2019 Milik Milenial – Timor Express

Timor Express

NASIONAL

2019 Milik Milenial

Anak-anak Muda yang jadi Wakil Rakyat

KUPANG, TIMEX – Pemilu 2019 menjadi tahunnya anak muda. Setidaknya itu tergambar dari beberapa calon legislatif yang telah dinyatakan lolos. Usianya masih muda, baik untuk DPR RI, DPD maupun DPRD.

Berdasarkan penelusuran Timor Express, untuk DPR RI terdapat tiga orang yang masih sangat muda usianya. Mereka adalah Melki Laka Lena dari Partai Golkar yang berusia 42 tahun, Yohanes Fransiskus Lema atau sering disapa Ansy Lema 43 tahun dari PDIP dan Ahmad Yohan 43 tahun dari PAN.

Ahmad Yohan terpilih dari daerah pemilihan (Dapil) I meliputi daratan Flores, Lembata dan Alor. Sedangkan Melki dan Ansy terpilih dari Dapil II meliputi Timor, Sumba, Rote Ndao dan Sabu Raijua.

Di DPD RI pun demikian. Dari empat calon yang terpilih, dua di antaranya masih di bawah usia 40 tahun. Mereka adalah dr. Asyera Wundalero 35 tahun dan Angelius Wake Kako 29 tahun.

Sedangkan di tingkat DPRD Provinsi NTT, yang termuda adalah Rambu Konda Anggung Praing. Politisi muda PAN ini baru berusia 23 tahun. Ia terpilih dari Dapil III meliputi daratan Sumba. Caleg termuda lainnya adalah Bernardinus Taek. Juga dari PAN. Bernardinus yang baru berusia 24 tahun itu terpilih dari Dapil VII, yakni TTU, Belu dan Malaka.

Selanjutnya, Adrian Manafe asal Partai Hanura yang berusia 29 tahun. Ia terpilih dari Dapil II meliputi Kabupaten Kupang, Rote Ndao dan Sabu Raijua.

Sementara itu, untuk DPRD tingkat kabupaten/kota, ada nama Nini Wendelina Atok. Politisi PAN yang baru berusia 22 tahun ini terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Belu. Menariknya, Nini adalah adik dari Bernardinus Taek yang juga terpilih menjadi anggota DPRD Provinsi NTT.

Caleg termuda lainnya di tingkat kabupaten/kota, yakni Richard Odja dari Partai Gerindra yang baru berusia 27 tahun. Ia terpilih menjadi anggota DPRD Kota Kupang. Selanjutnya, ada nama politisi Partai Nasdem, Yuvensius Tukung. Ia terpilih untuk periode kedua menjadi anggota DPRD Kota Kupang. Caleg muda lainnya yang ikut terpilih menjadi anggota DPRD Kota Kupang adalah Satrio Julius Pandie. Rio-sapaan karib politikus Partai Berkarya ini baru berusia 34 tahun.

Kepada Timor Express, Rabu (15/5), Rambu Praing mengatakan dirinya sejak kecil sudah tertarik dengan politik. Ia mengikuti jejak ayahnya yang menggeluti dunia politik. Alumnus Universitas Setia Budi ini mengatakan sejak 2014 ia sudah terjun ke politik. Namun baru mencalonkan diri menjadi anggota DPRD pada Pemilu 2019. “Memang minat saya di politik, sehingga sejak 2014 sudah mulai berpolitik,” kata Rambu.

Anak ketiga dari pasangan Khristofel Praing dan Merliaty Simanjuntak ini mengaku bersyukur karena walaupun masih muda namun diberi kepercayaan oleh masyarakat, khususnya dapil III untuk menjadi anggota DPRD NTT periode 2019-2024. “Saya ingin melakukan pemberdayaan masyarakat untuk mengatasi persoalan kemiskinan,” kata Rambu.

Terpisah, Bernardinus Taek mengatakan dirinya bersyukur bisa mendapatkan kepercayaan rakyat. Walaupun masih muda, namun ia tetap percaya diri untuk membawa aspirasi rakyat di gedung DPRD. Baginya, ini adalah kesempatan untuk berbuat kebaikan bagi banyak orang. “Saya berpikir bahwa saatnya saya pakai masa muda saya untuk membantu banyak orang,” ujarnya.
Walaupun masih awam dengan politik, namun politisi PAN ini siap untuk mengembangkan diri dan belajar dari para seniornya. “Yang terpenting terus memperjuangkan kepentingan masyarakat yang kita wakili,” katanya.

Politisi muda asal Partai Berkarya, Satrio Julius Pandie mengaku siap menjalankan amanah dan kepercayaan masyarakat yang didapatkannya. Satrio Pandie merupakan salah satu Calon caleg terpilih yang akan duduk di kursi DPRD Kota Kupang periode 2019-2024. Saat Pemilu 17 April lalu, ia mendapat 588 suara. Akumulasi total suara partai sebanyak 1.944 suara. Rio-sapaan karibnya, merupakan salah satu politisi termuda yang dipercayakan duduk di kursi DPRD Kota Kupang.

Ia mengatakan selama belasan tahun berada di salah satu LSM mengajarkan dia banyak pengalaman berharga.
“Sejak menamatkan studi S1 tahun 2008, saya langsung bergabung dengan PNPM Mandiri sejak tahun 2009 sampai 2016. Sambil melanjutkan studi S2 di Unika, sejak tahun 2010 sampai 2012. Wisuda S2 pada tahun 2012 lalu,” kata Rio, pekan lalu di Kupang.
Ia menambahkan tahun 2016, dia bergabung dengan IFOS hingga dia ditetapkan menjadi caleg. “Saya memilih bergabung di dunia politik karena pengalaman saya selama belasan tahun tentang perencanaan, pembangunan, pemberdayaan, dan pengawasan sudah biasa dilakukan. Jadi saya percaya bisa bekerja untuk memperjungkan suara rakyat,” kata Rio.

Rio juga ingin mengajak kaum muda untuk melirik dunia politik. “Jadi warna dunia politik sekarang sudah berbeda dengan sebelumnya. Jika dulu orang yang terjun dunia politik adalah orangtua, sekarang anak muda juga diberikan ruang seluas-luasnya untuk bergabung,” terangnya.

Terpisah, politisi muda lainnya Juvensius Tukung, yang kini berusia 31 tahun, mengaku amanah rakyat yang diberikannya selama dua periode merupakan sebuah tanggung jawab besar. “Jadi kategori politisi termuda memang bukan kebanggaan. Saya sendiri jadi DPRD sejak berusia 27 tahun dan masih dipercayakan sampai sekarang. Tentunya banyak hal penting yang telah saya pelajari selama lima tahun menjabat sebagai DPRD Kota Kupang dan kini kembali dipercaya,” katanya.

Juven mengaku selama menjadi DPRD lima tahun, tentunya banyak pembelajaran yang dia dapatkan. Dinamika yang terjadi membuatnya lebih baik lagi ke depannya. Tentu masih banyak tugas yang belum dijalankan dan masih banyak pekerjaan rumah yang masih harus diselesaikan. “Saya juga berbangga karena kaum muda mulai diberi kesempatan untuk duduk dan masuk dalam dunia politik. Saya rasakan sendiri karena saya juga berjalan bersama kawan-kawan muda. Tentunya ini atas kerja sama dan dukungan semua pihak,” katanya.

Sebelumnya, politisi muda kaya pengalaman, Ansy Lema mengatakan dirinya maju menjadi calon anggota DPR RI dari Dapil NTT II karena ingin ada perubahan di NTT. Ansy percaya dalam era otonomi daerah dan desentralisasi, membangun dan memajukan Indonesia sama dengan membangun daerah. Menurutnya, jika daerah maju, Indonesia maju. Namun, syarat utama suatu daerah bisa maju adalah adanya pemimpin transformatif-inspiratif di daerah tersebut. Pemimpin adalah pionir, perintis, pemberi arah dan orientasi suatu proses perubahan dan transformasi. Itu mengapa, Jakarta berubah maju karena ada Jokowi dan Ahok, Bantaeng berubah karena ada Nurdin Abdullah, Bandung maju karena Ridwan Kamil, Surabaya jadi keren karena kepemimpinan Tri Rismaharini. Menurut politisi PDIP ini, pemimpin dengan integritas-kapasitas mumpuni yang mampu menghadirkan birokrasi bersih berorientasi melayani. Pemimpin yang mentransformasi birokrasi, sehingga birokrasi bisa bekerja optimal menjalankan fungsi pembangunan, pelayanan publik dan pemberdayaan masyarakat. “Kemarin Ansy adalah juru bicara Ahok dan Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah, hari ini Ansy Lema pulang kampung untuk menjadi “Sang Juru Bicara” rakyat NTT, penyambung lidah rakyat NTT di Senayan,” begitu kata Ansy. (mg25/sam)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!