Polda Tahan Empat Tersangka – Timor Express

Timor Express

KUPANG METRO

Polda Tahan Empat Tersangka

BARANG BUKTI. Kasubdit Renakta Ditreskrimum Polda NTT AKP Tatang P. Panjaitan menunjukkan barang bukti saat konferensi pers di Mapolda NTT, Kamis (25/7)

ROBERTO HAYONG FOR TIMEX

Human Trafficking 

KUPANG, TIMEX – Polda NTT melalui Subdit IV Renakta Ditreskrimum kembali mengungkap kasus dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) atau human trafficking.

Dalam pengungkapan kasus ini, polisi berhasil mengamankan dan menahan empat orang tersangka.

Namun untuk kepentingan pengembangan penyidikan, polisi masih merahasiakan indentitas para pelaku.

Keempat pelaku tersebut masing-masing berinisial FM, YNT, AL dan DKW.

Mereka diringkus atas dugaan melakukan pemalsuan dokumen dari sembilan orang korban calon tenaga kerja wanita (TKW) asal Kabupaten Sumba Timur.

Kasubdit Renakta AKP Tatang P. Panjaitan saat konferensi pers di Mapolda NTT, Kamis (25/7), mengatakan, pelaku utama dari kasus tersebut adalah seorang wanita berinisial FM.

FM adalah koordinator perekrutan lapangan yang dibayar PT Bukit Maya Asri (BMA) senilai Rp 8 juta per orang.

FM lalu merekrut 3 orang untuk membantu memperlancar proses perekrutannya, dengan memberikan upah per orang senilai Rp 5 juta.

Menurut AKP Tatang, kempat tersangka diamankan setelah dilakukan pengembangan atas kasus yang sebelumnya diungkap Polres Kupang Kota, atas laporan dua korban, yakni Labse Dorita Meha dan Orvi Tatu Ridja, yang mengaku tahun kelahiran mereka diubah.

Total calon TKW yang diamankan saat itu sebanyak 29 orang, namun sesuai dengan aturan untuk mempekerjakan seseorang minimal berusia 21 tahun.

Saat diperiksa kelengkapan, ada sembilan orang yang dokumennya dipalsukan.

“Tahun lahirnya diubah, dari semula 19 tahun dan 20 tahun menjadi 21 tahun dan seterusnya. Perusahaan perekrut adalah perusahaan resmi. Namun sayangnya keempat orang ini karena ingin mendapatkan uang, justru memalsukan tahun kelahiran korban di Dispendukcapil Sumba Timur,” ujarnya.

Proses pemalsuan dokumen tersebut menurut AKP Tatang, dilakukan oleh keempat perekrut lapangan secara bersama-sama dengan melibatkan seorang oknum operator Dispendukcapil Kabupaten Sumba Timur yang bertugas menginput daya para korban.

“Dari pengakuan mereka bahwa anak-anak ini direkrut lalu dimintai ijazah aslinya, kemudian difotocopy lalu mereka menghapus tahun lahir para korban dan ditulis tambah dengan bolpoin kemudian difotocopy lagi,” beber AKP Tatang.

Ditambahkan, peranan operator hanya menerima berkas lalu melakukan input sesuai dengan data korban yang sudah dirubah lalu menerbitkan Akta Kelahiran.

Dari Akta Kelahiran itu diproses lagi kartu tanda kependudukan (KTP) serta Kartu Keluarga (KK).

“Oknum operator Dispenduk itu diberikan imbalan uang sebesar Rp 100 ribu untuk mengurus dan mengganti tahun lahir para korban. Namun NIK tetap. Hanya dirubah tahun lahir saja,” tandasnya.

Terkait keterlibatan operator ini, polisi masih perlu melakukan pendalaman lagi terkait dengan keterlibatannya.

“Untuk saat ini operator masih berstatus sebagai saksi dan kami masih meminta petunjuk jaksa,” sebut Tatang.

Dia menambahkan saat ini, sembilan korban calon tenaga kerja itu sudah dikembalikan kepada orangtua mereka, sementara empat tersangka itu ditahan di Mapolda NTT untuk diperiksa tambahan.

Keempatnya dikenai Pasal 4, Pasal 10, Pasal 19 Undang-undang (UU) Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan TPPO, dengan ancaman hukuman paling singkat 3 tahun dan paling lama 15 tahun penjara. (mg29/joo)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!