Ada Uang untuk ‘Orang Nomor Satu’ – Timor Express

Timor Express

HUKUM

Ada Uang untuk ‘Orang Nomor Satu’

Dugaan Korupsi NTT Fair

Pengakuan Tersangka Linda Liudianto
Dugaan Pemalsuan Dokumen, Linda Dipolisikan 

KUPANG, TIMEX – Direktur PT. Cipta Eka Puri, Hadmen Puri, untuk pertama kalinya diperiksa sebagai tersangka dalam perkara dugaan korupsi proyek NTT Fair, Kamis (20/6).

Hadmen Puri diperiksa penyidik Arif Suhartono di ruang pemeriksaan Bidang Pidum Kejati NTT. Dalam pemeriksaan yang berlangsung dari 11.30 hingga pukul 18.00, Hadmen Puri didampingi tim kuasa hukumnya Marthen Dillak, SH.,MH., dan Simson Lasi, SH.,MH, yang juga dosen pada Fakultas Hukum Universitas Persatuan Guru (UPG) 1945 Provinsi NTT.

Dalam pemeriksaan perdana sebagai tersangka itu, Hadmen Puri membeberkan sejumlah fakta mengejutkan.

Simson Lasi yang diwawancara Timor Express di kantor Kejati NTT, usai mendampingi kliennya, mengatakan, dalam pemeriksaan tersebut, kliennya dicecar 18 pertanyaan terkait kapasitas dan proses pinjam bendera perusahaannya dalam proyek NTT Fair.

Simson sampaikan, sesuai keterangan yang dituangkan dalam berita acara pemeriksaan (BAP), kliennya telah menguraikan kronologi

pinjam bendera perusahannya hingga Linda Liudianto menjadi Kuasa Direktur PT. Cipta Eka Puri.

Dijelaskan, keterlibatan Hadmen dalam perkara NTT Fair adalah telah meminjamkan perusahaannya kepada Linda Liudianto. Dengan demikian kuasa diberikan sepenuhnya kepada Linda. Sementara Hadmen ditawarkan fee sebesar dua persen dari nilai kontrak.

Menurut Simson, Hadmen Puri saat diperiksa, mengungkapkan bahwa yang menjadi penghubung antara dirinya dan Linda adalah Samsul Rizal.

Setelah Samsul Rizal memperkenalkan Linda ke Hadmen, kemudian Linda sendiri datang menemui Hadmen, dan menawarkan fee untuk pinjam bendera perusahaan.

“Jadi sesuai keterangan klien saya, bahwa saat permohonan pinjam bendera itu, proyek ini sudah ‘diamankan’ oleh ibu Linda. Setelah itu baru dia koordinasi dengan klien saya untuk meminta kuasa,” sebut Simson.

Dia melanjutkan, pertama kali kliennya masih meragukan tentang kedatangan Linda bersama suaminya Lee ke rumah Hadmen. Keraguan Hadmen ini adalah bagaimana tanggung jawab ke depan. Dan saat menghubungi Rizal, yang bersangkutan meminta Hadmen tidak usah khawatir karena aset yang dimiliki Linda bernilai sekitar Rp 1 triliun. “Waktu itu klien saya mengatakan dirinya dalam posisi sakit jadi tidak bisa diganggu. Dia tidak bisa urus proyek, karena sementara dirawat jalan. Tapi Linda mengatakan, kasih kuasa saja daripada harus bolak balik. Linda juga mengaku dia sudah mengamankan di lapangan. Makanya dana pencairan dari tahap pertama sampai tahap terakhir itu tidak pernah diketahui oleh klien saya,” urai Simson mengutip keterangan kliennya kepada penyidik.

Sementara, Marthen Dillak, menambahkan, Linda mendatangi kediaman kliennya di Jalan Palem Merah 8 No 16, RT 1/RW 19, Komplek Palem Semi, Kelurahan Bencongan, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Saat itu, Linda menyampaikan kepada Hadmen bahwa akan mengikutkan perusahaannya pada proyek yang ada di Kupang. Namun Hadmen menyampaikan bahwa dirinya sekarang ini masih sakit, dan tidak bisa terlalu mengurus proyek.

Selanjutnya, Samsul Rizal menghubungi Hadmen bahwa sudah memasukkan penawaran perusahaannya di LPSE untuk proyek yang ada di Kupang, dan memberitahu kepadanya bahwa Linda akan datang ke rumahnya.

Samsul Rizal juga mengatakan kepada Hadmen bahwa fee bendera dua persen dari nilai kontrak dikurangi PPN dan PPh dan bagian Hadmen sebesar 0,5 persen.

“Hari itu juga saat Hadmen berada di rumahnya, lalu didatangi Linda Liudianto dan suaminya Lee. Saat itu Linda dan suaminya Lee mengatakan bahwa proyek NTT Fair tersebut sudah lama dia kondisikan,” ungkap Marthen.

Hadmen, lanjut Marthen, juga membeberkan pengakuan Linda dan Lee kepada dirinya dalam pertemuan tersebut, dimana Linda juga mengaku sudah berkomunikasi dengan PPK. “Klien saya juga mengaku bahwa saat itu ibu Linda mengaku bahwa dia sudah kondisikan proyek NTT Fair, sudah komunikasi dengan PPK, sudah kasih uang ke Pokja, orang atas juga. Saat itu klien saya bertanya, orang atas itu siapa, dan dijawab Linda bahwa orang nomor satu. Lalu klien saya tanya lagi, orang nomor satu itu siapa, dan dijawab Linda: Pak Hadmen taulah,” beber Marthen Dilak mengutip keterangan kliennya.

Selain itu, Linda disebutkan juga menyampaikan kepada Hadmen bahwa fee pinjam bendera yang akan diberikan kepadanya sebesar dua persen. “Linda kemudian menyampaikan ke klien kami bahwa sebentar lagi akan diundang untuk kualifikasi di Kupang,” imnbuhnya.

Selanjutnya, Hadmen dinformasikan oleh Samsul Rizal via ponsel bahwa ada undangan pembuktian kualifikasi. Dan tidak lama kemudian, Linda juga memberitahu melalui ponsel bahwa ada undangan pembuktian kualifikasi. Linda juga memberi tahu bahwa untuk tiket keberangkatan sudah diberikan kepada Samsul Rizal.

Di Kupang, Hadmen mengaku menginap di Hotel On The Rock. Dan segala sesuatunya disiapkan oleh Linda.

Marthen Dillak juga mengaku, telah melaporkan kasus dugaan pemalsuan tanda tangan kliennya pada 11 dokumen terkait proyek NTT Fair. Dokumen-dokumen tersebut meliputi Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK), Jaminan Pelaksanaan, Jaminan Uang Muka, Garansi Bank, Jaminan Pemeliharaan, Pencairan Uang Muka, Pencairan Termin I, Pencairan Termin II, Pencairan Termin III, pencairan Rp 1,7 miliar tanpa cek, dan direktur belum pernah memberikan faktur pajak setiap pencairan.

Kasus dugaan pemalsuan dokumen ini dilaporkan Simson Lasi di SPKT Polda NTT Nomor: LP/B/214/VI/RES.19/2019/SPKT pada tanggal 19 Juni 2019, dengan terlapor Linda Liudianto. Laporan ini diterima Banum I SPKT Brigpol Joao Vrengqi Talan. (joo/sam)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!