Kontraktor Tunggak Upah, Pekerja Mogok – Timor Express

Timor Express

NASIONAL

Kontraktor Tunggak Upah, Pekerja Mogok

Proyek NTT Fair

Widi: Kami Sedang Upaya untuk Bayar

KUPANG, TIMEX-Proyek pembangunan gedung NTT Fair di Lasiana Kota Kupang menuai masalah keuangan. Kontraktor pelaksana, PT. Cipta Eka Puri sudah dua kali, bahkan lebih, menunggak upah 86 pekerja di proyek tersebut. Karena upah tidak dibayar, para pekerja mulai mogok kerja.

Sistem pembayaran upah pekerja di sana dua minggu sekali. Sehingga akumulasinya sudah empat minggu atau satu bulan. Para pekerja tersebut diupah variatif. Misalnya, buruh kasar diupah Rp 75 ribu per hari. Sementara 86 orang tersebut terdiri dari buruh kasar, security, pegawai kantoran dan mandor. Ada pula puluhan pekerja yang didatangkan dari Pulau Jawa.

Pantauan Timor Express, Selasa (26/3) di lokasi proyek tersebut, sejak pagi hingga sore tidak ada aktifitas pekerja. Hanya sekira dua pekerja yang memasang kaca jendela. Sementara pekerja lainnya hanya lalu lalang dari mes ke mes.

Kepala Proyek, Widiyanto yang dikonfirmasi Timor Express mengakui, para pekerja belum beraktifitas karena masih menunggu hak-hak mereka. Dan, pihaknya sedang menunggu kepastian dari pimpinan perusahaan. “Besok (hari ini), pimpinan datang, kita langsung rapat dengan Kasi Intel Kejati NTT,” kata Widi.

Sejumlah pekerja yang ditemui koran ini mengatakan, salah satu upaya yang dilakukan perusahaan adalah menggadai/menjual tiga gulung kabel yang ada di lokasi tersebut. Kabel itu diadakan untuk instalasi listrik di dalam gedung. Harganya lebih dari setengah miliar rupiah. Sehingga, perusahaan hendak menggadaikan sekira Rp 300 juta. Widi yang ditanya terkait hal ini menjawab diplomatis. “Saya sudah komunikasi dengan pimpinan. Kami upayakan untuk ditalangi dulu,” kata Widi.

Sebelumnya, informasi yang dihimpun Timor Express Senin (25/3) menyebutkan, sejumlah pekerja bahkan nyaris menghakimi Kepala Proyek, Widiyanto di lokasi proyek. Koran ini pun mendatangi lokasi tersebut sekira pukul 18.00 hingga 19.30.
Para pekerja tampak sudah berkumpul di depan mes. Sekira dua atau tiga orang masih sibuk di dalam gedung setengah jadi itu.

Sebagian besar pekerja asal Jawa tampak berada dekat kantor. Kepala Proyek (Kapro), Widianto yang dihubungi per telepon mengaku berada di dalam kantor tersebut. “Ini sudah lewat jam kantor pak. Besok saja bisa ketemu saya,” kata Widi.

Sebagai Kapro yang dipinjam dari perusahaan lain di Jakarta, Widi sehari-hari tinggal di seputaran Kelurahan Lasiana. Namun malam tadi, Widi diduga “ditahan” oleh para pekerja. Dia dituntut untuk menepati janjinya untuk membayar upah para pekerja.
Saat diwawancara per telepon, Widi akui, pihak perusahaan belum merealisasikan dana untuk membayar upah para pekerja. Dia sebutkan, jika ditotal, setiap kali pembayaran upah (dua minggu) untuk 86 orang tersebut sekira Rp 150 juta. “Kami sedang upayakan untuk dibayar,” terang dia.

Menurut dia, perusahaan mengalami kesulitan dana, namun terus berupaya untuk mencari pendanaan sendiri. Pasalnya, pemerintah masih membekukan dana 30 persen atau lebih dari Rp 8 miliar dari total anggaran untuk proyek tersebut. Pemblokiran dana 30 persen tersebut karena proyek tersebut belum mencapai 90 persen. Bahkan dia akui sangat sulit untuk mencapai 90 persen. Saat ini proyek baru sekira 74 persen.

Bahkan eskalator seharga Rp 1,1 miliar yang dipesan dari luar negeri, belum juga tiba di Kupang. Padahal sebelumnya menurut dia, pihak penyedia berjanji, tanggal 25 Maret akan tiba di Kupang. “Mungkin akhir bulan ini tiba. Kita sudah bayar 75 persen,” terangnya.
Masih menurut dia, meski waktu yang diberikan sesuai aturan, kontraktor harus menyelesaikan proyek tersebut pada 31 Maret 2019, namun pihaknya berharap pemerintah masih memberikan waktu tambahan. “Kami prinsipnya tetap ingin kerja sampai selesai,” ujarnya.

Sementara Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek tersebut, Dona Fabiola Tho yang dikonfirmasih terkait hal ini mengakui saat ini kontraktor sedang mengalami dua hambatan. “Hambatan di material dan upah tenaga. Tetapi Rabu pagi, direktur utama (PT. Cipta Eka Puri, Hadmen Puri) sampai Kupang. Semoga ada solusi,” terang Dona.

Proyek senilai Rp 31,13 miliar ini dimulai Mei 2018 ditandai dengan peletakan batu pertama oleh mantan gubernur NTT, Frans Lebu Raya. Setelah pencairan dana 20 persen, kontraktor mulai bekerja. Namun hingga Oktober 2018, pekerjaan proyek belum mencapai 20 persen. Bahkan sempat vakum sekira empat bulan. Diduga dana 20 persen tersebut tidak semuanya digunakan pada proyek tersebut. Bahkan karena masalah internal perusahaan, sempat terjadi pergantian Kapro hingga tiga kali. (cel/sam)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!