Kasus Pencabulan Anak Paling Tinggi – Timor Express

Timor Express

NASIONAL

Kasus Pencabulan Anak Paling Tinggi

Tahun 2019, 140 Kasus Kekerasan Anak di Kota Kupang

KUPANG, TIMEX – Jumlah kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di Kota Kupang sejak Januari 2019 sampai Juli 2019 sebanyak 140 kasus. Data ini sesuai hasil rekap Dinas Sosial Kota Kupang.

Berdasarkan data tersebut, kasus pencabulan anak paling tinggi, yakni 81 kasus. Kemudian kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) 2 kasus, pencurian 6 kasus, penganiayaan 40 kasus, pengeroyokan 8 kasus, penelantaran 2 kasus, dan perdagangan anak 1 kasus.

Menanggapi hal ini, Wali Kota Kupang Jefri Riwu Kore mengaku Kota Kupang merupakan daerah yang menuju Kota Layak Anak. Namun dengan jumlah kasus kekerasan terhadap anak, baik fisik maupun psikis masih banyak, maka sangat memprihatinkan dan butuh penanganan serius. “Perlindungan pertama yang harus didapat oleh setiap anak adalah di rumah atau keluarga, selanjutnya lingkungan. Karena itu para orangtua harus mampu mengawasi anak-anaknya dan memberikan perlindungan kepada anak, juga lingkungan tempat dia bermain,” katanya saat diwawancarai di Balai Kota, Jumat (2/8).

Jefri mengatakan pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan perlindungan terhadap anak dengan membuat semua kelurahan menjadi Kelurahan Ramah Anak. Di dalamnya melibatkan semua unsur, baik masyarakat, tokoh agama maupun tokoh masyarakat dan pemuda. “Pemerintah juga bersama pemimpin gereja, masjid dan rumah ibadah lain terus berupaya agar anak diberi ruang yang cukup untuk mengembangkan bakat dan talentanya,” katanya.

Menurut Wali Kota, anak merupakan generasi penentu masa depan daerah dan bangsa harus diberikan perlindungan mulai sekarang agar ke depan SDM Kota Kupang bisa lebih berkembang dan berdaya saing.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kota Kupang, drg. Retnowati mengatakan pencegahan kekerasan terhadap anak sebenarnya harus dimulai dari keluarga. Menurutnya, ada delapan fungsi keluarga, yakni agama, fungsi perlindungan, yakni bagaimana perlindungan anak dalam keluarga. Jika anak salah apakah disalahkan atau diajarkan dengan cara yang benar agar belajar dan mengerti untuk tidak mengulang lagi.

Selain itu, kata Retno, setiap keluarga memberikan pengayoman kepada anak. Harus ada fungsi cinta kasih dalam keluarga, juga faktor pendidikan, fungsi sosial budaya. “Adapun fungsi keluarga yaitu fungsi reproduksi. Tugas penting keluarga juga adalah memberikan pesan secara baik kepada anak, tentang reproduksinya jadi pembelajaran sistem reproduksi juga penting agar jangan sampai anak mencari informasi yang salah di media internet dan lainnya,” katanya.

Untuk penanganan, kata dia, pemerintah Kota Kupang bekerja sama dengan pihak kepolisian. Juga mendampingi para korban yang merupakan anak-anak, agar anak yang berhadapan dengan masalah, baik sebagai korban, pelaku maupun saksi tidak terganggu psikologinya. “Kita juga bekerja sama dengan semua elemen terkait, baik itu LSM seperti Rumah Perempuan, gereja, masjid dan lainnya,” terangnya.

Dia berharap, dengan begitu berkembangnya teknologi sekarang ini, para orangtua dapat meningkatkan perannya, mengawasi dan mendampingi anak-anaknya agar lebih bijaksana dalam menggunakan teknologi. Jangan sampai disalahgunakan. Sebab, jika salah, maka akan berpengaruh pada masa depan anak sendiri. (mg25/sam)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!