Tantangan dan Peluang Sumber Daya Manusia Masyarakat Jasa Konstruksi NTT – Timor Express

Timor Express

OPINI

Tantangan dan Peluang Sumber Daya Manusia Masyarakat Jasa Konstruksi NTT

Oleh: Dr. Ir. Andre W Koreh , MT **)

Presiden Joko Widodo telah menyampaikan  Visi Indonesia lima tahun ke depan  pada tanggal 14 Juli 2019 di Sentul dan menetapkan 5 ( lima ) sasaran prioritas untuk program kerjanya antara lain:

  • Meneruskan Pembangunan infrastruktur dengan membangun konektivitas antar kawasan produksi rakyat dengan industri kecil,kawasan ekonomi khusus,pariwisata,persawahan , perkebunan dan tambak perikanan.
  • Mendorong peningkatan kwalitas sumber daya manusia dengan aksentuasi pada kesehatan ibu hamil , bayi, balita,anak usia sekolah , pendidikan vokasi( ketrampilan ) dan lembaga manajeman talenta .
  • Memberi peluang investasi untuk membuka lapangan pekerjaan dengan mempercepat proses perijinan dan menghilangkan berbagai hambatan investasi .
  • Melakukan reformasi birokrasi secara struktural untuk menciptakan birokrasi yang sederhana , simpel , lincah dan cepat , dengan perubahan mindset birokrat agar berperilaku adaptif, produktif, inovatif dan kompetitif serta melakukan monitoring dan evaluasi .
  • Menggunakan anggaran negara yang fokus dan tepat sasaran untuk memberi manfaat maksimal kepada masyarakat baik manfaat ekonomi maupun sosial serta peningkatan kesejahteraan rakyat.

Pembangunan  infrastruktur  dan pengembangan sumber daya manusia menjadi prioritas utama Presiden Joko Widodo pada periode kedua pemerintahannya.

Hal ini merupakan PELUANG bagi masyarakat jasa konstruksi tanah air. Tetapi sekaligus juga sebagai TANTANGAN mengingat standar kinerja yang diinginkan masyarakat  semakin tinggi . Disisi lain ANCAMAN  persaingan global di bidang jasa kontruksi menjadi persoalan  tersendiri bagi pengusaha jasa konstruksi nasional. Hal tersebut wajar terjadi karena besarnya pasar konstruksi Indonesia mencapai 67% terhadap pasar konstruksi ASEAN.

Menteri PUPR Basuki Hadimulyono dalam siaran pers nya pada Kamis 21 Februari 2019 mengatakan : ” kita memasuki era kompetensi. Dalam era kompetensi yang sangat terbuka ini, bukan proteksi yang dikedepankan , tapi kompetensi khususnya dibidang  jasa konstruksi . Untuk memenangkan kompetensi global , kita harus lebih cepat, lebih murah dan lebih baik.”

Industri jasa konstruksi dalam negeri masih diliputi sejumlah masalah serius antara lain pasar konstruksi domestik masih didominasi oleh badan usaha kwalifikasi besar yang jumlahnya hanya 1 % dari seluruh badan usaha jasa konstruksi yang jumlahnya -/+ 130.000 badan usaha. Sementara Badan Usaha Jasa Konstruksi ( BUJK ) di Indonesia saat ini masih didominasi BUJK Umum ( 88%) dibanding BUJK Spesialis  (12%). Padahal kecenderungan di negara negara maju jenis BUJK didominasi BUJK Spesialis. Sementara pengusaha jasa konstruksi asing yang datang ke Indonesia pun mengalami peningkatan dimana pertumbuhan jasa konstruksi asing meningkat dari 185 perusahan pada tahun 2010 ,menjadi 295 pada 2014 atau meningkat 50% pada 5 tahun terakhir. ( keterangan pers Kementrian PUPR , Bisnis.com , 19 April 2019 ) .

Bagaimana dengan peluang dan tantangan jasa konstruksi di daerah,  khususnya di NTT ?

Visi Pemerintah Provinsi NTT saat ini yaitu ” NTT bangkit menuju masyarakat sejahtera dalam bingkai NKRI ” mengemban 5 misi dimana 2 ( dua ) diantaranya yaitu : “meningkatkan ketersediaan dan kwalitas infrastruktur untuk mempercepat pembangunan inklusif , berkelanjutan dan berbasis sumber daya lokal”  ( misi ketiga ) dan ” meningkatkan kwalitas sumber daya manusia” (misi ke empat) .

Kedua misi ini memberi peluang sekaligus tantangan bagi pelaku jasa konstruksi di NTT.

Hadirnya Perda Provinsi NTT No 15 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan, Pembinaan Jasa Konstruksi  memberi ruang kepastian hukum bagi pelaku jasa konstruksi di NTT .

Tersedianya anggaran jasa konstruksi  di NTT(data LPSE NTT 2019) , baik APBN maupun APBD I dan APBD II tahun 2019 yang mencapai hampir Rp.5 T lebih dengan jumlah paket pekerjaan kualifikasi kecil K  ( <10 M ): 1.796 paket; kualifikasi Menengah M ( 10 M s/d  100 M ) : 115 paket , total 1.911 Paket ; adalah pasar yang cukup  menjanjikan bagi pelaku jasa konstruksi di NTT .

Beberapa peluang  pengembangan jasa konstruksi di NTT antara lain :  a). Adanya keinginan kuat Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah untuk membangun infrastruktur yang handal, b). Kehadiran UU No. 2/2017 tentang Jasa Konstruksi melindungi pelaku jasa konstruksi dari kriminalisasi , c).pasar jasa konstruksi yang semakin luas dengan anggaran yang semakin meningkat dari tahun ke tahun , d). Tersedianya tenaga kerja yang murah sebagai keunggulan komparatif tenaga kerja di NTT , e). Kehadiran Revolusi industri 4.0 untuk penggunaan teknologi informasi dalam proyek infrastruktur .

Disamping peluang, ada pula  tantangan maupun ancaman bagi dunia jasa konstruksi di NTT antara lain : a). Rendahnya kwalitas dan kwantitas sumber daya manusia di bidang jasa konstruksi , b). Terbukanya pasar jasa Konstruksi tanpa proteksi, sebagai konsekuensi dari kehadiran UU No. 5 tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat, serta  hadirnya MEA ( masyarakat ekonomi ASEAN ) yang dimulai sejak tahun 2015, c). Jumlah Badan Usaha Jasa Konstruksi yang masih didominasi oleh penyedia jasa kecil dan menengah, d). Pangsa pasar jasa konstruksi domestik lebih banyak dengan kwalifikasi  menengah dan besar, e). Proses pengadaan barang dan jasa yang subjektif, e). Masih maraknya fenomena pinjam ” bendera” sehingga tidak mencerminkan profesionalisme perusahan  yang sesungguhnya dalam pengerjaan proyek konstruksi.

SUMBER DAYA MANUSIA DALAM JASA KONSTRUKSI 

Untuk membangun infrastruktur yang demikian besar dan berkualitas tidak akan mungkin terlaksana tanpa dukungan sumber daya manusia yang berkualitas . Hal ini ditegaskan kembali oleh Presiden RI Joko Widodo pada awal September 2018 lalu bahwa keberhasilan dalam penyelenggaraan Negara ditentukan oleh keberhasilan dalam membangun manusia Indonesia yang berkualitas.  “Pondasi-pondasi untuk meningkatkan daya saing bangsa itu kuncinya ada di SDM. Kita ini punya kekuatan terpendam tapi belum dibangkitkan. Jangan dipikir anak bangsa kita kalah dengan bangsa lain, contohnya saja prestasi atlet-atlet Indonesia di Asian Games 2018 yang jauh melampaui target yang diberikan, yaitu menduduki peringkat empat dalam perolehan medali”, ujar Presiden RI.

Sampai tahun 2018 Indonesia memiliki sekitar 8,14 juta tenaga kerja konstruksi , dan baru 5,96% nya yang bersertifikat atau sekitar 485.534 orang. Dengan komposisi latar belakang tingkat pendidikan dibawah pendidikan SMA sebanyak 5,98 Juta dan diatas pendidikan SMA sebanyak 2,15 Juta. Jumlah Sertifikat yang sudah dikeluarkan yaitu sebanyak 767.179 sertifikat dengan komposisi kualifikasi sertifikat tenaga kerja terampil sebanyak 525.857 dan sertifikat tenaga ahli sebanyak 241.322. Sedangkan dilihat dari jumlah tenaga kerjanya yang sudah tersertifikasi sebanyak 485.534 orang dengan komposisi tenaga terampil sebanyak 333.706 orang dan tenaga ahli sebanyak 151.828 orang.

“Tentunya jumlah ini belum memadai untuk dapat mendukung Pembangunan Infrastruktur yang terus meningkat dari tahun ke tahun, perlu upaya percepatan sertifikasi tenaga kerja konstruksi. Sebab untuk menghasilkan SDM konstruksi berkualitas, tiada cara lain kecuali melalui proses sertifikasi kompetensi, sesuai Undang-Undang Jasa Konstruksi Nomor 2 Tahun 2017”, demikian disampaikan Dirjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR Syarif Burhanuddin saat menjadi narasumber pada Press Conference Konstruksi Indonesia 2018, Kamis (25/10/2018) di Jakarta.

Di NTT , BUJK ( Badan Usaha Jasa Konstruksi ) pada tahun 2019 tercatat di LPJKD NTT berjumlah 2629 dengan kwalifikasi kecil 89,7%  ( 2358 ), kwalifikasi menengah 10.08% ( 265 ), dan kwalifikasi besar 0.03% ( 6 ).  Sementara tenaga kerja konstruksi yang dibutuhkan untuk tahun 2019  -/+ 230.000 tenaga kerja. Namun yang bersertifikat baru mencapai -/+ 8400 tenaga kerja.

Jumlah ini sangat jauh dari mencukupi. Apalagi jika dikaitkan dengan tuntutan UU No. 2 tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi Pasal 70 ayat( 1) “Setiap tenaga kerja konstruksi yang bekerja di bidang Jasa Konstruksi wajib memiliki Sertifikat Kompetensi Kerja, (2) Setiap Pengguna Jasa dan/atau Penyedia Jasa wajib mempekerjakan tenaga kerja konstruksi yang memiliki Sertifikat Kompetensi Kerja sebagaimana dimaksud pada
ayat (1).”

Jumlah paket pekerjaan kwalifikasi kecil K dan M tahun 2019 ( tanpa kwalifikasi B )  baik APBN, APBD I dan II sebanyak 1911 paket,  sementara penyedia jasa berjumlah 2629 BUJK , artinya secara sederhana jika dibandingkan antara jumlah paket pekerjaan konstruksi dengan jumlah BUJK yang ada , maka minimal satu penyedia jasa wajib ” mengalahkan ” 2 atau paling tidak 3 penyedia jasa competitor.  Sesuatu yang terkesan sederhana secara kwantitas tapi sebenarnya juga tidak mudah secara kwalitas. Maksudnya jika satu penyedia jasa “mengalahkan”  2 atau 3 penyedia jasa lainnya , relatif mudah, misalnya dengan saling meminta dukungan atau ” berbagi dengan sesama” , tapi menjadi tidak mudah jika harus memperhatikan aspek kwalitas penawaran dan kemampuan menyelesaikan pekerjaan sesuai standar keteknikan yang disyaratkan.

Apalagi masih maraknya praktek ” monopoli” terselubung  dimana penyedia jasa tertentu selalu menjadi pemenang lelang untuk semua kwalifikasi pekerjaan karena menggunakan ” bendera ” lain,karena memanfaatkan subjektivitas pengguna jasa dengan  berbagai iming-iming, mengandalkan kedekatan dengan kekuasaan dan atau pengguna jasa, yang kesemuanya akan mempersempit ruang gerak penyedia jasa yang ”  hanya ” mengandalkan kemampuan membuat penawaran secara normatif dan tanpa iming-iming.

Bahkan ada penyedia jasa yang menjadi korban kontestasi politik dimana Penyedia Jasa yang tidak mendukung Kepala Daerah Terpilih , jika mengikuti pelelangan, sebagus apapun penawarannya selalu saja tidak mendapatkan pekerjaan dan menjadi pihak yang kalah lelang. Hal semacam ini kerap mendominasi pengambilan keputusan penetapan pemenang lelang.
Inilah tantangan yang sesungguhnya bagi tenaga kerja konstruksi di NTT dalam merebut pasar  jasa konstruksi di NTT.

Anggaran pembangunan  infrastruktur yang meningkat dari tahun ke tahun baik dari Pemerintah pusat maupun Pemerintah daerah , jika tidak diikuti dengan pembangunan sumber daya manusianya, baik  kwalitas maupun kwantitasnya , akan menimbulkan persoalan baru. Apalagi pasar jasa konstruksi yang besar dan terbuka karena  adanya MEA / AFTA , akan mendorong masuknya tenaga kerja konstruksi dari belahan bumi manapun termasuk tenaga kerja asing ( TKA ).

Selain itu , dampak revolusi industri 4.0 dimana penggunaan IT( informasi dan teknologi )  dalam dunia jasa konstruksi menjadi sebuah keharusan jika tidak ingin tertinggal dan kalah bersaing, sementara metode konvensional yang selama ini dijalani-pun, belum mampu kita capai secara optimal.

DAYA SAING , KOMPETENSI DAN SIKAP PROFESIONAL

Untuk mengatasi kesenjangan diatas ,membangun daya saing untuk merebut pasar jasa konstruksi menjadi hal penting jika ingin terus eksis dalam pembangunan jasa konstruksi.

Daya saing menjadi salah satu isu utama dalam pembangunan . Konsep daya saing pada umumnya dikaitkan dengan kemampuan suatu perusahaan, kota, daerah, wilayah atau negara dalam mempertahankan atau meningkatkan keunggulan kompetitif secara berkelanjuatan (Porter, 2000).

Institute for Management Development (IMD) World Competitiveness Yearbook (WCY) 2019 mencatatkan peringkat daya saing infrastruktur Indonesia masih berada di posisi 53. Pembangunan infrastruktur Indonesia masih belum bisa berpengaruh signifikan kepada aktivitas ekonomi Indonesia.

Padahal memiliki daya saing yang mumpuni adalah kunci keberhasilan di era globalisasi yang makin kompetitif. Daya saing sebagai individu maupun daya saing sebagai perusahan adalah cara untuk menunjukkan esksistensi . Pada gilirannya daya saing itu secara kolektif akan menampilkan daya saing sebagai bangsa dan negara untuk merebut pasar jasa konstruksi internasional.

Daya saing yang dimaksud disini bukan daya saing yang mengandalkan kedekatan dengan kekuasaan, intervensi ataupun proteksi, tapi daya saing yang memiliki kompetensi dan sikap profesional dari pelaku jasa konstruksi itu sendiri.

Seorang pelaku atau pekerja konstruksi dikatakan memiliki daya saing yang mumpuni jika dan hanya jika  memiliki kompetensi dan sikap profesional dalam menunjukkan eksistensinya.

Kompetensi  : adalah keterampilan, pengetahuan, sikap dasar serta nilai yang dicerminkan ke dalam kebiasaan berpikir dan bertindak yang sifatnya berkembang, dinamis, kontinyu (terus menerus) serta dapat diraih setiap waktu. Kebiasaan berpikir serta bertindak dengan konstan, konsisten dan dilakukan secara terus-menerus akan membuat seseorang menjadi kompeten.

Kompetensi  tidak hanya mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi melakukan apa yang diketahui.

Oleh karena itu, untuk meningkatkan jumlah tenaga kerja konstruksi berkompeten, tidak ada pilihan lain kecuali pelatihan yang dilakukan secara rutin, reguler dan berjenjang oleh pemerintah atau badan usaha serta disesuaikan dengan kebutuhan pasar jasa konstruksi di NTT.

Sikap profesional :  adalah sikap yang harus dimiliki seseorang dalam menjalankan pekerjaannya sesuai dengan keahlian atau kemampuan yang dimiliki dan harus melakukan sesuatu secara objektif. Dimana seseorang yang memiliki sikap profesional dapat memposisikan dirinya agar mampu memahami tugas dan tanggung jawab, hubungan dan relasi, serta fokus dan konsisten terhadap urusan pekerjaan. Sehingga pada saat ini sikap profesional menjadi hal yang cukup penting di dunia kerja karena akan berdampak positif bagi perusahaan dan bagi dirinya sendiri. Sehingga persaingan yang ketat dalam dunia kerja membuat sikap profesional menjadi sesuatu yang utama.

Berikut beberapa ciri penting dalam sikap profesional:

  1. Mempunyai ketrampilan dan pengetahuan khusus

Dalam dunia kerja, Anda harus mampu meningkatkan kualitas diri Anda dan berpegang teguh untuk melakukan pengembangan ketrampilan dan pengetahuan. Sehingga jika Anda mampu melakukan hal tersebut,  nantinya Anda akan memiliki kemampuan yang bagus untuk kepentingan pekerjaan Anda. Selain itu, Anda dapat bertahan didalam dunia kerja dan mampu menyukseskan karir Anda kedepannya.

  1. Mempunyai sikap dan sifat yang baik

Dunia kerja tidak hanya memerlukan seseorang yang memiliki pengetahuan dan pengembangan diri yang bagus akan tetapi lebih pada sikap dan sifat. Dimana sikap dan sifat yang kurang baik ini dapat mengakibatkan kehancuran karir seseorang. Sehingga Anda perlu memiliki sikap dan sifat yang baik seperti jujur, integritas, bertanggung jawab dan santun. Dimana sikap dan sifat tersebut akan membuat Anda menjadi sosok yang profesional.

  1. Mempunyai tujuan

Dalam dunia kerja tidak hanya perusahaan yang memiliki tujuan, akan tetapi pekerja juga memiliki tujuan dalam bekerja dan berusaha mencapai tujuannya. Dimana tujuan akan membuat Anda termotivasi sehingga dalam melakukan pekerjaan akan dapat Anda lakukan dengan sungguh-sungguh.

Jika Anda mempunyai kompetensi ,mampu membangun sikap profesional akan menjadikan Anda sebagai pribadi yang unggul dan mampu bersaing dalam merebut pasar jasa konstruksi yang makin terbuka . Dalam dunia kerja yang makin kompetitif hanya mereka yang berkepribadian unggul yang akan merebut pasar kerja , bukan saja pasar domestik tapi juga pasar internasional.

*).   Disampaikan dalam acara Seminar Regional INTAKINDO NTT,  3 Agustus 2019 

**). Pengamat dan pelaku jasa konstruksi, bekerja di Kantor Gubernur NTT. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!