Timor Express

EKONOMI BISNIS

Masyarakat Diminta Waspadai Tawaran Investasi VB Data

Belum Kantongi Izin dari OJK

KUPANG, TIMEX – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTT mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai maraknya tawaran investasi, agar tidak menjadi korban penanaman modal usaha yang ternyata ilegal/bodong. Pasalnya, saat ini banyak entitas investasi yang menawarkan keuntungan yang tidak wajar. Sekalipun Satuan Tugas Waspada Investasi OJK telah banyak menghentikan kegiatan penghimpunan dana yang terindikasi bodong lantaran tidak mempunyai izin.

Kepala OJK Provinsi NTT, Robert HP. Sianipar menerangkan, setiap kegiatan investasi, termasuk perusahaan financial technologi (Fintech), harus terdaftar dan mendapatkan izin dari OJK. Sebab dana yang dikumpulkan dari masyarakat harus terjamin keamanannya. Dengan demikian, jika ada lembaga yang menjalankan investasi atau pengumpulan dana dari masyarakat tanpa mengantongi izin, maka perusahaan tersebut sudah pasti beroperasi secara ilegal.

Ditanya soal legalitas VB Data, salah satu entitas investasi yang menjalankan kegiatan pengumpulan dana dengan tawaran deviden harian yang fantastis, Robert dengan tegas mengatakan, VB Data belum mendapat izin dari OJK.

“VB Data belum dapat izin dari OJK,” tegas Robert menjawab pertanyaan Timor Express, Senin (11/3) kemarin,

Oleh karena belum mendapat izin dari OJK, Robert meminta masyarakat untuk berhati-hati atau waspada, serta tidak tergiur akan tawaran keuntungan yang tidak wajar dari investasi tersebut. Pasalnya, ada banyak masyarakat NTT yang sudah menjadi korban dari praktek investasi bodong dan kerugian yang dialami juga tidak sedikit.

“Karena belum dapat izin, kami minta agar masyarakat berhati-hati,” katanya.

Sebelumnya, dalam kegiatan Pelatihan Wartawan Tahun 2019 di Sumba Timur beberapa waktu lalu, Robert juga meminta awak media masa untuk melakukan edukasi dan mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati terhadap tawaran ‘manis’ investasi ilegal.

Menurut dia, berbagai prkatek investasi ilegal yang sudah terungkap selama ini, seperti Wein Grup di Kota Kupang, Koperasi Serba Usaha (KSU) Amanda Permata di Kabupaten Sumba Timur dan LKF Mitra Tiara di Kabupaten Flores Timur dan lain sebagainya, hendaknya menjadi pembelajaran bagi masyarakat untuk tidak tergiur dengan tawaran keuntungan yang tidak logis.

Robert menambahkan, masyarakat harus mendapat edukasi yang baik sehingga memiliki pemahaman untuk bisa membedakan investasi yang legal dan ilegal, serta investasi yang wajar dan tidak wajar.

“Kata kuncinya yakni edukasi dan pemahamam masyarakat agar bisa membedakan mana yang legal dan illegal,” katanya.

Sementara Sekretaris Satgas Waspada Investasi, Akta Bahar Daeng menyebutkan, kerugian yang ditimbulkan akibat investasi ilegal cukup besar. Dari tahun 2007 sampai 2018, tercatat kerugian akibat investasi ilegal mencapai Rp 107,1 triliun.

Bahar Daeng mengatakan, ada beberapa karakteristik investasi bodong. Antara lain, menjanjikan keuntungan yang tidak wajar dalam waktu cepat. Menjanjikan bonus dari perekrutan anggota baru ‘member get member’. Memanfaatkan tokoh masyarakat/agama, publik figur untuk menarik minat berinvestasi. Klaim tanpa risiko (free risk) dan legalitas tidak jelas.

“Legalitas tidak jelas, misalnya investasi yang tidak memiliki izin, memiliki izin kelembagaan tapi tidak punya izin usaha, memiliki izin kelembagaan dan izin usaha tapi melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan izinnya,” jelasnya.

Menurutnya, penyebab utama masyarakat menjadi korban investasi ilegal yakni mudah tergiur dengan tawaran bunga tinggi, serta belum paham investasi.

“Jadi sebelum berinvestasi, kenali lembaga dan produknya, pahami proses bisnis yang ditawarkan, pahami manfaat dan risikonya, pahami hak dan kewajibannya. Jadi untuk mengenali investasi, cukup ingat 2 L yakni legal dan logis,” ungkapnya. (tom)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!