Neraca Dagang NTT Alami Defisit US$ 22,3 Juta – Timor Express

Timor Express

EKONOMI

Neraca Dagang NTT Alami Defisit US$ 22,3 Juta

Maritje Pattiwaellapia

Januari-April 2019

KUPANG, TIMEX – Neraca perdagangan (balance of trade) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada bulan April 2019 kembali mengalami defisit. Hal ini dikarenakan realisasi ekspor NTT lebih kecil dibandingkan dengan realisasi impor.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTT, Maritje Pattiwaellapia dalam jumpa pers, Senin (10/6) mengatakan, ekspor Provinsi NTT pada bulan April 2019 senilai US $ 1.138.079 dengan volume sebesar 4.866 ton, atau mengalami penurunan sebesar 3,07 persen dari ekspor bulan Maret 2019 sebesar US $ 1.174.125. Nilai ekspor tersebut terdiri dari ekspor migas sebesar US $ 92.793 dan ekspor non migas senilai US $ 1.045.286.

“Komoditas ekspor Provinsi NTT bulan April 2019 seluruhnya dikirim ke Timor Leste sebesar US $ 1.138.079. Komoditas terbesar yang diekspor Provinsi NTT pada bulan April2019 adalah kelompok komoditas garam, belerang, dan kapur senilai US $ 174.068,” sebut Maritje.
Sedangkan impor Provinsi NTT pada April 2019, lanjut Maritje, senilai US $ 9.599.799 dengan volume sebesar 19.772 ton. Komoditas impor terbesar yakni bahan bakar mineral yang didatangkan dari Malaysia. Jika membandingkan kumulatif nilai ekspor sebesar US $ 4.514.562 terhadap kumulatif nilai impor sebesar US $ 26.826.516 maka sejak Januari sampai April 2019 terdapat defisit sebesar US $ 22.311.954.
Mei 2019, Daya Beli Petani Menurun
BPS NTT juga merilis Nilai Tukar Petani (NTP) bulan Mei 2019 didasarkan pada perhitungan NTP dengan tahun dasar 2012 (2012=100). Penghitungan NTP ini mencakup 5 subsektor, yaitu subsektor padi dan palawija, hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, peternakan dan perikanan.

Menurut Maritje, pada bulan Mei 2019, NTP NTT sebesar 105,01 dengan NTP masing-masing subsektor tercatat sebesar 105,76 untuk subsektor tanaman padi-palawija (NTP-P); 102,94 untuk subsektor hortikultura (NTP-H); 102,71 untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTP-TPR); 107,80 untuk subsektor peternakan (NTP-Pt) dan 107,15 untuk subsektor perikanan (NTP-Pi).

Maritje menambahkan, terjadi penurunan sebesar 0,06 persen pada NTP Mei 2019 jika dibandingkan dengan NTP April 2019. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tingkat kemampuan/daya beli dan daya tukar (term of trade) petani di pedesaan menurun dibanding bulan sebelumnya. Hal ini disebabkan adanya peningkatan harga-harga bahan makandan sandang (konsumsi rumah tangga).

“Di daerah perdesaan terjadi inflasi pada bulan Mei 2019 sebesar 0,35%. Faktor pemicunya adalah adanya peningkatan harga pada komoditas bahan makanan dan sandang,” ungkapnya. (tom)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!