap waspada dan membersihkan lingkungannya masing-masing.

Menurutnya, untuk melakukan pencegahan penyakit, Dinkes meminta agar masyarakat menggunakan bubuk abate yang telah dibagikan dengan cara menyimpannya dalam tempat penampungan air.

“Kasus penyakit ini sering muncul karena cuaca yang tidak menentu. Maka warga tetap waspada dan membersihkan lingkungan serta memanfaatkan bubuk abate yang telah dibagikan. Warga juga harus proaktif meminta atau mengambil abate di puskesmas terdekat. Mari kita lakukan pencegahan bersama untuk penyakit ini,” katanya.

Sislaus mengatakan, Dinas Kesehatan sebagai dinas teknis tetap melakukan sosialisasi dan pencegahan penyakit dengan turun langsung ke lapangan. Namun dengan keterbatasan tenaga, maka dibutuhkan peran dan gerakan bersama untuk melakukan pencegahan. Dinas Kesehatan juga meminta pihak rumah sakit untuk melakukan penanganan dengan baik untuk kasus DBD.

Sementara itu, salah seorang warga Kota Ende, Yustina Bunga mengatakan, 115 kasus selama tahun 2019 merupakan angka cukup tinggi dan harusnya ditetapkan sebagai KLB. Dirinya heran karena hingga saat ini pemerintah belum menetapkan sebagai KLB. Menurutnya, salah satu langkah tepat untuk melakukan pencegahan yakni dengan melakukan pengasapan atau fogging di beberapa wilayah yang kasusnya cukup tinggi.

Pengasapan dilakukan bukan hanya sekali, namun mesti dilakukan dua atau tiga kali. “Jika tidak menetapkan sebagai KLB, maka harus melakukan pengasapan serius. Jangan hanya dilakukan satu kali lalu berhenti. Kasus ini terus meningkat apalagi cuaca juga tidak menentu, maka pencegahan mesti dilakukan lebih serius sehingga tidak ada korban lagi,” pungkas dia. (kr7/ays)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!