Jokowi-Prabowo Jangan Main Api – Timor Express

Timor Express

SUKSESI

Jokowi-Prabowo Jangan Main Api

SERUAN.Para tokoh lintas agama dan budayawan menyerukan pemilu yang dingin, terutama dalam masa kampanye terbuka hingga hari pencoblosan nanti.

DOK.JPG

Seruan Tokoh Lintas Agama

JAKARTA, TIMEX–Situasi menjelang pemungutan suara yang makin panas mendapat sorotan dari para tokoh lintas agama dan para budayawan. Minggu (24/3) mereka mengadakan seruan bersama menjadikan suasana pemilu lebih dingin. Bagaimanapun, pemilu tidak boleh sampai menjadikan bangsa Indonesia terpecah belah.

Dalam kesempatan itu, hadir sejumlah tokoh. Di antaranya, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD. Kemudian, mantan Kapolri Jenderal Suryo Bimantoro, Eros Djarot, H.S. Dillon, Putu Setia, Franz Magnis Suseno, Jaya Suprana, Romo Benny Susetyo, KH Syarif Rahmat, dan Pdt Martin L. Sinaga. Juga, hadir tokoh Khonghucu Uung Sendana.

Dalam kesempatan tersebut, Eros mengingatkan bahwa saat ini Indonesia tidak punya negarawan. Yang ada, politikus yang berorientasi pada kekuasaan. “Saya ajak Saudara Prabowo dan Saudara Jokowi untuk mulai menyadari, don’t play with fire. Jangan main api,” ucap Eros. Seharusnya elite lebih mampu memberikan contoh sehingga suasana politik bisa lebih dingin.

Senada, Uung mengingatkan, perbedaan pilihan itu hal wajar. Namun, yang terjadi, dalam memilih pemimpin, masyarakat jadi terbelah dalam arti negatif. “Orang tak lagi bisa melihat kebaikan, padahal kita sama-sama anak bangsa Indonesia,” tuturnya. Seharusnya tidak perlu saling menjatuhkan saat berbeda pilihan.

Sementara itu, Mahfud menekankan pada kontestasi yang fair dalam memilih pemimpin. Juga, menyerukan agar persatuan tetap dijaga setelah pemilu. Itu menjadi tugas seluruh anak bangsa tanpa kecuali. “Hanya kebersatuanlah yang bisa menjamin kebaikan masa depan bangsa dengan ideologinya,” ujarnya.

Sementara itu, Benny lebih menyoroti maraknya berita hoax sebagai sumber panasnya tensi pemilu dan terbelahnya anak bangsa. Dia menyeru para produsen hoax untuk berhenti karena sama saja melawan tradisi. “Kita sudah biasa berbeda. Pancasila jadi rumah bersama tempat kita bermain. Rumah yang harus kita rawat,” ucapnya.(byu/c10/agm/jpg/cel)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!