Teknik Mesin Undana Ciptakan Alat Pengering Kelor – Timor Express

Timor Express

KUPANG METRO

Teknik Mesin Undana Ciptakan Alat Pengering Kelor

PAMERKAN. Tim Teknik Mesin Undana menunjukkan alat pengering daun kelor dan kursi roda untuk anak-anak yang berbahan dasar plastik yang dipajang di Laboratorium Teknik Mesin Undana, Sabtu (20/7).

FENTI ANIN/TIMEX

Kursi Roda Berbahan Dasar Plastik 

KUPANG, TIMEX – Menindaklanjuti program Gubernur Nusa Tenggara Timur untuk memanfaatkan potensi alam NTT salah satunya adalah daun kelor untuk dikembangkan menjadi barang bernilai jual,  maka Jurusan Teknik Mesin Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang membuat alat pengering daun kelor.

Pendamping sekaligus Kepala Laboratorium Teknik Mesin Undana, Ben Vasco Tarigan, bersama-sama dengan mahasiswa Teknik Mesin Undana semester VI, Hendra Manafe, Wiliam Siagian, Andi Toga,  Anderias Mere, Wiwi Tualaka dan Iwi Koebanu, merupakan tim pembuat alat pengering kelor ini.

Tim ini melihat bahwa program Gubernur NTT untuk pemanfaatan daun kelor agar bernilai ekonomi ini harus ditindakpanjuti,  salah satunya adalah dengan menyiapkan alat pengering daun kelor.

Pasalnya alat pengering ini sampai sekarang masih dibeli dari luar NTT.

Tentunya akan menyulitkan masyarakat yang ingin mengembangkan bisnis ini, ketersediaan alat menjadi faktor penting dalam penerapan program gubernur ini.

Melihat hal ini, tim dari Teknik Mesin Undana membuat sebuah mesin pengering kelor dengan alat dan bahan sederhana dan mampu mengeringkan kelor dalam waktu singkat.

Ketua Program Studi Teknik Mesin Undana, Dr. Jefri S.Bale, ST., M.Eng, saat diwawancarai koran ini, Sabtu (20/7), mengatakan,

alat pengering tentu dibuat untuk mendukung program prioritas gubernur dalam pengembangan daun kelor di NTT, karena memang potensi yang dimiliki luar biasa.

“Tentu untuk meningkatkan nilai teknologi dan ekonomis dari daun kelor, perlu ada sentuhan teknologi. Oleh karena itu, kami merasa penting untuk  terlibat dalam kapasitas kami sebagai akademisi,” katanya.

Dia menjelaskan, alat pengering ini dibuat sesuai dengan masukan dan hasil diskusi dengan Pemerintah Provinsi NTT dan masyarakat selaku petani.

Alat ini berfungsi sebagai purwarupa untuk terus dilakukan riset yang berkesinambungan dalam mendukung pengembangan daun kelor di NTT.

Ke depan tentu diharapkan komunikasi antara akademisi,  pemerintah dan masyarakat bisa diterus dibangun, sehingga semakin banyak penerapan teknologi tepat guna yang bisa dihasilkan khususnya di bidang prioritas pengembangan di Provinsi  NTT.

Sementara itu, pemdamping sekaligus Kepala Laboratorium Teknik Mesin Undana, Ben Vasco Tarigan, mengatakan, alat ini sudah diuji coba selama lima kali dengan kapasitas yang berbeda.  Pertama dicoba 10 kilogram kering dalam waktu 17 jam.

“Kami sudah uji coba maksimal 40 kilogram kelor yang kering dalam waktu 2 hari. Alat ini dibuat selama tiga minggu,  materialnya menggunakan almanium, sementara untuk pemanasnya menggunakan lampu pijar dengan kapasitas 150 watt dan lampu kapasitas 15 watt, sehingga total pemakaian daya mencapai 900 watt,” jelasnya.

Dia melanjutkan, jika alat ini menggunakan sumber panas dari api, maka tentunya panas yang dihasilkan tidak akan merata,  maka dipilihlah lampu pijar ini.

“Kami melihat alat pengering kelor yang dipesan dari luar,  tentunya jika ada kerusakan maka akan susah diperbaiki. Maka kami berupaya agar alat dan semua teknologi ada di NTT agar akses dan alatnya mudah didapat,” ujarnya.

Dia berharap, dengan adanya alat ini, akan terus terjalin kerja sama yang baik antara Undana dan pemerintah, sehingga hal-hal yang berkaitan dengan teknologi tepat guna itu dapat diterapkan secara baik.

“Kami melibatkan mahasiswa, karena kami ingin agar anak-anak NTT atau jebolan Undana bisa berguna di masyarakat, dan bisa mengembangkan teknologi tepat guna ini secara baik,” terangnya.

Selain membuat alat pengering kelor, tim Teknik Mesin Undana juga membuat kursi roda untuk anak-anak dengan menggunakan bahan dasar plastik, yaitu paralone.

Tim pembuatan kursi roda terdiri dari Joni Taopamz Ino Hale dan Hadi Susanto. Mahasiswa semester VI Teknik Mesin Undana ini membuat kursi roda bagi anak-anak disabilitas dengan bahan plastic. Tujuannya agar mudah didapat dengan harga lebih murah.

Joni Taopan menjelaskan, kursi roda ini sudah diuji coba di panti asuhan disabilitas di Kota Kupang. Tujuannya agar kursi roda ini dapat dimanfaatkan secara baik dan juga sesuai dengan kebutuhan.

“Kursi roda ini bisa untuk anak dengan bobot 90 kilogram, namun idealnya untuk 50 kilogram. Kami melihat bahwa kursi roda untuk anak-anak sudah didapatkan, juga masih dijual dengan harga yang mahal. Maka kami mencoba menjawab kebutuhan masyarakat dengan membuat kursi roda ini,” ujarnya.

Dia mengaku, kursi roda ini juga mudah dibawa ke mana-mana,  karena dapat dibongkar dan dipasang kembali. (mg25/joo)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!