Bisnis VB Data Mulai Makan Korban – Timor Express

Timor Express

EKONOMI

Bisnis VB Data Mulai Makan Korban

Ilustrasi VB Data

NET

Member Berniat Polisikan Leader

KUPANG, TIMEX – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTT sudah mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap tawaran manis investasi BDIG/VB Data (Big Data International Groups/Very Big Data). Sayangnya, imbaun OJK tidak dihiraukan oleh sebagian orang. Kini, bisnis cryptocurrency (mata uang digital) tersebut menuai persoalan dan memakan korban.

Tawaran manis yang sering digaungkan para leader dan upline selaku perekrut bisnis berjenjang kepada downline (member di bawahnya) kini berubah menjadi pahit. Sebab para member kini tidak bisa lagi melakukan withdraw (penarikan atau pencairan) profit berupa bunga 1 persen per hari dari total investasi.

Cindy Seran, salah satu korban dari investasi ini mengaku mengetahui VB Data dari kerabatnya yang bekerja di Dinas Kehutanan Provinsi NTT. Kerabatnya itu mendapat informasi tentang VB Data dari pegawai UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Bernadeta Salem dan Corly Arystin Tatengkeng. Tergiur dengan tawaran manis, dia akhirnya mengikuti bisnis VB Data pada 4 Februari 2019. Karena sudah menjadi member VB Data, dia kemudian ikut serta dalam grup Telegram ‘VB Data Flobamora’ agar bisa berkomunikasi dengan leader, para upline serta ratusan member lainnya yang tergabung dalam grup tersebut.

“Yang jadi upline saya itu paman saya. Di atasnya ada ibu Corly dan di atasnya lagi ada ibu Bernadetha. Setiap kali kami mau withdraw, ibu Bernadetha dan suaminya, Pak Donatus Mauloe selaku Leader 01 yang melakukan proses pencairan uang dan bukti transfernya dikirim ke grup,” ujar Cindy yang adalah warga Kelurahan Alak, Kecamatan Alak Kota Kupang saat diwawancarai pada Rabu (12/6).

Cindy menyebutkan, nominal uang yang dia investasikan saat pertama kali menjadi member VB Data adalah sebesar Rp 10 juta. Dan saat melakukan top up (deposit) untuk membesarkan nilai investasi, setiap member harus membeli PIN. Awalnya, untuk top up cukup membeli satu PIN seharga Rp 16 ribu. Namun saat ini, meski keuntungan tidak bisa lagi dicairkan, top up justru butuh lima PIN dengan harga satu PIN sekitar Rp 18 ribu.

“Saat kita top up, uang yang diinvestasikan akan tampil pada akun VB Data dalam bentuk dolar dan tertera di kolom FCS (Financial Coin Saving). Setiap hari ada profit satu persen dari total investasi. Profit ini masuk pada kolom FC (Financial Coin) juga dalam bentuk dolar,” katanya.

“Nominal pada FC inilah yang bisa kita lakukan withdraw. Jika tidak withdraw, bisa kita top up kembali untuk perbesar nilai investasi (FCS). Sedangkan FCS tidak bisa dilakukan withdraw. Padahal di awal mereka (perekrut/upline, red) bilang saldo kita bisa tarik kapan saja kalau mau berhenti dari VB data,” lanjut Cindy.

Cindy mengaku pernah melakukan beberapa kali withdraw. Total pencairan mencapai Rp 10 juta lebih. Namun keuntungan yang dicairkan tersebut lebih banyak berasal dari bonus dari perekrutan member untuk menjadi downline-nya. Sedangkan keuntungan dari bunga investasi yang sudah dicairkan hanya berjumlah Rp 1.080.000 (dua kali pencairan).

“Setiap kali kita dapat member baru, ada bonus bagi perekrut. Saya sendiri punya 18 downline. Total investasi semua downline mencapai Rp 300 juta. Suami saya yang masuk pada 7 Februari 2019 dengan investasi sebesar Rp 10 juta juga merupakan downline saya,” jelas Cindy.

“Suami saya juga punya delapan downline. Investasi downline-nya yang paling besar itu bapak saya dengan investasi sebesar Rp 100 juta juga. Sedangkan downline yang lain, rata-rata investasinya sekitar Rp 10 juta. Karena punya dowline, maka suami saya dapat bonus. Profit dari investasi tidak dia cairkan karena langsung di-top up kembali untuk perbesar investasi (FCS),” sambung Cindy.

Terhitung sejak awal April 2019, Cindy katakan, semua member VB Data tidak bisa lagi melakukan withdraw profit investasinya. Dan sejak saat itu pula, Bernadetha dan suaminya selaku Leader 01 mulai jarang berkomunikasi di grup Telegram.

“Sejak withdraw tidak bisa diproses, ibu Bernadetha dan Pak Don seperti tarik diri. Mereka tidak lagi aktif berkomunikasi dalam grup. Hanya ibu Corly yang sampaikan ke grup dan minta member menunggu verifikasi data supaya pengajuan withdraw bisa langsung diproses oleh perusahaan,” katanya.

Lantaran cemas dengan investasi sang ayah yang cukup besar dan baru mendapatkan profit sebesar Rp 10 juta, Cindy mengaku sempat membangun komunikasi secara pribadi dengan Bernadetha. Namun Bernadetha tidak merespon pesan maupun telepon darinya.

“Karena tidak respon, saya marah-marah di grup. Ibu Corly kemudian komunikasi dengan Pak Donatus dan akhirnya dia hubungi saya dan sampaikan persoalan. Tapi karena saya desak terus, Pak Don dan Ibu Bernadetha kemudian transfer uang secara bertahap. Transfer pertama dan kedua masing-masing sebesar Rp 10 juta. Transfer ketiga sebesar Rp 20 juta. Mereka janji akan kembalikan modal bapak saya. Akun bapak sudah mereka ambil tapi sisa modal belum dikembalikan,” katanya.

“Karena saya terus bertanya di grup, grup Telegram akhirnya dihapus. Sabtu kemarin saya ke Kefa bertemu ibu Bernadetha dan suaminya untuk minta uang, tapi tidak dikasih. Saya bilang mau lapor polisi, mereka bilang silahkan lapor. Sekarang, semua downline saya dukung kalau saya lapor mereka ke polisi,” ungkapnya.

Sementara Bernadetha Salem saat dikonfirmasi terkait persoalan ini mengaku, perusahaan VB Data masih ada. Begitu juga aktivitas bisnis juga masih berjalan. Hanya saja, pengajuan withdraw dari member tidak lagi diproses sejak April karena masih dilakukan verifikasi data seluruh member.

“Pencairan FC memang berakhir di Maret 2019. Leader kita memberitahu bahwa untuk sementara berhenti dulu pencairannya guna verifikasi data. Upline kami Pak Rahmat di Jakarta. Kami belum bertemu secara langsung tapi karena kami rasa bisnis ini baik, makanya kami ikut. Di atasnya Pak Rahman ada Pak Dimas. Mereka yang biasa kasih informasi dan kita teruskan informasi lewat grup,” jelasnya.

Bernadetha mengaku dirinya tidak pernah menjanjikan sesuatu yang muluk-muluk saat merekrut member VB Data. Dia juga tidak memaksa orang untuk join ke dalam bisnis tersebut. Sebaliknya dia hanya berbagi informasi dan memberikan keleluasaan bagi setiap orang untkuk memutuskannya. Dan sebagai member VB Data, dia mengaku tidak bisa menjamin kapan pengajuan withdraw dari para member di bawahnya bisa diproses oleh perusahaan VB Data.

“Saya juga member dan invest uang cukup besar. Saya juga merasa dirugikan. Bukan hanya ibu Cindy dan member yang lain. Awalnya kita semangat 45 dan kita juga tidak pernah tahu hasil akhirnya seperti ini,” katanya.

“Dengan Pak Rahmat, kami masih komunikasi sampai sekarang. Sedangkan dengan Pak Dimas, saya sms dan WA berulang kali tetap tidak dibalas,” sambung Bernadetha seraya mengaku siap memberikan keterangan di polisi jika Cindy Seran dan member yang lain membawa persoalan ini ke jalur hukum.

Kamis (13/6) kemarin, Bernadetha kembali mengaku bahwa perusahaan VB Data sudah memproses pengajuan withdraw dari beberapa member yang sudah terverifikasi.

“Perusahan Sementara ada pencairan untuk member yang terverifikasi dari Desember 2018-Januari 2019. Yang lain menunggu antrian uangkapnya. (tom)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!