Timor Express

SUKSESI

Partisipasi Tinggi karena Musim Panen

JAKARTA, TIMEX-Golput selalu menjadi tantangan bagi penyelenggara pemilu. Di setiap provinsi dan dapil selalu ada warga yang tidak menggunakan hak pilihnya. Itulah pentingnya setiap rekapitulasi, KPU provinsi selalu melaporkan DPT dan pengguna hak pilihnya.

Namun, hal tersebut sepertinya tidak berpengaruh terhadap warga Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan (Kalsel). Di sana warga memiliki tingkat partisipasi yang sangat tinggi. Persentase penggunaan hak pilih mencapai 87 persen.
Hal itu menjadi sedikit perdebatan ketika KPU Kalsel mengumumkan data perolehan suara Minggu (12/5) di kantor KPU. Dua saksi yang mempertanyakan hal tersebut merupakan perwakilan dari paslon pilpres. Baik dari kubu Tim Kampanye Nasional (TKN) maupun Badan Pemenangan Nasional (BPN). ”Saya juga mau menanyakan, kenapa tingkat partisipasi pemilih disabilitas di Kabupaten Hulu Sungai Tengah ini juga bisa mencapai 87 persen, sedangkan di Banjarmasin sendiri hanya 18 persen saja?” kata Direktur Relawan BPN Ferry Mursyidan Baldan.
Dua pertanyaan tersebut dijawab enteng oleh Ketua KPU Kalsel Sarmuji. Dia menjelaskan, Pemilu 2019 ini memiliki gaung yang luar biasa. Terutama bagi warga Tapin. Pada 17 April lalu pemilih di Tapin justru datang sebelum pukul 07.00. Waktu tersebut merupakan kali pertama mereka melakukan aktivitas. Penduduk Tapin kebanyakan bekerja sebagai petani. Sebelum berladang, mereka menyempatkan diri untuk mengunjungi TPS. ”Apalagi, ini bertepatan dengan musim panen, hati warga lagi senang-senangnya,” ucap Sarmuji.

Satu-satunya alasan kenapa warga setempat tidak memilih adalah telat datang ke TPS. Saat datang pagi, mereka mendapati TPS sudah penuh antrean pemilih. Mereka memutuskan langsung menuju ke ladang di kawasan perbukitan. Alasannya, jika mereka tidak segera mendatangi ladang, bulir padi yang hendak dipanen akan dituai burung-burung. ”Jadi, jangan kaget jika Tapin persentase (partisipasi) pemilihnya selalu tinggi, saya juga pernah jadi ketua KPU di sana tingkat persentase pemilihnya juga tinggi saat itu,” lanjut Sarmuji,

Hal itu justru ditanggapi pemimpin rekapitulasi kemarin. ”Desain waktu ini sangat penting memang. Musim burung adalah musim yang paling krusial untuk meningkatkan pencoblosan warga,” seloroh anggota KPU Hasyim Asyari.

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan persentase partisipasi pemilih di Kota Banjarmasin. Sarmuji menjelaskan, bukan hanya pemilih difabel yang jumlahnya menurun. Pemilih tahun ini memang sedikit menurun dari Banjarmasin. Namun, itu merupakan kejadian yang lumrah. ”Karena ada perpindahan ibu kota administratif di Provinsi Kalsel dari Banjarmasin ke Banjarbaru,” terangnya.

Warga di Banjarmasin lebih memilih untuk pindah ke Banjarbaru. Banyak juga warga sekitar yang melakukan hal serupa. Itu mengakibatkan banyak DPK yang masuk di Banjarbaru. Mayoritas berasal dari warga yang baru saja tinggal di Banjarbaru. ”Banyak warga kabupaten lain yang baru mengambil rumah di sana, tidak perlu disangsikan. Namanya juga kota berkembang, semua orang ingin pindah ke kota semuanya,” jelas Sarmuji.(bin/c10/agm/jpg/cel)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!