Pekerja Anak di Kupang Masih Tinggi – Timor Express

Timor Express

KUPANG METRO

Pekerja Anak di Kupang Masih Tinggi

SOSIALISASI. Sosialisasi norma kerja anak berlangsung di Ruang Garuda, Balai Kota Kupang, Kamis (9/5).

FENTI ANIN/TIMEX

KUPANG, TIMEX – Pemerintah Kota Kupang bekerja sama dengan Kementerian Ketenegakerjaan RI, menggelar sosialisasi norma kerja anak.

Kegiatan ini berlangsung di Ruang Garuda, Balai Kota Kupang, Kamis (9/5).

Hadir Wakil Wali Kota Kupang Hermanus Man, Asep Gunawan selaku Direktur Pengawasan Norma Kerja Perempuan dan Anak Kementerian Ketenagakerjaan, Plt. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Kupang Mesakh Bailaen, Kepala Dinas Sosial drg. Retnowati, Kepala Dinas Kominfo Ballina Ully, dan pimpinan OPD lainnya.

Asep Gunawan pada kegiatan tersebut, mengatakan, isu yang sangat penting di Indonesia adalah pekerja anak, dan ditargetkan tahun 2022 tidak ada lagi pekerja anak.

“Kategori anak di bawah usia 18 tahun, pekerja anak sangat jelas tereksploitasi, dalam rangka mencari nafkah. Tentu ini sangat melanggar aturan, karena anak seharusnya berada di dunia anak bukan di dunia kerja,” katanya.

Dia mengatakan, Kota Kupang sementara menuju Kota Layak Anak. Tentu programnya sinkron dengan pemerintah pusat, tetapi bagaimana pemerintah memantau pekerja anak setiap hari.

Masalah utamanya adalah kemiskinan, dan ini yang harus dituntaskan dahulu agar tidak ada lagi anak yang dipekerjakan.

“Kami juga menaruh perhatian pada shelter yang merupakan tempat aman bagi anak-anak. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana anak ketika sudah masuk dalam shelter tersebut,” ujarnya.

Jadi kata dia, untuk menyelesaikan masalah pekerja anak, orangtua yang akan dilatih terlebih dahulu.

Kementerian Ketenagakerjaan juga menargetkan 18.000 anak akan ditarik agar jangan dipekerjakan, dan dikembalikan ke dunia pendidikan, serta memastikan bahwa anak itu tidak kembali ke dunia kerja dan tetap ke dunia pendidikan.

“Seperti di NTT yang jarak sekolahnya jauh tentu akan sangat menyulitkan. Namun ini merupakan tantangan bagi pemerintah, bagaimana mengentaskan masalah kemiskinan dan mengentaskan pekerja anak,” terangnya.

Dia melanjutkan, Indonesia juga mempunyai cita-cita ingin menjadi nomor 7 pelaku ekonomi dunia.

Untuk mencapai target ini, maka Indonesia harus memiliki 113 juta tenaga kerja berkompeten, sementara sekarang saja, Indonesia baru memiliki 57 juta tenaga kerja kompeten.

“Karena itu upaya yang dilakukan adalah dengan magang di dalam daerah maupun di luar negeri untuk menciptakan tenaga kerja yang berkompeten,” terangnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Kupang Hermanus Man mengatakan, kasus anak bekerja di bawa umur di Kota Kupang masih tinggi, sehingga yang paling penting bukan orangtua yang diberikan pembinaan, namun harus diberikan penanaman nilai-nilai agar anak juga bisa memahami hak dan kewajibannya.

“Saya juga tidak mengerti kenapa masih ada anak yang berjualan koran di jam-jam malam. Di sini orangtua sangat berperan untuk memberikan penanaman nilai-nilai,” katanya.

Dia mengatakan, hal ini merupakan tugas bersama, bagaimana meningkatkan kesehahteraan keluarga, agar anak tidak lagi menjadi pekerja.

“Jadi jika keluarga sejahtera, maka perkembangan anak juga akan berjalan baik. Tentunya akan berpengaruh pada masa depan anak. Salah satu upaya kesejahteraan keluarga adalah dana pemberdayaan ekonomi masyarakat,” katanya.

Dana PEM yang menggunakan APBD ini harus dimanfaatkan secara baik, jika dalam masyarakat mengajukan pinjaman, didapati bahwa orangtua tersebut mempekerjakan anak, maka tidak bisa mengakses dana PEM. Ini juga merupakan salah satu hal yang perlu ditindaklanjuti.

Hermanus Man menambahkan, etos kerja harus dimulai dari anak-anak, dimana mulai ditanamkan kepada anak etos kerja, namun tidak melanggar hak anak untuk mendapatkan masa kanak-kanaknya.

Jika ke depan ditemukan ada perusahaan yang mempekerjakan anak di bawah umur, maka izinnya harus dicabut.

“Saya berharap agar semua yang mengikuti kegiatan ini dapat mengerti dan mau bekerja sama dengan tupoksi masing-masing, agar membebaskan Kota Kupang dari pekerja anak dan menjadikan kota ini sebagai kota layak anak,” harap Wawali. (mg25/joo)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!