Biaya Pendidikan Picu Inflasi di NTT – Timor Express

Timor Express

EKONOMI

Biaya Pendidikan Picu Inflasi di NTT

BERTEMU GUBERNUR. Kepala BPS Provinsi NTT, Maritje Pattiwaellapia memberikan penjelasan kepada Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat seputar perkembangan inflasi, persentase kemiskinan, rencana pelaksanaan sensus penduduk 2020 dan lain sebagainya saat beraudiens dengan Gubernur, Jumat (26/7) lalu.

TOMMY AQUINODA/TIMEX

Juli 2019, Inflasi 0,21 Persen

KUPANG, TIMEX – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTT, Kamis (1/8) kembali merilis Indeks Harga Konsumen (IHK) selama bulan Juli 2019. Pada periode ini, kota-kota di NTT mengalami inflasi sebesar 0,21 persen dengan IHK sebesar 135,00. Kota Kupang mengalami inflasi sebesar 0,26 persen sedangkan Kota Maumere mengalami deflasi sebesar 0,19 persen.

Kepala BPS NTT, Maritje Pattiwaellapia, mengatakan, meski mengalami inflasi 0,21 persen, namun inflasi Juli 2019 di NTT lebih rendah dibandingkan nasional sebesar 0,31 persen dan relatif masih terkendali. Inflasi di NTT terjadi karena adanya kenaikan indeks harga pada enam kelompok pengeluaran.

Kelompok pengeluaran yang paling tinggi menyumbang inflasi adalah kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 1,85 persen. Hal ini dikarenakan pada triwulan II atau Juli merupakan momen masuk tahun ajaran baru. Akibatnya, beberapa komponen pengeluaran untuk sekolah mengalami kenaikan, misalnya uang sekolah, buku pelajaran, alat tulis menulis, bimbingan belajar, dan lain sebagainya.

“Seperti kita ketahui, pada pertengahan Juli kemarin adalah momen berakhirnya libur sekolah dan masuk tahun ajaran baru. Jadi pasti orangtua mengeluarkan banyak biaya untuk memenuhi kebutuhan sekolah anak-anaknya,” jelas Maritje dalam jumpa pers yang juga dihadiri Deputi Kepala Perwakilan BI NTT, Muhammad Syahrial dan Kepala Badan Kesbangpol Linmas Provinsi NTT, Yohana Lisapaly.

Selain pendidikan, Maritje menyebutkan, inflasi di bulan Juli 2019 juga dipengaruhi oleh kenaikan indeks harga pada lima kelompok pengeluaran lainnya. Yakni, kelompok sandang sebesar 0,31 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,21 persen, kelompok transpor komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,20 persen dan kelompok makanan jadi sebesar 0,06 persen. Sedangkan kelompok perumahan mengalami penurunan indeks harga sebesar 0,01 persen.

“Terjadinya inflasi atau deflasi disebabkan karena beberapa hal, seperti musim, ketersediaan pangan serta kebijakan pemerintah. Pada periode ini, angka inflasi di NTT masih terkendali. Kita berharap angka inflasi kita tetap terjaga, sehingga perlu dijaga soal ketersediaan pangan, dan lain sebagainya,” kata Maritje.

Secara nasional, pada Juli 2019, dari 82 kota sampel IHK, 55 kota mengalami inflasi dan 27 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Sibolga sebesar 1,88 persen dan terendah terjadi di Kota Makassar dengan inflasi sebesar 0,01 persen. Sedangkan Deflasi terbesar terjadi di Kota Tual sebesar 1,55 persen dan terendah terjadi di Kota Gorontalo sebesar 0,02 persen.

Nilai Tukar Petani Naik 0,47 Persen

Selain merilis IHK, BPS NTT juga merilis Nilai Tukar Petani (NTP) bulan Juli 2019. Penghitungan NTP ini mencakup lima subsektor, yaitu subsektor padi dan palawija, hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, peternakan dan perikanan.

Pada bulan Juli 2019, NTP NTT sebesar 106,42 dengan NTP masing-masing subsektor tercatat sebesar 105,54 untuk subsektor tanaman padi-palawija (NTP-P); 102,81 untuk sub sektor hortikultura (NTP-H); 107,49 untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTP-TPR); 108,92 untuk subsector peternakan (NTP-Pt) dan 107,85 untuk subsektor perikanan (NTP-Pi).

Terjadi peningkatan sebesar 0,47 persen pada NTP Juli 2019 jika dibandingkan dengan NTP Juni 2019. Dapat disimpulkan bahwa tingkat kemampuan/daya beli dan daya tukar (term of trade) petani di pedesaan meningkat dibanding bulan sebelumnya. Hal ini disebabkan adanya peningkatan harga jual hasil pertanian sedangkan harga konsumsi rumah tangga dan biaya produksi tidak mengalami perubahan yang signifikan.

Di daerah perdesaan tidak terjadi perubahan harga komoditi konsumsi rumah tangga sehingga tidak terjadi pergolakan harga (inflasi maupun deflasi). (tom)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!