Yakinkan Keluarga Bisa Hidup Mandiri – Timor Express

Timor Express

RAGAM

Yakinkan Keluarga Bisa Hidup Mandiri

HASIL KARYA. Sutarno (kiri) bersama karyawannya, Ari Wicaksono, memamerkan gaun-gaun hasil karya mereka. Ari merupakan tunadaksa yang sehari-harinya menggunakan kaki palsu untuk beraktivitas.

SHABRINA PARAMACITRA/JAWA

Kegigihan Komunitas Difabel DC2 untuk Berkarya

Tak mudah menjadi penyandang disabilitas di negeri ini. Keterbatasan fisik, proteksi keluarga yang berlebihan, hingga kurang terbukanya akses edukasi dan pekerjaan membuat mereka harus mengeluarkan usaha lebih untuk bisa hidup mandiri.

Shabrina Paramacitra, Malang

Ruang tamu di sebuah rumah di kawasan Sukun, Kota Malang, siang itu (14/7) dipenuhi potongan kain dan manik-manik. Beberapa manekin terpajang memperagakan gaun pesta dan gaun pernikahan yang cantik. Selain untuk menerima tamu, ruangan itu sekaligus menjadi ruang kerja dan ruang pamer hasil karya Sutarno, sang pemilik rumah.

Tarno–sapaan akrab Sutarno– tengah sibuk menggarap pesanan seragam sekolah tetangga. Seragam itu segera dipakai untuk memasuki tahun pelajaran baru. Pria 43 tahun tersebut menerima pengerjaan seragam di sela menggarap gaun pesta. “Pokoknya, yang penting jangan sampai orang yang pesan itu kecewa sama hasil jahitan dan waktu penyelesaiannya,” kata Tarno.

Tangan kanan Tarno yang lumpuh karena tersiram air panas saat kecil tampak selalu menekuk dan sulit bergerak bebas. Namun, tangan kirinya mampu bergerak lincah.

Meski tunadaksa, Tarno dikenal sebagai penjahit profesional. Mulai gaun pesta, baju anak, jas pria, dan lain-lain, semua bisa digarapnya. Ketua Komunitas Difabel Creative Community (DC2) itu juga menyebarkan semangat yang sama kepada rekan-rekannya. Bahwa penyandang disabilitas harus hidup mandiri. Bahwa penyandang disabilitas bisa berkarya.

Kampanye itu selalu diusung Tarno untuk membantu memberdayakan para difabel di Malang. Dari pengalamannya, problem yang dialami difabel bukan hanya keterbatasan akses dan fasilitas di ruang publik. Masalah sering kali bermula dari keluarga penyandang disabilitas itu sendiri.

Orang tua, misalnya, sering memandang anak difabel lemah dan tak berdaya. Akibatnya, anak difabel bagaikan “terpasung” dalam rumah. Tidak boleh keluar ke mana-mana. “Kalau ada orang atau teman yang mengajak penyandang disabilitas keluar, orang tuanya takut anaknya sakit atau jatuh di jalan. Padahal, untuk tunadaksa, latihan gerak itu penting untuk melatih otot,” ungkap Tarno.
Dalam beberapa kasus, kekhawatiran yang berlebihan tersebut berlangsung bertahun-tahun hingga si anak difabel itu dewasa. Akibatnya, selama puluhan tahun, banyak penyandang disabilitas yang hanya berdiam diri di rumah. Fisiknya tidak aktif, seperti orang lunglai.

Hal itu bisa membuat mereka stres. Sama dengan orang nondifabel, kalau mentalnya sudah sangat tertekan, difabel terkadang bisa melukai dirinya sendiri. Misalnya, mencekik leher atau membentur-benturkan kepalanya ke dinding.

Melalui DC2, Tarno berusaha mengajak keluarga difabel untuk yakin bahwa difabel bisa hidup mandiri. “Kalau orang tua difabel itu meninggal, kepada siapa mereka bergantung? Mungkin ada saudara. Tapi, kalau saudaranya itu menikah dan punya kehidupan sendiri, pasti akan beda juga perhatiannya,” ujar ayah satu anak itu.

Penyandang disabilitas membutuhkan dukungan dan kepercayaan dari keluarga. Memberikan pengertian kepada keluarga inilah, menurut Tarno, yang gampang-gampang susah. Untuk itu, anggota DC2 tak cukup hanya memberikan edukasi kepada penyandang disabilitas dan keluarga mereka.

Terkadang, mereka juga bersedia memberikan tumpangan gratis bagi para difabel. Setiap kali ada pertemuan, anggota DC2 yang sudah memiliki SIM D (SIM untuk pengemudi khusus) rela menjemput teman difabel yang lain. Itu dilakukan untuk memudahkan rekan sesama difabel untuk mengikuti pertemuan komunitas. Juga, keluarga difabel itu percaya bahwa anaknya mempunyai teman-teman sesama difabel yang care dan giat beraktivitas.

Dwi Lindawati adalah salah seorang pengurus DC2 yang sering menjemput teman-temannya sesama difabel. Dengan motor roda tiga miliknya, kadang dia mengantar rekan difabel yang lain untuk menghadiri kegiatan komunitas. “Ya, harus berkorban memang,” ungkap penyandang tubuh kerdil (dwarfism) itu.

Linda aktif membina berbagai event yang memberdayakan difabel. Misalnya, fashion show, pentas anak difabel, hingga membina acara Linda Show yang digelar Jawa Pos Radar Malang.

Show berlangsung di mal dengan tujuan memberikan ruang bagi penyandang disabilitas agar berani tampil di depan publik. Linda juga sering menjadi master of ceremony (MC) serta panitia berbagai acara.

Beberapa waktu lalu, DC2 dipercaya mengerjakan pesanan ratusan gelang kain perca dari pengusaha Surabaya. Linda bilang, ada anggota DC2 yang tak hanya tunadaksa, tetapi juga lemah jantung. Penyandang disabilitas itu berusaha sangat keras untuk membuat gelang dari kain perca. “Aku bisa bikin gelang itu 20, dia bisa bikin dua. Gelang bikinan teman aku yang punya riwayat jantung itu sampai basah karena tangannya berkeringat terus. Ya tapi enggak apa-apa kan. Toh, dia akhirnya senang bisa membuat sesuatu,” ungkap Linda.

Linda kini juga bekerja sebagai copyeditor di Jawa Pos Radar Malang. Bukan perkara mudah bagi difabel untuk mendapat pekerjaan. Linda tahu, masih banyak perusahaan maupun tempat kerja formal lain yang belum siap menerima karyawan difabel. “Kasih saja kesempatan, kami akan berusaha membuktikan bahwa kami bisa,” tegasnya.

Aan Susianto, salah seorang anggota DC2, juga berhasil membuktikan bahwa dirinya mampu berkarya di tengah keterbatasan fisik. Tunadaksa itu harus menggunakan kruk karena kaki kanannya panjang sebelah, sedangkan ujung kaki kirinya berbentuk mengecil ke bawah (pengkor).

Pria yang kerap disapa Dodik tersebut memodifikasi motor roda duanya menjadi roda tiga. Motor itulah yang setia mengantarkan Dodik dari rumahnya di kawasan Blimbing ke tempat kerjanya di Kajoe Tangan Woodcraft di Sengkaling, Malang.

Rully Novianto, pemilik Kajoe Tangan Woodcraft, mengapresiasi kinerja Dodik. Menurut dia, Dodik dan dua pekerja difabel lain di tempat usahanya itu sangat profesional. Tak kalah oleh pekerja nondifabel. Meja, kayu, aksesori, lemari, hingga rak sepatu, semua bisa digarap dengan baik.

“Alat di sini bisa mereka kuasai. Kalau untuk kecepatan, ya awalnya memang butuh adaptasi. Tapi, mereka semua produktif,” ujar Rully. (*/c5/ayi/jpg/sam)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!