Tingkatkan Rasio Elektrifikasi, PLN Siapkan Infrastruktur Listrik – Timor Express

Timor Express

EKONOMI

Tingkatkan Rasio Elektrifikasi, PLN Siapkan Infrastruktur Listrik

WAWANCARA. Direktur Bisnis Regional JBTBN (Jawa Bagian Timur, Bali dan Nusa Tenggara), Djoko R. Abumanan didampingi GM PLN UIW NTT, Ignatius Rendrayoko saat diwawancara seputar persoalan kelistrikan di NTT, Jumat (10/5).

IST

KUPANG, TIMEX – PLN berupaya mempercepat ratio elektrifikasi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang saat ini baru mencapai 71 persen. Untuk menaikkan rasio elektrifikasi (RE) di NTT sesuai target sebesar 90 persen di akhir tahun 2019, berbagai upaya terus dilakukan oleh PLN. Selain program CSR berupa penyambungan listrik gratis bagi 11.000 pelanggan yang masuk dalam kategori tidak mampu, (sesuai database Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan), PLN juga mengejar pembangunan jaringan transmisi, gardu induk serta gencar melistriki desa.

Direktur Bisnis Regional JBTBN (Jawa Bagian Timur, Bali dan Nusa Tenggara), Djoko R. Abumanan, mengatakan, dalam pembangunan infrastruktur kelistrikan untuk memperkuat dan memperluas jangkauan sistem interkoneksi, PLN membangun Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 70 kV Ruteng – Bajawa. Transmisi 70 kV tersebeut akan melewati beberapa kabupaten antara lain Manggarai Timur (Borong), Nagekeo, Ende (Kampung Ropa), Maumere (Wairita) dan Folres Timur (Larantuka).

Djoko optimis pembangunan SUTT 70 kV di jalur Ruteng – Ropa dapat diselesaikan akhir tahun 2019, meski kendala yang dihadapi tidaklah ringan mengingat kontur tanah berbukit-bukit. Dan untuk jangka pendek, pada triwulan III mendatang sudah dapat dioperasikan section Ruteng – Bajawa

“Sampai saat ini progres jalur Bajawa diperkirakan Juli, lanjut Bajawa-Ropa tahun ini 2019. Jadi kerjanya dua, dari ruteng sama dari Ropa kemudian bertemu di Bajawa,” ujar Djoko di sela-sela peresmian BBM Satu harga SPBU Pocoranaka oleh Menteri ESDM, Ignatius Jonan, Jumat (10/5) lalu.

Selain membangun transimisi, Djoko menyebutkan, upaya lain yang dilakukan PLN di beberapa daerah adalah dengan menggunakan pembangkit tenaga surya atau biasa disebut dengan sistem hibrid komunal. Untuk pengadaannya, saat ini sedang dalam proses lelang untuk 24 lokasi sepanjang tahun ini.

Djoko mengaku, upaya untuk melistriki NTT penuh dengan tantangan karena kondisi geografis. Selain daerahnya kepulauan, pegunungan dan lembah, tidak sedikit desa yang terletak di lereng-lereng bukit. Sehingga untuk mengangkut material listrik (tiang dan assesorisnya, kawat dan trafo) membutuhkan waktu yang cukup lama. Apalagi, untuk pembangunan jaringan transmisi 70 kV sistem Flores, jika ditarik dari ujung barat sampai ujung Timur, panjang jaringannya mencapai 600 kms, melebihi jaringan yang ada di Pulau Jawa.

“Sejumlah strategi tengah dijalankan oleh PLN karena di Flores ini panjangnya 600 km. Sangat panjang dan itu sama dengan Jakarta-Surabaya. Persoalan bukan tower, tapi lintasan. Mudah-mudahan 2019 bisa selesai dan kami minta masyarakat merelakan tanah dan pohon terkhusus pada tempat-tempat yang dibangun tiang listrik,” lanjutnya seraya mengucapkan terima kasih atas dukungan Pemerintah Daerah dan warga yang selama ini membantu PLN untuk mendapatkan lahan tapak-tapak tower dan perizinan.

Meski banyak kendala yang dihadapi PLN dalam merealisasi penyambungan listrik, Djoko menegaskan, PLN siap bekerja keras untuk melayani masyarakat NTT, terlebih untuk mengejar ketertinggalan rasio elektrifikasi yang saat ini baru mencapai 71 persen per Maret 2019.

“Kami mengharapkan dukungan pemerintah dan masyarakat sehingga pembangunan kelistrikan di NTT dapat berjalan dengan lancar sesuai harapan bersama,” pintanya.

Terkait dengan penyambungan litrik bagi 11.000 KK kurang mampu di NTT, General Manager PT. PLN Unit Induk Wilayah NTT, Ignatius Rendrayoko optimis upaya itu bisa terealisasi hingga akhir tahun 2019. Upaya yang dilakukan PLN, selain menyambung saluran rumah yang levering, PLN juga menambahkan infrastruktur baru berupa jaringan tengangan menengah dan tengangan rendah, lengkap dengan trafo distribusinya. Upaya inilah yang harus dilakukan PLN mengingat sebagian dari warga yang akan mendapatkam sambungan gratis belum tersedia jaringan listriknya .

“Upaya yang kita lakukan ini merupakan wujud pemerataan pembangunan di sektor kelistrikan guna memenuhi kebutuhan masyarakat di NTT. Selain itu, kita ingin agar pasokan listrik di NTT tersedia dalam kapasitas yang cukup, andal bahkan mampu mendukung pengembangan industri dan pariwisata,” ungkap Rendrayoko. (tom)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!