Kejati Lidik Penyeludupan Harley Davidson – Timor Express

Timor Express

HUKUM

Kejati Lidik Penyeludupan Harley Davidson

Tanpa Bea Masuk dan Pajak 

KUPANG, TIMEX – Bidang Pidsus Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTT tengah mendalami penyelidikan perkara dugaan korupsi terkait penyeludupan sepeda motor Harley Davidson dari Singapura ke Indonesia, melalui Timor Leste.

Dugaan korupsi dalam perkara ini karena pengiriman motor gede tersebut dilakukan tanpa pembayaran bea masuk dan pajak, sehingga merugikan negara.

Dalam penanganan perkara ini, tim penyelidik telah memeriksa sejumlah saksi dari beberapa instansi terkait, termasuk Kantor Bea Cukai Atambua.

Pemeriksaan saksi dalam seminggu terakhir intensif dilakukan penyelidik Kejati.

Belum lama ini, penyelidik memeriksa dua saksi dari Kantor Bea Cukai Atambua. Kedua saksi, Dedy Husni dan Maezun Najib, didampingi Kepala Kantor Bea Cukai Atambua Tribuana Wetangtera.

Kasi Penkum Kejati NTT Abdul Hakim yang dikonfirmasi Timor Express, kemarin (17/7), membenarkan.

“Masih penyelidikan jadi belum bisa disampaikan lebih jauh. Nanti kalau sudah saat nya pasti akan disampaikan,” singkat Abdul Hakim.

Diberitakan sebelumnya, Pengadilan Negeri (PN) Atambua menggelar sidang perkara kasus bea cukai terkait dugaan penyeludupan motor Harley Davidson (HD) di perlintasan perbatasan Indonesia-Timor Leste, sejak Senin (29/4).

Sidang beragenda pemeriksaan terdakwa yang dipimpin hakim AA Gede Susila Putra, SH.,M.Hum., tersebut berlangsung dari pukul 10.00-11.30.

Terdakwa Paulus Tanmenu (42), selalu sopir menjalani pemeriksaan kasus bea cukai sebagaimana Pasal 102 huruf D Undang-Undang Nomor 17 tahun 2006 tentang Kepabeanan.

Terdakwa dalam keterangan di persidangan, mengaku pada tanggal 19 September 2017, dirinya melakukan pengiriman barang dari Atambua ke Timor Leste berupa semen sebanyak 600 sak menggunakan 1 unit truck tronton warna hijau Nopol W-8709-XH dengan tujuan Toko Lucky Star di daerah Audian, Timor Leste.

Setelah sampai di Toko Lucky Star, barang dibongkar pada tanggal 20 September 2017.

Selanjutnya pada tanggal 21 September 2017, Frans Valdano alias Asun menelpon terdakwa Paulus mengatakan untuk bertemu orang di Toko Lucky Star daerah Audian-Timor Leste.

“Sesampainya di Toko Lucky Star, saya bertemu dengan 3 orang, yaitu 2 orang Timor Leste dan 1 orang Cina. Namun saya tidak tahu namanya. Selanjutnya pada saat bertemu mereka menanyakan kepada saya bahwa ini mobilnya pak Asun ya, lalu saya menjawab ya, kemudian mereka mengatakan bahwa mereka sudah menelpon pak Asun untuk muat barang mereka dari Dilli ke Atapupu,” urai terdakwa.

“Lalu sekitar pukul 11 siang saya bersama dengan mereka bertiga ke Aimutin untuk mengambil barang tersebut,” lanjut dia.

Setelah barang selesai diangkut, lanjut terdakwa, tidak ada dokumen yang diserahkan kepadanya.

Kemudian terdakwa mengaku menelepon Asun menanyakan mengenai dokumen perlintasan barang-barang tersebut.

“Lalu dijawab oleh Asun bahwa bawa saja barang-barang tersebut ke perbatasan karena sudah ada yang menunggu di perbatasan untuk mengurus dokumen dokumen perlintasan,” ungkap terdakwa.

Paulus Tanmenu melanjutkan, tanggal 21 September 2017 dia menuju ke Batu Gede.

Terdakwa bermalam di Batu Gede karena dokumen belum selesai. Hingga tanggal 22 September 2017 dokumen belum selesai sehingga dirinya masih bermalam di Batu Gede.

Selanjutnya, tanggal 23 September 2017, dokumen perlintasan selesai. Paspor terdakwa diminta dan dibawa oleh pengurus untuk mengurus perlintasan di Timor Leste dan di Motaain.

“Apabila ditanya petugas, saya disuruh menjawab isinya alat lisrik dengan tujuan Oecusse,” ungkap terdakwa.

Selama di pos perlintasan, terdakwa mengaku tidak turun dari truk karena sudah ada yang mengurus dokumen. Mobil langsung ditempel segel lalu berangkat. Dia tidak menandatangani dokumen apapun.

Setelah keluar dari PLBN Motaain, tronton menuju kolam susuk, gudangnya Asun. Sesampainya di gudang, terdakwa bersama-sama Soleman membuka segel. Kemudian mobil menuju ke Atapupu. Sesampai di Atapupu, barang dibongkar di belakang kantor Bea Cukai.

Sementara, JPU Danie, SH., mengatakan, terkait kasus ini, berdasarkan sidang selama ini, perbuatan terdakwa membuka segel di luar wilayah pabean sudah terbukti.

“Barang ini dalam dokumen perlintasan adalah barang transit. Seharusnya truk melintas sampai Winie dan segel dibuka oleh petugas bea cukai di Winie. Tetapi faktanya segel dibuka sendiri sebelum mencapai Winie tanpa pengawasan petugas bea cukai,” ungkap JPU.

Sekadar tahu, barang bukti dalam perkara ini adalah mobil tronton warna hijau dengan nomor polisi W-8709-XH, satu buah peti kemas 40” nomor DLCU4104775, 25 koli kotak kayu berisi spare part Harley Davidson, dan dokumen perlintasan. (joo)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!