BI NTT Siap Bersinergi Bangun Klaster Hortikultura – Timor Express

Timor Express

EKONOMI

BI NTT Siap Bersinergi Bangun Klaster Hortikultura

DISKUSI. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Nyoman Ariawan Atmaja (dua dari kiri) saat tampil sebagai salah satu nara sumber dalam diskusi bertajuk ‘Partisipasi Nyata Untuk Kota Kupang Menjadi Smart City’ yang digelar Bank NTT, Jumat (2/8).

TOMMY AQUINODA/TIMEX

Upaya Pengendalian Inflasi di NTT

KUPANG, TIMEX – Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada Juli 2019 kota-kota di NTT mengalami inflasi sebesar 0,21 persen (month to month/mtm), lebih rendah dibandingkan nasional sebesar 0,31 persen. Secara year to date (ytd), inflasi NTT 0,23 persen dan secara year on year (yoy) sebesar 1,76 persen. Pada periode yang sama (Juli 2019), Kota Kupang juga mengalami inflasi sebesar 0,26 persen.

Menurut Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Nyoman Ariawan Atmaja, angka-angka tersebut di atas menunjukan bahwa inflasi di NTT masih sangat terkendali.

“Ini adalah hasil kerja keras dan koordinasi yang baik antara semua stakeholder, baik di Kupang maupun di NTT secara keseluruhan. Pengendalian inflasi tidak akan berhasil, jika kita tidak bekerja sama,” sebut Nyoman dalam diskusi bertajuk ‘Partisipasi Nyata Untuk Kota Kupang Menjadi Smart City’ yang digelar Bank NTT, Jumat (2/8).

Sesuai dengan data yang dirilis BPS NTT, Nyoman mengatakan, kelompok pengeluaran yang paling tinggi menyumbang inflasi pada Juli 2019 adalah kelompok pendidikan. Selain itu, komoditi seperti tomat dan sayur juga turut menyumbang inflasi. Dan secara tahunan, yang paling banyak menyumbang inflasi, yakni sayur, cabai merah, jagung, daging dan telur ayam ras.

“Kita sudah bertemu dengan Pak Gubernur dan Dinas Peternakan. Agar inflasi tetap terkendali, kedepannya mesti dibangun peternakan ayam ras, termasuk industri pembuatan pakan ternak,” katanya.

Nyoman menyebutkan, salah satu upaya pengendalian inflasi yang sudah dikerjakan Bank Indonesia selama ini adalah dengan membangun klaster-klaster Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Misalnya klaster kopi Arabica di Kabupaten Ngada, klaster bawang merah di Noekele, klaster cabai merah di Sumba Barat Daya (SBD) dan klaster-klaster hortikultura lainnya.

“Di beberapa kabupaten di NTT, kami membentuk dan membina klaster-klaster, terutama klaster yang terkait langsung dengan inflasi. Karena ketika inflasi bergerak, maka akan berdampak pada kemampuan belanja (daya beli) masyarakat. Jika inflasi tidak dikendalikan, maka daya beli masyarakat akan berkurang,” jelasnya.

Bank Indonesia, kata Nyoman, memberikan ruang sebesar-besarnya bagi pelaku UMKM termasuk dari kalangan gereja (pengurus dan jemaat) untuk bekerja sama dan bersinergi membangun klaster. Khususnya klaster hortikultura yang erat kaitannya dengan inflasi. Seperti sayur-mayur, jagung manis, cabai merah, bawang merah, dan lain sebagainya.

“Kita bisa manfaatkan milik pemerintah atau milik gereja yang bisa dikerjasamakan untuk membuat klaster. Kami membuka tangan lebar-lebarnya jika ada yang bekerja sama untuk membentuk klaster dalam rangka pengendalian inflasi,” ungkap Nyoman yang baru saja dilantik menjadi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT menggantikan Naek Tigor Sinaga. (tom)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!