Linda Sebut Widianto Gelapkan Rp 418 Juta – Timor Express

Timor Express

NASIONAL

Linda Sebut Widianto Gelapkan Rp 418 Juta

Dugaan Korupsi NTT Fair

Ada Tagihan Rp 40 Juta dari M Karaoke

KUPANG, TIMEX – Pemeriksaan tersangka perkara dugaan korupsi proyek NTT Fair berlanjut di Kejati NTT, Selasa (18/6). Walau keenam tersangka dibawa ke kantor Kejati, namun tidak semua menjalani pemeriksaan.

Tersangka yang diperiksa tambahan adalah Linda Liudianto selaku Kuasa Direktur PT Cipta Eka Puri.

Linda yang diperiksa penyidik Emi Jehamat itu, didampingi kuasa hukumnya Amos Cadu Hina, SH., Nikolas Ke Lomi, SH., dan Edikson Makandolu, SH.

Dalam pemeriksaan kedua ini, Linda yang juga Direktur PT Hanjungin, kembali membeberkan fakta baru yang mengejutkan. Kali ini, Linda mengungkapkan keterlibatan Widianto dan Erwin Yohanes.

Amos Cadu Hina yang diwawancarai Timor Express usai mendampingi kliennya, mengaku, Linda dalam berita acara pemeriksaan telah mengurai keterlibatan Widianto selaku manajer proyek NTT Fair.

Menurut Amos, kliennya saat diperiksa mengatakan bahwa Widianto telah menggelapkan uang proyek NTT Fair senilai Rp 418 juta. “Jadi menurut Linda, Widianto sebagai manajer proyek telah membawa lari uang proyek Rp 418 juta. Awalnya PPK yang menyuruh klien kami mencairkan uang tersebut untuk bayarkan upah buruh dan mandor,” sebut Amos.

Dijelaskan, dalam setiap pencairan uang di bank, Linda tidak pernah secara langsung melakukan transaksi.
Linda mengaku hanya mengisi slip penarikan dengan nominal yang dibutuhkan, kemudian melampirkan dengan surat kuasa penarikan.

Selanjutnya, slip penarikan dan surat kuasa diberikan kepada Widianto untuk melakukan pencairan di bank.

Namun setelah mencairkan uang Rp 418 juta, tidak dipakai sesuai peruntukan. “Klien kami tidak tahu uang itu ke mana. Widianto juga tidak bisa mempertanggungjawabkan uang tersebut. Mengenai pencairan uang di bank selalu atas perintah PPK. Yang cairkan di bank adalah Widianto dan Erwin Yohanes selaku bendahara proyek. Klien kami hanya mengisi slip dan lampirkan surat kuasa menarik,” jelas Amos yang mengaku sudah mengajukan permohonan penangguhan penahanan kliennya ke penyidik.

Nikolas Ke Lomi menambahkan, Linda Liudianto juga mengungkapkan bahwa pernah ada tagihan dari M Karaoke sebesar Rp 40 juta. Dan untuk melunasi tagihan tersebut, Widianto menjual beberapa asetnya di lokasi proyek NTT Fair.

Selain itu, lanjut Nikolas, Linda juga dalam keterangan ke penyidik, mengatakan, sebagian asetnya disita tersangka Hadmen Puri sebagai Direktur PT Cipta Eka Puri. “Awalnya klien kami hanya menyediakan alat berat di lokasi proyek, namun kemudian ditawarkan menjadi kuasa direktur, tapi surat kuasa itu tidak diakui PPK dan KPA. Saat proyek ini bermasalah, Hadmen kemudian membuat surat untuk pengalihan asset milik Linda menjadi asset PT Cipta Eka Puri. Hadmen lalu menjual sebagai asset senilai Rp 1 miliar,” ungkap Nikolas mengutip keterangan kliennya.

Sementara, tersangka Ferry Jonson Pandie selaku Pelaksana Lapangan Konsultan Pengawas PT Dana Consultant (Desakon) didampingi kuasa hukum Dedy Jahapay, SH.

Dedy yang diwawancarai, mengatakan, kliennya dalam pemeriksaan tersebut, menerangkan ke penyidik bahwa dalam pelaksanaan pekerjaan manajemen konstruksi pekerjaan pembangunan fasilitas pameran kawasan NTT Fair dari dana yang telah dicairkan dan masuk ke rekening PT Dana Consultant sebesar Rp 686.140.800.

Selanjutnya, ditranfer ke rekening Ferry Jonson Pandie sebesar Rp 376.515.000.

Terhadap dana yang diterima Ferry Jonson Pandie tersebut telah dia titipkan melalui penyidik sebagai pengembalian kerugian keuangan negara dan telah dilakukan penyitaan pada tanggal 26 April 2019 sebesar Rp 449.380.000. Sehingga terdapat kelebihan pengembalian sebesar Rp 72.865.000.

Adapun kelebihan pengembalian tersebut, karena pada saat pengembalian dana tersebut, Ferry Jonson Pandie tidak memperhitungkan lagi fee perusahaan yang telah dipotong/diterima oleh PT Dana Consultant sebesar 10 persen dari nilai kontrak setelah potong pajak yaitu sebesar Rp 68.614.090, serta kekurangan transfer dari uang muka sebesar Rp 4.217.600.

Selain itu, tersangka Barter Yusuf selaku Direktur CV Desakon (Konsultan Pengawas) didampingi kuasa hukum Fransisco Bernando Bessi, SH.,M.Hum. “Klien saya sejak 26 April lalu sudah mengembalikan uang yang diterima ke penyidik senilai Rp 52 juta lebih,” singkat Fransisco. Terpantau, Barter Yusuf tampak didatangi istrinya saat menjalani pemeriksaan di kantor Kejati NTT.

Terpisah, Kasi Penkum Kejati NTT Abdul Hakim yang dikonfirmasi koran ini, mengatakan, pemeriksaan saksi akan dilanjutkan pada Kamis (20/6). “Pemeriksaan tersangka akan terus dilanjutkan. Ada yang masih menunggu pengacara. Kamis masih ada pemeriksaan tambahan,” kata Abdul Hakim. (joo/sam)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!