Hukum Pelaku Seberat-beratnya – Timor Express

Timor Express

RAKYAT TIMOR

Hukum Pelaku Seberat-beratnya

TIBA DI ATAMBUA. Jenazah korban pembunuhan saat disemayamkan di ruang jenazah RSUD Mgr Gabriel Manek, SVD Atambua, Sabtu (23/3).

FRANS KOLO/TIMEX

KELUARGA korban pembunuhan  mahasiswa semester IV Unimor,  Mario  Krisandi Seven Bere menuntut pelaku pembunuhan dihukum setimpal perbuatannya. Pasalnya, kasus penganiayaan berat yang menyebabkan korban meninggal setelah menjalani perawatan medis di RSUD Mgr Gabriel Manek, SVD Atambua, Sabtu (23/3), merupakan perbuatan keji dan sangat mengiris perasaan keluarga korban.

“Kami sangat kecewa bahkan prihatin dengan perbuatan pelaku. Masa bunuh anak kami seperti  hewan saja. Tikam di jantung dan di perut sampai ususnya keluar. Ini kan perbuatan keji dan sangat tidak manusiawi. Karena itu kami minta aparat penegak hukum untuk menghukum pelaku seberat-beratnya setimpal dengan perbuatannya,” tegas ayah korban, Marselinus Bere Bau saat ditemui di ruang jenazah RSUD Mgr Gabriel Manek, SVD Atambua.

Menurutnya, kejadian nahas yang menimpa satu-satunya anak laki-laki dalam keluarganya sangat menyakitkan keluarga. Pasalnya, kejadian nahas tersebut sangat mengejutkan keluarganya.

“Saya dan mamanya termasuk dua orang adik perempuannya sangat terkejut ketika mendengar informasi bahwa anak kami ditikam sampai kondisi kritis oleh kawan kuliahnya sendiri dari Belu. Kami benar-benar kehilangan dengan peristiwa kematian anak kami karena dia anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga kami,” jelas Marselinus.

Korban jelas Marselinus, tiba di  RSUD Mgr Gabriel Manek, SVD Atambua dari perjalanan rujukan RSUD Kefamenanu sekira pukul 01.00 dan menghembuskan napas terakhir sekira pukul 07.00.

Jenazah dibawa pulang ke rumah duka di Desa Dua Rato Kecamatan Lamaknen untuk dimakamkan.

Sementara, informasi yang diperoleh dari dua orang saksi yang berada di lokasi kejadian saat ditemui wartawan di ruang jenazah RSUD Mgr Gabriel Manek, SVD Atambua menyebutkan, korban ditikam tiga kali di bagian perut setelah pelaku dan enam orang teman organisasi termasuk ketua HMB tiba di sekretariat HMB.

“Selama ini kegiatan organisasi vakum. Jadi tadi malam (Jumat, red) kami beberapa orang termasuk korban bertemu untuk diskusi bagaimana mencari solusi terbaik biar kegiatan HMB bisa jalan kembali. Tiba-tiba  ketua HMB, Finus dan enam orang teman lain datang lalu ada sambung mulut dengan teman lain tapi korban waktu itu tidak ikut sambung mulut. Dia duduk   tenang-tenang saja, entah bagaimana sampai dia ditikam. Kami juga bingung,” jelas Novalinda Bau dan Maria Delia Mau.

Menurut kedua orang saksi, pertemuan Jumat malam lalu merupakan hasil kesepakatan diskusi dengan ketua HMB dan beberapa anggota pendiri organisasi. Diakui, inisiatif untuk mengaktifkan kegiatan HMB menuai pro kontra diantara sesama aktivis organisasi mahasiswa Belu di Unimor Kefamenanu.

“Biasa, sebuah organisasi pasti ada pro kontra. Bagi kami itu bagian dari  dinamika berorganisasi biar suasananya hidup tapi seharusnya ada solusi terbaik bukan lalu menganiaya sesama anggota sampai meninggal seperti ini,” ujar Novalinda Bau. (ogi/ays)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!