TBC Penyakit Menular, Bukan Turunan – Timor Express

Timor Express

KUPANG METRO

TBC Penyakit Menular, Bukan Turunan

KUPANG, TIMEX – Dr. Joanita Tukan, M.Kes., merupakan Koordinator Program TB-HIV Perdhaki Keuskupan Agung Kupang.

Saat ini umurnya 41 tahun. Saat berumur 10 tahun, dirinya  mempelajari dalam sejarah bahwa Jenderal Sudirman, seorang pahlawan nasional wafat pada usia 34 tahun karena TBC, dan sampai saat ini dia masih mendengar bahwa banyak orang meninggal karena TBC.

Saat melakukan penyuluhan, perempuan yang akrab disapa dokter Ita ini mengaku selalu bertanya, apakah penyakit TBC karena keturunan?

Mengapa TBC sejak dahulu sampai sekarang selalu menjadi masalah kesehatan?

Siapakah yang bertanggung jawab dalam penanganan masalah TBC ini?

Banyak pertanyaan reflektif muncul mengenai TBC, terlebih untuk kita yang anggota keluarganya, sahabat, kenalannya meninggal karena TBC.

Ita menjelaskan, tanggal 24 Maret merupakan peringatan Hari TBC Sedunia.

Semua memperingati saat Robert Heinrich Herman Koch menemukan “Mycobacterium tuberculosis” bakteri penyebab TBC.

Tahun 1880 penyakit TBC diyakini sebagai penyakit bawaan atau penyakit keturunan, namun Koch yakin bahwa penyakit itu disebabkan oleh bakteri dan menular.

Sehingga mulailah Koch melakukan penelitian tentang TBC dan karyanya tentang penyakit ini memenangkan Nobel dalam bidang Fisiologi dan Kedokteran pada tahun 1905.

Menurutnya, masih banyak anggapan bahwa TBC adalah penyakit keturunan. Jadi saat anaknya batuk-batuk berdahak dan berdarah, selalu dikaitkan dengan anggota keluarga lainnya yang juga mengalami hal yang sama bahkan sudah meninggal.

“Hal ini yang perlu kita luruskan, bahwa TBC bukan penyakit keturunan atau pun penyakit karena guna-guna atau kena suanggi, melainkan penyakit menular langsung. Oleh karena menular langsung, maka saat salah satu dari anggota keluarga kita yang terserang TBC, kitapun bisa terserang TBC. Penderita TBC dapat menular ke 10-15 orang yang ada sekitarnya,” jelasnya.

Dokter yang bekerja di RSUD S.K. Lerik ini menjelaskan, TBC dapat menyerang seluruh organ tubuh yang dialiri darah.

Oleh karena itu, ada TBC tulang, TBC usus, TBC otak, TBC kelenjar getah bening, TBC paru, yang tersering dan terbanyak adalah TBC paru.

TBC paru sangat banyak karena penularannya saat batuk dan bersin.

Saat bakteri terlontar keluar saat batuk atau bersin, yang berada di sekitar penderita akan menghirup udara yang sama dan yang sudah mengandung bakteri TBC.

Oleh karena itu maka TBC paru lebih mudah menular ke sekitar penderita TBC.

Dokter Ita menjelaskan, gejala-gejala TBC yaitu batuk berdahak 2 minggu atau lebih, batuk darah, nyeri dada dan sesak napas, nafsu makan berkurang dan berat badan menurun, serta demam tinggi yang hilang timbul.

Kondisi ini membuat pasien merasa seakan tidak pernah sembuh dari demam, dan berkeringat di malam hari meski tidak kegerahan. Jika muncul gejala demikian wajib memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.

Pemeriksaan selanjutnya akan dilakukan dengan pemeriksaan dahak untuk memastikan penemuan bakteri TBC.

Saat bakteri tidak ditemukan pada pemeriksaan dahak, akan dilanjutkan dengan pemeriksaan radiologi (rontgen), untuk menegakkan diagnosa TBC.

Selain itu kata Ita, dengan pencegahan TBC ventilasi ruangan, maksudnya, kuman TBC menyebar lebih mudah dalam ruangan tertutup kecil, dimana udara tidak bergerak.

Jika ventilasi ruangan masih kurang, buka jendela dan gunakan kipas untuk meniup udara dalam ruangan ke luar.

Gunakan masker untuk menutup mulut kapan saja. Ini merupakan langkah pencegahan TBC secara efektif, dan jangan lupa untuk membuang masker secara teratur.

Saat batuk harus menutup mulut dengan lengan bagian dalam, atau menutup dengan tissue dan membuang tissue di tempat sampah dan selanjutnya mencuci tangan menggunakan sabun.

Meludah hendaknya pada tempat tertentu yang sudah diberikan desinfektan atau air sabun.

Sementara imunisasi BCG diberikan pada bayi berumur 3-14 bulan, dan menghindari udara dingin.

“Usahakan sinar matahari dan udara segar masuk secukupnya ke dalam tempat tidur. Menjemur kasur, bantal, dan tempat tidur terutama pagi hari,” sebut dokter Ita.

Dia menambahkan, makanan yang dikonsumsi juga harus tinggi karbohidrat dan tinggi protein, serta minum obat sampai tuntas untuk pasien TBC.

Ita mengungkapkan, tema Hari TBC Sedunia tahun 2019 adalah, Saatnya Indonesia Bebas TBC Mulai dari Saya”.

“Saya di sini dalam peran masing-masing kita. Saya yang berperan sebagai pasien harus mampu tetap semangat dalam menjalani pengobatan sampe tuntas. Saya yang berperan sebagai tenaga medis mampu untuk mendiagnosa dan mengobati dengan tepat sesuai dengan kategori pengobatannya.

Saya yang berperan sebagai keluarga pasien, mampu mendampingi pasien TBC dengan penuh kesabaran sampai sembuh. Saya yang mengambil peran dinas kesehatan mampu untuk memastikan semua logistik bagi pasien TBC tersedia di semua layanan kesehatan.

Saya yang berperan sebagai Gubernur, Wali Kota, Bupati mengambil peran dalam kebijakan yang berhubungan dengan TBC,” jelas Ita.

“Semua kita wajib mengambil peran dalam penanggulangan TBC, karena siapapun, saya pun dapat tertular TBC. Oleh karena itu mari kita TOSS TBC atau Temukan Obati Sampai Sembuh, untuk memutuskan mata rantai penularan TBC,” pungkas dia. (mg25/joo)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!