Makin Moncer setelah Daftar Warga Negara Digital Estonia – Timor Express

Timor Express

RAGAM

Makin Moncer setelah Daftar Warga Negara Digital Estonia

PENCIPTA TANIA. Asep Bagja Priandana dan Retno Ika Safitri ditemui di Denpasar.

DEBORA DANISA SITANGGANG/JAWA POS

Pasangan Pengembang Software Pertanian Tania

Di tangan pasangan suami istri ini, bertani menjadi semakin optimal berkat software bernama Tania. Banyak manfaat yang bisa didapat. Mulai mengenali kerusakan tanaman sampai menentukan berapa pupuk yang mesti ditabur. Sayang, penerimaan di dalam negeri belum masif.

DEBORA DANISA SITANGGANG, Denpasar
Retno Ika Safitri dan tanaman. Dua hal itu seperti sudah ditakdirkan untuk terus bersama. Retno mulai berkebun sejak kecil. Ayahnya pegawai di PT Pupuk Kaltim. Rumahnya di Bontang dekat dengan unit percobaan riset milik perusahaan berupa greenhouse. Hampir setiap pekan ayahnya membawa pulang sejumput pupuk. Retno memanfaatkannya. Dia menanam sejumlah benih.

Di waktu senggang atau hari libur, Retno biasa bermain ke greenhouse tersebut. “Dari situ mulai kepikiran, kalau berumah tangga, harus punya lahan besar supaya tetap bisa berkebun,” tutur perempuan 31 tahun tersebut saat ditemui di Denpasar dua pekan lalu.
Keinginan Retno terkabul. Dia punya tanah cukup luas di kediamannya di daerah Sanur. Hobinya berkebun jalan terus. Retno yang punya latar belakang pendidikan teknologi informasi (TI) merasa klop ketika bertemu pria yang kemudian jadi suaminya, Asep Bagja Priandana, 32. Meski berlatar belakang pendidikan akuntansi, Asep juga memiliki passion besar dalam dunia TI.

Lulus kuliah pada 2009, Asep bekerja sebagai web developer. Hanya 1,5 tahun Asep bekerja ikut orang, setelah itu mulai mengembangkan bisnis sendiri. Di antara sejumlah bisnis yang dilakukan bersama istrinya, ada Tania. Yakni, software yang digunakan untuk pertanian. “Kebetulan di rumah nanam kecil-kecilan. Kepikiran bikin software buat kebun kecil kami,” jelas Asep.

Lewat software itu, mereka bisa mencatat jumlah benih dan waktu tanam benih sampai tumbuh. Semua tentang tanaman tersebut bisa dihitung. Dengan penghitungan itu, akan keluar data yang akan menjadi panduan mereka dalam menanam. “Begitu software jadi, kami mikir pasti ada orang lain yang juga butuh, yang punya kasus serupa,” lanjut pria lulusan Universitas Islam Indonesia itu.

Tania dibuat pertama pada 2015. Setahun kemudian, mereka merilis ke publik sebagai open source alias yang infonya bisa dikustomisasi pengguna. Software tu mendapat respons positif. Terutama dari pengguna luar negeri. Sementara itu, software hanya bisa digunakan untuk pertanian skala kecil. “Kalau software lain yang sudah ada (di Eropa) itu untuk pertanian skala gede, yang sudah ratusan hektare,” tutur perempuan lulusan teknik informatika Universitas Dian Nuswantoro, Semarang, itu.

Agar bisa digunakan, software harus dihubungkan dengan sensor yang dipasang di area perkebunan. Memiliki Tania di rumah, Asep dan Retno jadi semacam punya asisten pribadi. Kesukaan traveling membuat mereka sering meninggalkan kebun tanpa pengawasan. “Dengan bikin software, jadi ada semacam asisten yang memantau. Airnya tetap jalan atau nggak, suhu ruangannya berapa,” jelas perempuan kelahiran Semarang itu.

Pengguna lain pun bisa menerapkan hal serupa. Menghubungkan Tania dengan sensor di kebun atau greenhouse. Tapi, pasang sendiri. Coding sambungan ke software juga diatur sendiri. Sistemnya tidak semudah handphone yang tinggal colokin USB. “Banyak yang tanya karena nggak bisa nyambungin. Akhirnya kami kepikiran buat dibisnisin. Kami bantuin, tapi berbayar,” terang Asep.

Versi pertama menggunakan bahasa pemrograman PHP yang sederhana. Penggunanya sekitar 400 orang di seluruh dunia. Karena menyambungkan ke sensor cukup sulit, Retno dan Asep memutar otak. Mereka lantas mengganti bahasa pemrograman ke Go Programming Language alias Golang. Perubahan itu diterapkan pada Tania versi kedua yang rilis Januari 2018. Penggunanya masih lebih sedikit. Namun, operasionalnya lebih lancar. Bisa digunakan untuk skala besar juga.

Perangkat lunak buatan Asep dan Retno itu bisa menjadi senjata baru buat meningkatkan pertanian. Cara kerjanya, software mengambil data mentah dari satelit Sentinel-2 milik European Space Agency (ESA). Satelit itu menangkap citra bumi dan mengirimkan data kondisi tanah. Data tersebut lantas diolah Tania hingga muncul informasi tentang kondisi tanah itu.

Tentu hal tersebut sangat menguntungkan petani. Kalau ada masalah, mereka tahu lahan yang harus ditangani. Selama ini, menurut Retno, banyak petani yang masih salah kaprah. Ada tanaman bermasalah, dikira hama, langsung diberi pestisida. “Padahal, bisa jadi yang sakit cuma sebagian. Kalau dipestisida semua kan justru meracuni,” ujarnya.

Petani juga belum bisa memetakan secara tepat mana tanah yang subur dan tidak. “Kasih pupuk sebanyak-banyaknya saja. Kalau gagal panen, yang disalahkan pupuk,” lanjut Retno. Dengan data dari Tania, petani bisa tahu bagian tanah yang mengandung banyak nitrogen. Kalau sudah banyak nitrogen, tidak perlu terlalu banyak diberi pupuk. Tambahan pupuk difokuskan ke tanah yang kurang nitrogen saja. Jadi, bisa hemat pupuk.

Asep dan Retno bisa mendapat akses data ke satelit Eropa karena perusahaan Tania berbasis di Estonia.
Mengapa Estonia? Menurut Asep, negara itu merupakan surga untuk merintis usaha start-up. “Mereka punya program e-Residency,” jelas Asep.

Program itu memperbolehkan siapa saja mendaftar jadi warga negara digital Estonia. Iseng-iseng tiga tahun lalu mereka daftar setelah mendapat informasi dari teman Retno yang kuliah di sana. “Kami bikin. Dan jadinya cepat. Cuma habis diambil kartunya (tanda kewarganegaraan, Red), terus lupa. Disimpen aja gitu,” tutur Retno.

Setahun berikutnya, Asep dan Retno baru ingat punya e-Residency. Mereka cari info kira-kira kartu itu bisa dipakai apa saja. Jawabannya ketahuan waktu Asep dan Retno mengikuti ajang pameran start-up Web Summit di Portugal. Warga negara digital Estonia bisa membuka booth dengan potongan harga yang lumayan. “Dari harusnya 9.000 euro (sekitar Rp 135 juta) jadi tinggal Rp 9 juta saja,” ungkap Asep.

Software itu sudah diterjemahkan pengguna ke bahasa lain. Di antaranya, Portugal dan Hungaria. Bagaimana dengan petani lokal di Indonesia? Asep dan Retno sempat promosi ke petani lokal di awal terbentuknya bisnis. Tapi, responsnya tidak sebagus pengguna di Eropa dan AS. Namun, keduanya tetap ingin bisa berkontribusi ke pertanian anak negeri. Dalam waktu dekat, mereka bakal menguji coba software yang sudah dikembangkan ke petani di Cirebon. “Ada petani jagung dan bawang yang punya lahan 200 hektare di sana,” terang Asep. (*/c10/ayi/jpg/sam)



Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!