Semua Berawal dari Debat Kusir di Media Sosial – Timor Express

Timor Express

RAGAM

Semua Berawal dari Debat Kusir di Media Sosial

BAHAS SAMPAH. Para aktivis pose bersama usai diskusi lepas terkait persoalan sampah di Kota Kupang yang berlangsung di Centra UKM C & A Kupang, Sabtu (1/6).

ISTIMEWAA

Diskusi Lepas Pemerhati Masalah Sampah di Kota Kupang

Banyak perdebatan tentang persoalan sampah di Kota Kupang di media sosial. Alhasil, sebuah group media sosial menginisiasi sebuah diskusi lepas yang menghadirkan para pemerhati tersebut, Sabtu (1/6).

CARLENS BISING, Kupang

TIDAK boleh membawa embel-embel institusi atau latar belakang profesi. Diskusi lepas. Tanpa kepentingan tertentu. Semua adalah aktivis. Peduli sampah di Kota Kupang.”

Demikian kesepakatan yang diambil sebelum memulai diskusi di Centra UKM C & A Kupang, Sabtu (1/6). Winston Rondo secara spontan menenteng laptopnya, mengambil posisi di meja paling depan. Diikuti Naga, atau Nathan Gah. Mengatur alur diskusi.

Di barisan forum diskusi ada juga yang politisi, jurnalis, aparatur sipil negara (ASN), tokoh pemuda dan tokoh masyarakat. Intinya mereka punya perhatian yang sama terkait masalah sampah di kota ini.

Sambil memulai diskusi, group WhatsApp ramai. Saling menagih janji. Untuk bergabung dalam diskusi yang diinisiasi hampir 30 orang itu. Yang hadir hampir 30 orang. Ini karena diskusi tersebut lahir dari diskusi di media sosial, baik WhatsApp maupun Facebook. Diskusinya seputar pengelolaan sampah di Kota Kupang. Terutama ketika kota ini mendapat predikat salah satu kota terkotor di Indonesia pada Februari 2019 lalu.

Sejumlah aksi telah dilakukan masyarakat. LSM, organisasi masyarakat, mahasiswa dan siswa. Ada pula BUMN dan BUMD. Bahkan dipimpin langsung Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat dan Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore. Diikusi para ASN. Hasilnya belum maksimal. Semakin ada aksi, masalah terus muncul. Mulai dari kekurangan armada angkut dan tenaga angkut. Minim tempat pembuangan sampah sementara (TPS). Bahkan berbagai masalah di tempat pembuangan akhir (TPA) Alak pun muncul.

Masalah-masalah ini selalu menjadi bahan diskusi di group media sosial. Ada yang menyudutkan pemerintah, baik kepala daerah, dinas terkait hingga lurah dan camat sampai RT/RW. Ada pula yang menyalahkan masyarakat. Masyarakat balik salahkan pemerintah. “Ini seperti debat kusir soal telur dan ayam. Mana yang duluan,” kata Winston dalam diskusi tersebut.

Beberapa ide mulai muncul. Misalnya pengadaan kontainer khusus sampah. Ini sudah pernah dilakukan oleh salah satu kelurahan. Bank Sampah juga menjadi solusi. Misalnya, setiap penerima beras bantuan sosial (Rastra) wajib membawa sampah plastik.

Pengelolaan sampah mencontoh daerah lain, misalnya diberikan kepada pihak ketiga atau membentuk perusahaan daerah khusus sampah. Ada pula usulan agar pos pembiayaan pengelolaan sampah diturunkan dari Dinas Kebersihan ke kecamatan, kelurahan bahkan tingkat RT/RW. “Dari kacamata ekonomi, sampah itu duit,” kata om ROY, sapaan Rikardus Outniel Yunatan. Owner Centra UKM C & A Kupang.

Seluruh upaya yang dilakukan punya tujuan dan harapan. Yang paling utama, mendorong kesadaran masyarakat tentang pentingnya hidup bersih. Karena bersih bukan saja soal kesehatan, tetapi bagian dari ibadah.

Diskusi yang berlangsung lebih dari dua jam itu menghasilkan sejumlah rekomendasi konkrit internal untuk aktivis peduli sampah. Misalnya, melakukan aksi nyata dan partisipasi untuk mendukung kegiatan kreatif seperti Ploakking Run atau lari sambil pungut sampah.

Kegiatan ini direncanakan pada Juli 2019 dengan target 10 ribu orang. Jadwalnya disesuikan dengan momentum masa orientasi siswa (MOS). Ikut sertakan warga kelurahan. Tokoh kunci yang akan diundang dan terlibat adalah gubernur dan wali kota. Kegiatan ini sebelumnya sudah pernah diinisiasi lembaga BETA PEDULI, sehingga akan dikolaborasikan dengan melibatkan organisasi lain. Sejumlah rencana aksi mulai dirancang. Diskusi di group median sosial pun masih hangat. Dari group yang satu, ke group yang lain. Anggota groupnya hampir sama. Diskusi sambil menunggu aksi-aksi nyata lain. Demi Kota Kupang yang diimpikan bersama. (*/sam)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!