Cukup 15 Menit, Panggung Megah Sudah Bisa Dipakai – Timor Express

Timor Express

RAGAM

Cukup 15 Menit, Panggung Megah Sudah Bisa Dipakai

KREATIF. Kreativitas Hery Budiyanto Saat memperlihatkan hasil karyanya.

Badar/Radar Malang

Kreativitas Hery Budiyanto, Dosen Arsitektur Unmer yang Hasilkan Karya Berbasis Pneumatic

Kesibukannya sebagai dosen tidak menghentikan hobi Hery Budiyanto, 61, dalam berkarya. Dari berbagai penelitian yang dilakukan, dia telah membuat sejumlah alat unik berbasis sistem pneumatic. Mulai dari tenda kesehatan hingga atap panggung megah yang pasokan listriknya dihasilkan dari solar cell.

MOH BADAR RISQULLAH, Malang

Rumah bercat putih di Jalan Gondosuli No.4, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, itu tampak sepi dan jauh dari ingar-bingar keramaian jalan raya. Dari luar rumah, terlihat seorang laki-laki parobaya tengah sibuk dengan laptopnya. Hery Budiyanto, sang empunya rumah, tengah membaca ulang baris abstrak penelitiannya, sambil sesekali melihat foto desain hasil karyanya. “Silakan masuk. Ini sedang membaca dan melihat foto-foto karya atap panggung yang saya buat kemarin,” ujar Hery.

Dia menyatakan, saat ini dirinya memang tengah fokus mengembangkan karyanya dari hasil penelitian bersama dua koleganya, Aris Boedi Setyawan dan Erna Winansih, itu. Karya tersebut diberi nama “Atap Panggung Inflatable Energi Mandiri”. Memiliki panjang 7 meter dan lebar 6 meter, panggung ini terlihat unik dan megah, tak kalah dengan panggung konvensional. “Panggung tiup ini struktur utamanya terbuat dari bahan kain terpaulin PVC. Dan penutup kain parasit yang dapat berdiri megah hanya dengan kekuatan tekanan udara (pneumatic) ke dalam struktur utama,” ujarnya menjelaskan salah satu hasil kreasinya itu. “Dan untuk energi listrik yang diperlukan untuk blower, lampu dan sound system serta lain-lainnya dihasilkan dengan bantuan tenaga matahari (solar energy),” imbuhnya.

Dari hasil penelitian yang diwujudkan dengan membuat karya panggung itulah, Hery bersama teman-temannya berhasil meraih dana hibah dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Republik Indonesia dalam kategori Penelitian Terapan Unggulan Perguruan Tinggi (PTUPT). Saat ini dirinya juga sedang mengajukan untuk dijadikan hak paten.

“Ya agar segera jadi hak paten kami dan tidak ada yang menirunya. Sekaligus kami juga sedang mempersiapkan agar bisa masuk jurnal internasional,” terang suami Retno Hastuti itu. Setelah memperlihatkan hasil karya terbarunya, Hery lantas menceritakan dirinya sudah melakukan penelitian dan membuat karya sejak kali pertama menjadi dosen sekitar tahun 1988. Dalam membuat karya dia fokus dengan karya yang dalam penggunaannya cukup ditiup saja.

“Dulu awal-awal saya buat tenda darurat yang bisa digunakan di tempat yang tertimpa bencana. Kemudian juga pernah membuat pos kesehatan darurat. Terakhir ya ini (Atap Panggung Inflatable Energi Mandiri, Red),” ujar dosen Fakultas Arsitektur Unmer Malang itu.

Hery menjelaskan, dirinya fokus meneliti dan membuat karya yang memang punya nilai lebih saat digunakan di lokasi yang sulit dijangkau. Seperti tenda darurat hasil rancangannya yang jauh lebih praktis dibandingkan tenda konvensional atau tenda portabel yang menggunakan sistem knockdown sekalipun. “Selama ini, saat memasang dan mendirikan tenda kan masih terbilang sulit. Harus butuh ini dan itu. Makanya, saya coba membuat sesimpel mungkin dan mudah digunakan,” kata Hery kepada Jawa Pos Radar Malang. Dia mencontohkan tenda darurat, penggunaannya cukup dengan cara ditiup dengan pompa saja. Dan semua orang bisa melakukannya. “Paling tidak, 5 menit sudah bisa berdiri tendanya,” ujar laki-laki kelahiran tahun 1958 itu.

Cara kerja praktis dan hanya butuh waktu singkat juga diciptakan saat membuat pos kesehatan. “Yang pos kesehatan bisa menampung hingga 10 pasien. Dan tentu, kebersihannya juga terjaga,” tutur laki-laki yang juga hobi membuat berbagai kreasi berbahan kayu itu.

Tentang karya Atap Panggung Inflatable Energi Mandiri, dia menjelaskan struktur utamanya dari bahan kain terpaulin PVC dan kain parasit sebagai penutupnya. “Meski hanya menggunakan bahan itu, ketika berdiri kemegahannya tidak kalah dengan atap panggung yang biasanya. Tentu alat ini juga cukup awet, bisa tahan 5 tahunan,” terang bapak tiga anak itu.

Untuk penggunaannya pun sama. Hanya dengan kekuatan tekanan udara (pneumatic) ke dalam struktur utama. Dalam waktu 15 menit saja, atap panggung sudah selesai dibuat dan berdiri. “Kira-kira ya cuma butuh dua orang saja sudah melakukan itu,” ucapnya.
Dia menambahkan, dari beberapa karyanya itu juga dirinya menjamin tidak akan roboh. Meskipun roboh, tentunya tidak akan membahayakan pemakainya. “Sudah saya coba kemarin di Skodam. Enak ini. Kuat meski diterjang angin,” tuturnya.

Istimewanya lagi, kebutuhan listrik untuk mendukung panggung tersebut bersumber dari solar panel. “Dan solar panel itu dilengkapi dengan solar tracker untuk mengikuti pergerakan matahari dan mengambil energi sinarnya,” katanya.

Dalam proses konversi tenaga listrik dari sinar matahari itu disimpan dalam power bank yang mampu menghasilkan daya hingga 1.000 watt per jam. Sehingga, dalam sekali acara, misalnya membutuhkan listrik hingga 100 watt per jamnya, maka listrik di powerbank bisa memenuhi kebutuhan hingga 10 jam. “Kalau (kebutuhan listrik, Red) 200 watt, ya bisa tahan 5 jam saja, tergantung kebutuhannya seperti apa,” terangnya.

Sementara, untuk panggung portabel yang dijadikan alas, Hery menggunakan bahan dasar berupa multiplex sebanyak 30 kotak yang masing-masing berukuran 120x120x60 cm. Dengan mempertimbangkan kepraktisan, pemanasangan panggung juga bisa dilakukan dalam waktu singkat. “Dengan begitu, total waktu yang diperlukan untuk merangkai panggung sekitar 2 jam. Sedangkan untuk atap panggung cukup 15 menit saja sudah selesai,” imbuhnya.

Selain itu, dengan adanya alat tersebut dirinya berharap dapat dikembangkan oleh industri hiburan. Dalam hal ini khususnya untuk menjangkau wilayah yang masih minim listrik. Karena, menurut dia, selama ini untuk mendirikan panggung di pedalaman misalnya, masih ribet. “Apalagi di kawasan terpencil yang masih minim listrik. Semoga alat ini bisa bermanfaat,” katanya.

Bak gayung bersambut, alat kreasinya itu pun sudah mulai banyak pesanan dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur. “Katanya mau pinjam untuk menggelar acara panggung gembira di wilayah pegunungan,” pungkasnya. (*/c1/nay/jpg/sam)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!